SpaceX Bukan Biang Kerok, Bitcoin Anjlok Karena ETF, Leverage, dan Tekanan Makro

SpaceX memang menjadi pusat perhatian pasar, tetapi penurunan Bitcoin yang tajam tampaknya tidak dimulai dari sana. Data yang muncul justru menunjukkan kombinasi lain yang lebih kuat: arus keluar ETF, likuidasi leverage, dan tekanan makro yang datang bersamaan.

Narasi bahwa investor menjual Bitcoin untuk memburu saham SpaceX terdengar sederhana, namun jadwalnya tidak mendukung. Sebagian besar pelemahan Bitcoin sudah terjadi sebelum saham SpaceX mulai diperdagangkan, sehingga hubungan langsung antara keduanya terlihat lemah.

SpaceX mengajukan IPO pada 20 Mei 2026, dengan rencana menghimpun $75 miliar pada valuasi mendekati $1,8 triliun. Sejak pengajuan itu, Bitcoin turun sekitar 20% dan sempat jatuh di bawah $60.000 pada 5 Juni, level terendah sejak September 2024.

Timing yang Tidak Cocok

Masalah utama dari teori rotasi dana adalah waktu. SpaceX baru dijadwalkan menetapkan harga pada 11 Juni dan mulai diperdagangkan di Nasdaq pada 12 Juni dengan ticker SPCX, sedangkan penurunan terbesar Bitcoin sudah lebih dulu terjadi.

Secara mekanis, investor tidak bisa membiayai pembelian aset yang belum dibuka untuk diperdagangkan. Data arus onchain dan stablecoin juga tidak menunjukkan keluarnya modal kripto secara abnormal untuk mengejar penawaran tersebut selama periode penurunan.

Ada ironi lain yang memperlemah teori itu. SpaceX sendiri memegang Bitcoin dan tercatat duduk di atas sekitar $789 juta keuntungan belum terealisasi pada akhir Mei.

Pemicu Sebenarnya Ada di ETF dan Leverage

Tekanan paling nyata datang dari pasar spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat. Selama 13 sesi berturut-turut hingga 3 Juni, ETF tersebut mencatat arus keluar dan menghapus sekitar $4,4 miliar, yang menjadi rekor terpanjang dalam sejarah.

Ketika dana keluar, penerbit ETF harus menjual Bitcoin di pasar spot untuk menyediakan kas. Tekanan jual semacam ini berlangsung otomatis dan berulang, sehingga efeknya jauh lebih langsung daripada dugaan perpindahan dana ke IPO.

Di saat yang sama, pasar derivatif mengalami pelepasan leverage besar. Antara 2 Juni dan 5 Juni, likuidasi kripto mencapai sekitar $1,6 miliar hingga $1,8 miliar, dengan satu rangkaian memaksa sekitar $394 juta posisi ditutup dalam satu jam.

Sekitar 272.000 trader tersingkir dalam gelombang itu, dan mayoritas posisi yang terhapus adalah posisi bullish. Itu menunjukkan pasar yang terlalu penuh dengan taruhan naik, lalu runtuh karena beban sendiri.

Sinyal Lemah dari Sentimen Sebelumnya

Sentimen juga sudah melemah lebih dulu sehari sebelumnya. Pada 1 Juni, Strategy, pemegang Bitcoin korporat terbesar, mengumumkan penjualan Bitcoin pertamanya sejak 2022.

Jumlahnya kecil dibandingkan total kepemilikannya, tetapi cukup untuk menggoyahkan keyakinan “tidak pernah menjual” yang selama ini menjadi bagian penting dari tesis ritel. Bagi trader yang sudah gelisah, kabar itu menjadi alasan tambahan untuk keluar.

Tekanan Makro Turut Menekan Aset Risiko

Bitcoin juga tidak jatuh sendirian. Pada pekan yang sama, pasar aset berisiko mengalami aksi jual luas setelah laporan pekerjaan Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan memunculkan kembali kekhawatiran bahwa Federal Reserve bisa menaikkan suku bunga, bukan menurunkannya.

Imbal hasil Treasury naik dan aset durasi panjang ikut tertekan. Nasdaq turun 4,2% pada 5 Juni, mencatat penurunan satu hari terburuknya pada 2026, sementara saham-saham chip seperti Nvidia turun sekitar 6% ketika euforia AI ikut goyah.

Faktor geopolitik menambah tekanan. Iran meluncurkan rudal ke Israel pada pekan itu, serangan pertama sejak gencatan senjata April, dan Brent naik mendekati $95 per barel.

Dalam kondisi seperti itu, Bitcoin bergerak seperti aset risiko tinggi, bukan seperti emas digital. Pasar memperlakukannya sebagai posisi spekulatif yang ikut dijual saat sentimen global memburuk.

Ada Benih Kebenaran, tetapi Bukan Pemicu Langsung

Meski begitu, ada sisi yang masih masuk akal dari teori rotasi modal. Selama bertahun-tahun, kripto hampir memonopoli spekulasi berisiko tinggi yang menawarkan potensi imbal hasil besar.

Monopoli itu mulai terkikis oleh IPO besar seperti SpaceX, serta potensi listing OpenAI dan Anthropic, ditambah reli saham-saham AI. Dalam jangka panjang, kompetisi ini memang bisa menarik modal spekulatif dari kripto.

Namun, pergeseran semacam itu berjalan bertahap. Itu tidak cukup untuk menjelaskan koreksi 20% hanya dalam hitungan hari, terutama ketika arus keluar ETF, likuidasi leverage, dan tekanan makro sudah bekerja jauh lebih keras.

Perbedaan itu penting karena menentukan cara membaca pasar ke depan. Jika penyebabnya salah dibaca sebagai “SpaceX menghancurkan Bitcoin”, maka arah pemulihan akan ikut salah dipahami.

Yang lebih relevan untuk dipantau adalah apakah arus ETF mulai stabil dan apakah tekanan makro mereda. Jika itu terjadi, gelombang likuidasi biasanya akan habis dengan sendirinya, sementara pembelian retail atas SPCX baru menjadi cerita tersendiri, bukan penjelasan utama atas jatuhnya Bitcoin.

Terkait