Tekanan terhadap Strategy, perusahaan milik Michael Saylor yang menjadi pembeli bitcoin terbesar, belum menunjukkan tanda mereda. Saat harga bitcoin terus turun, perusahaan ini justru makin terjepit oleh struktur pendanaan yang dirancang untuk menopang akumulasi aset kripto tersebut.
Masalah utamanya kini bukan hanya pada nilai bitcoin yang melemah. Strategy juga harus menanggung beban dividen tinggi dari saham preferen yang diterbitkan untuk membiayai pembelian bitcoin, sementara kas yang tersedia untuk menjaga kewajiban itu tidak bertambah secepat tekanan pasar.
Beban dividen yang terus membesar
Strategy mulai memakai saham preferen sejak tahun lalu setelah sebelumnya mengandalkan kombinasi utang dan ekuitas. Instrumen ini punya karakter mirip obligasi, tetapi tetap memberi kepemilikan seperti saham dan menawarkan pembayaran dividen besar untuk menarik investor.
Varian paling populer, Stretch atau STRC, menawarkan imbal hasil dividen 11,5%. Total kewajiban dividen tahunan untuk saham preferen Strategy kini telah melonjak empat kali lipat sejak awal 2026 menjadi $1,2 miliar.
Harga jatuh, perlindungan ikut tertekan
Pada perdagangan Kamis, saham Strategy turun ke level terendah dalam lebih dari dua tahun. Penurunan itu mencerminkan pelemahan 46% dalam 30 hari terakhir, sementara saham preferennya yang dirancang bertahan di harga $100 sempat jatuh serendah $74.
Bitcoin juga berada di bawah tekanan. Pada Kamis, harganya sempat turun ke $58.000, sedangkan rata-rata biaya akuisisi bitcoin milik Strategy berada di kisaran $75.000 per koin.
Kas makin tipis, pilihan makin sempit
Strategy sempat menyiapkan lebih dari $1 miliar untuk meyakinkan pasar bahwa perusahaan mampu memenuhi kewajiban dividen kepada pemegang saham preferen. Namun, menurut data yang dilaporkan perusahaan, cadangan kas yang ada kini hanya cukup untuk sekitar 10 bulan kewajiban saham preferen.
CryptoQuant menilai pemulihan harga saham preferen membutuhkan penguatan cadangan kas hingga sekitar $2,8 miliar, atau setara 24 bulan perlindungan. Tanpa langkah itu, tekanan terhadap struktur modal Strategy tetap besar.
Di tengah dua risiko sekaligus
Perusahaan kini berada di posisi sulit karena setiap pilihan membawa biaya. Menerbitkan saham biasa baru bisa menambah kas, tetapi berpotensi mengencerkan kepemilikan pemegang saham lama, sementara menjual bitcoin bisa merusak citra Strategy sebagai pemegang bitcoin jangka panjang.
Jeff Dorman, chief investment officer Arca, menyebut perusahaan itu punya “masalah besar” karena tidak bisa memuaskan semua bagian dari struktur modalnya. Sean Farrell, kepala aset digital di Fundstrat, juga mengatakan Strategy berada dalam situasi yang sempit dan harus menjual sesuatu.
Penjualan bitcoin belum tentu jadi jalan mulus
Jual sebagian bitcoin memang bisa memperkuat kas, tetapi langkah itu membawa risiko reputasi. Arca menilai situasi ini bersifat “self-inflicted” dan menyebut penjualan besar-besaran sebagai cara paling tegas untuk menyelesaikan masalah yang sudah membesar.
Strategy sendiri kini memegang bitcoin yang nilainya sekitar $50 miliar. Namun, ketika perusahaan sempat menjual bitcoin baru-baru ini, langkah itu justru mengguncang kepercayaan terhadap aset kripto tersebut.
Risiko menjalar ke pemegang saham
Farrell dan Dorman sama-sama memperingatkan bahwa masalah yang memburuk dapat memicu gugatan dari pemegang saham. Mereka menilai penggunaan risiko di neraca yang bergantung pada kenaikan harga aset dalam jangka waktu tertentu adalah pendekatan yang rapuh.
Michael Saylor sebelumnya sempat mengatakan dalam wawancara CNBC pada akhir Mei bahwa bitcoin telah mencapai titik bawah di level 60. Tak lama setelah itu, perusahaan mengatakan telah menggunakan sebagian besar cadangan kasnya untuk melunasi utang $1,5 miliar.







