Ancaman di pesisir utara Jawa kini tidak lagi sebatas potensi. Kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut membuat sejumlah wilayah di Pantura menghadapi risiko genangan yang terus membesar.
Kondisi itu menyentuh daerah padat dan strategis seperti Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak. Kajian terbaru menunjukkan kenaikan muka laut di kawasan tersebut berada di kisaran 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun.
Risiko rob dan genangan makin meluas
Para peneliti menilai situasi ini perlu mendapat perhatian serius karena dapat memperluas wilayah terdampak banjir rob. Tanpa mitigasi yang tepat, kawasan pesisir juga terancam kehilangan keberlanjutan fungsinya di masa depan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Agung Syetiawan, menjelaskan pemantauan pesisir dilakukan dengan pendekatan geodesi dan penginderaan jauh. Teknologi yang dipakai mencakup Interferometric Synthetic Aperture Radar atau InSAR, Global Navigation Satellite System atau GNSS, pengamatan terestris, dan pemodelan geospasial multidata.
Data dari GNSS pada Indonesia Continuously Operating Reference Station atau InaCORS juga memperlihatkan deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura. Data itu dipakai untuk memvalidasi hasil pengamatan satelit Synthetic Aperture Radar atau SAR.
Eksploitasi air tanah jadi pemicu utama
Agung menekankan salah satu penyebab utama penurunan permukaan tanah di pesisir adalah eksploitasi air tanah. Kebutuhan air bersih dan aktivitas budidaya seperti tambak udang vaname ikut menambah tekanan pada cadangan air tanah.
Dengan pemodelan sederhana bath up model, sejumlah wilayah pesisir juga berpotensi mengalami genangan permanen bila mitigasi tidak dilakukan secara tepat. Area genangan bahkan dilaporkan sudah meluas di Muara Gembong serta beberapa wilayah pesisir di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.
Agung mengingatkan agar hasil kajian geospasial yang komprehensif dipertimbangkan saat membangun infrastruktur mitigasi seperti giant sea wall. Ia juga menilai kebijakan berbasis data geospasial penting untuk mendukung pembangunan pesisir yang berkelanjutan.
Langkah lain yang dinilai perlu mencakup pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi pembangunan tanggul laut. Pesan yang ia sampaikan menekankan bahwa penghematan air hari ini menjadi bekal kehidupan untuk generasi mendatang.
AHY sudah memberi peringatan
Kondisi Pantura yang genting juga pernah disorot Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. AHY bahkan mengumpulkan pejabat terkait, termasuk Kepala Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa Didit Herdiawan Ashaf, para wakil menteri, perwakilan lembaga, dan kepala daerah.
AHY menyebut Pantura Jawa berada dalam kondisi memprihatinkan karena potensi bencana semakin besar. Ia memaparkan penurunan permukaan tanah di kawasan itu mencapai 15 hingga 20 cm per tahun, sementara permukaan air laut naik 0,8 cm hingga 1,2 cm per tahun akibat pemanasan global.
Menurut AHY, kondisi tersebut membuat banjir rob terus mengintai dan berpotensi menghancurkan properti serta merusak rumah warga. Ia juga memperingatkan bahwa tanpa intervensi serius, penggenangan air laut di Pantura pada 2050 bisa jauh lebih parah.
Ancaman itu tidak berhenti pada banjir rob. Masyarakat pesisir juga mulai menghadapi risiko krisis air bersih, seiring tekanan lingkungan yang terus meningkat di kawasan utara Jawa.
