Nvidia kini menghadapi tekanan besar di China, pasar yang dulu menjadi salah satu sumber pendapatan terpenting bagi raksasa semikonduktor asal Amerika Serikat itu. Pangsa pasar perusahaan yang dipimpin Jensen Huang di negara tersebut disebut sudah merosot hingga efektif nol persen.
Situasi ini membuat Nvidia tidak punya banyak ruang gerak. Meski pemerintahan Donald Trump telah memberi lampu hijau untuk ekspor chip canggih H200 ke China, Beijing belum juga memberikan izin formal, sehingga penjualan chip itu tersendat total selama berbulan-bulan.
Beralih ke chip baru
Di tengah kebuntuan itu, Nvidia disebut mulai aktif mendekati klien-klien besar di China untuk melirik chip baru bernama Vera. Reuters melaporkan, langkah ini menjadi upaya perusahaan untuk menghidupkan kembali bisnis yang merosot tajam di pasar tersebut.
Vera merupakan prosesor mandiri pertama Nvidia yang dirancang untuk teknologi agentic AI, yaitu sistem kecerdasan buatan otonom. Nvidia menyebut chip data center ini punya performa 1,8 kali lebih cepat dibanding kompetitornya.
Perusahaan juga telah memberi tahu klien di China bahwa Vera paling cepat tersedia pada Agustus 2026. Pemesanan sudah dibuka sejak sekarang, menandakan Nvidia ingin mengamankan minat pasar lebih awal di tengah persaingan yang makin ketat.
Minat ada, tetapi hambatan juga besar
Sejumlah sinyal positif memang muncul. Beberapa raksasa teknologi China dikabarkan mulai melirik chip anyar tersebut, dan satu perusahaan cloud besar disebut berencana menguji coba dengan memesan lebih dari 300 server.
Setiap server itu akan menampung dua CPU Vera. Namun, ketertarikan awal ini belum tentu berubah menjadi pembelian dalam skala besar karena Nvidia masih menghadapi sejumlah hambatan serius.
Masalah kompatibilitas software menjadi salah satu kendala utama. Di sisi lain, banyak perusahaan China juga belum tentu mau beralih dari chip AI domestik yang saat ini mereka kembangkan secara agresif.
Harga mahal, target besar
Dari sisi biaya, Vera juga bukan produk murah. Berdasarkan data SemiAnalysis, satu prosesor Vera dibanderol di atas US$ 20.000 atau sekitar Rp 356 juta dengan asumsi kurs Rp 17.838 per dolar AS.
Untuk satu rak penuh berisi 256 chip, nilainya bisa menembus US$ 10 juta atau sekitar Rp 178 miliar. Harga ini membuat upaya penetrasi pasar China menjadi tantangan tersendiri bagi Nvidia, terutama ketika para pelanggan punya banyak opsi lain.
Jensen Huang sebelumnya sempat menyebut Vera sebagai mesin uang baru bernilai miliaran dolar saat meluncurkannya pada Maret. Ia juga mengatakan bahwa raksasa teknologi China seperti Alibaba dan ByteDance berkomitmen penuh untuk mengadopsi teknologi tersebut.
Namun, target pendapatan Nvidia dari chip Vera tetap jauh dari kata aman. Perusahaan membidik pemasukan hingga US$ 20 miliar atau Rp 356 triliun dari penjualan chip itu pada akhir tahun fiskal ini di Januari mendatang.
Hingga kini, Nvidia belum memberi komentar resmi. Alibaba dan ByteDance juga belum merespons permintaan konfirmasi, sementara Beijing masih menahan izin formal untuk chip H200 yang seharusnya bisa membuka kembali akses Nvidia ke pasar China.
