Gaming Makin Tak Terjangkau, Mayoritas Pembaca Menyalahkan Arah Industri Xbox

Author: Qoo Media

Xbox memicu perdebatan baru setelah CEO Asha Sharma mengatakan bahwa “gaming is unaffordable in many cases” dalam sebuah wawancara dengan Entertainment Weekly. Komentar itu muncul di tengah naiknya biaya bermain game, dan respons pembaca memperlihatkan bahwa banyak orang merasa kondisi ini sudah melampaui batas.

Meski pembicaraan utama dalam wawancara tersebut lebih banyak berkisar pada proyek multimedia Microsoft, pernyataan Sharma justru mencuri perhatian karena menyentuh masalah yang kini makin sering dibahas pemain. Bagi banyak pembaca, ucapan itu terdengar seperti pengakuan atas kenyataan yang sudah lama mereka rasakan saat harga game dan perangkat terus naik.

Banyak pembaca menilai harga sudah terlalu tinggi

Dalam jajak pendapat yang dibuat bersamaan dengan laporan itu, 228 pembaca ikut memberikan suara. Sebanyak 151 responden, atau 66%, menilai biaya gaming sudah “out of control.”

Sebanyak 63 pembaca lainnya, setara 28%, mengatakan gaming memang menjadi masalah yang makin besar, tetapi opsi yang masih terjangkau tetap ada. Sisanya berada di kubu yang menilai gaming belum benar-benar mahal secara tidak wajar.

Hasil itu menunjukkan sebagian besar pembaca melihat gaming sebagai hobi yang kini makin sulit dijangkau. Respons tersebut juga sejalan dengan nada komentar di subreddit, yang banyak menyoroti bahwa harga bukan lagi sekadar keluhan kecil.

Tekanan harga datang dari banyak arah

Sharma menilai kelangkaan memori bukan satu-satunya penyebab. Ia juga menyebut “attention economy” dan persaingan langganan di bidang hiburan lain seperti film dan TV ikut membuat banyak orang lebih sulit membeli game dan perangkat gaming.

Di sisi lain, pembaca menilai tekanan terbesar tetap datang dari krisis hardware yang dipicu dorongan besar ke AI di industri teknologi. Harga perangkat keras ikut terdorong naik, sementara biaya pengembangan game juga meningkat dan berimbas pada harga jual game baru.

Contoh yang sering disebut adalah Steam Machine yang harganya disebut berada di atas $1.000 untuk semua versi. Steam Deck juga disebut mengalami kenaikan harga tajam bulan lalu, sehingga menjadi pilihan yang jauh kurang menarik untuk gaming portabel.

Microsoft ikut jadi sasaran kritik

Banyak komentar pembaca justru mengarah ke Microsoft, perusahaan induk Xbox. Mereka menilai perusahaan itu ikut berkontribusi pada masalah melalui dorongan AI dan investasi besar seperti kemitraan dengan OpenAI.

Nada kritik itu juga muncul di beberapa komentar yang menyindir bahwa yang mengatakan gaming makin tidak terjangkau adalah pihak yang turut membuat kondisi itu terjadi. Sebagian pembaca bahkan meminta Sharma menyoroti persoalan itu ke pimpinan Microsoft.

Pandangan tersebut memperkuat anggapan bahwa masalah harga gaming tidak hanya datang dari pasar game itu sendiri. Bagi sebagian komunitas, kebijakan teknologi yang lebih luas ikut membebani industri game, dari sisi hardware hingga biaya ekosistem.

Harga game baru ikut menambah beban

Selain perangkat, harga game baru juga menjadi perhatian. Kenaikan biaya pengembangan disebut ikut mendorong harga jual, dan GTA 6 disebut memiliki harga $80.

Gabungan harga game yang lebih tinggi, perangkat yang semakin mahal, dan tekanan langganan hiburan lain membuat banyak pemain merasa situasinya makin sulit. Itulah sebabnya pernyataan Sharma memicu reaksi besar, karena banyak pembaca menganggap ia hanya mengucapkan sesuatu yang sudah mereka hadapi sehari-hari.

Pada akhirnya, jajak pendapat itu menunjukkan bahwa sebagian besar pembaca setuju dengan inti pernyataan Sharma: gaming memang menjadi lebih mahal bagi banyak orang. Yang masih diperdebatkan adalah seberapa besar tanggung jawab Microsoft dan industri teknologi dalam mendorong kondisi tersebut.

Terbaru