Serbuan produk murah dari China memaksa Uni Eropa bergerak lebih keras. Temu dan Shein, dua layanan e-commerce yang dikenal dengan harga rendah, kini tak lagi bisa leluasa menjual paket murah di kawasan itu.
Otoritas Uni Eropa menetapkan biaya tambahan 3 euro atau sekitar Rp61 ribu per barang untuk paket bernilai di bawah 150 euro atau sekitar Rp3 jutaan. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada Juli 2026 dan menjadi respons atas lonjakan barang e-commerce yang masuk ke pasar Eropa.
Langkah untuk melindungi persaingan usaha
Uni Eropa menyebut bea masuk baru itu diperlukan untuk menjaga daya saing bisnis lokal. Mereka ingin menyamakan perlakuan antara e-commerce dan ritel tradisional yang selama ini dinilai menghadapi aturan berbeda.
Sebelumnya, paket murah tidak dibebankan bea cukai. Kondisi itu membuat arus barang murah dari luar kawasan masuk dengan lebih mudah dan dalam jumlah yang terus meningkat.
Kebijakan baru ini masih bersifat sementara dan hanya menyasar paket dari negara ketiga. Selain itu, Uni Eropa juga menyiapkan penerapan terpisah untuk biaya penanganan paket e-commerce.
Biaya penanganan masih dibahas
Biaya penanganan itu dirancang untuk membantu menutup kenaikan beban kerja otoritas bea cukai. Pengawasan terhadap arus paket yang membanjir membuat biaya operasional mereka ikut naik.
Gagasan soal biaya penanganan sebenarnya sudah muncul lewat proposal pada Juni 2025. Namun, hingga sekarang isi kebijakannya dan tanggal penerapannya masih dinegosiasikan.
Uni Eropa menyebut, sesuai mandat Dewan, biaya penanganan seharusnya mulai berlaku pada November 2026. Meski begitu, keputusan final masih bergantung pada pembahasan antara Dewan dan Parlemen dalam trilog reformasi bea cukai yang sedang berlangsung.
Tekanan terhadap model bisnis paket murah
Aturan baru ini menjadi sinyal bahwa model bisnis paket murah lintas batas menghadapi hambatan yang lebih besar di Eropa. Temu dan Shein selama ini dikenal agresif menawarkan produk terjangkau kepada konsumen.
Dengan bea masuk baru, harga akhir barang murah dari luar Uni Eropa berpotensi terdorong naik. Bagi pelaku ritel lokal, langkah itu dipandang bisa memberi ruang persaingan yang lebih seimbang di tengah masuknya barang e-commerce dalam volume besar.
Pemerintah Uni Eropa belum menutup pintu bagi paket e-commerce dari luar kawasan. Namun, lewat bea masuk dan rencana biaya penanganan, otoritas setempat jelas ingin memperketat kontrol atas arus barang murah yang selama ini mengalir tanpa beban cukai seperti sebelumnya.
Source: www.cnbcindonesia.com






