Adam Mosseri, kepala Instagram, menyatakan bahwa era mempercayai gambar begitu saja sudah berakhir. Menurutnya, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat konten visual menjadi semakin realistis, sehingga foto dan video tidak lagi bisa dianggap merekam momen nyata secara otomatis.
Dalam sebuah postingan panjang di Instagram, Mosseri menggunakan 20 gambar untuk mengilustrasikan perubahan dramatis dalam cara kita memandang konten online. Ia menegaskan bahwa kita harus mulai skeptis terhadap apa yang kita lihat dan tidak langsung menganggap sebuah gambar adalah asal kejadian yang sebenarnya.
Perubahan Pola Kepercayaan Terhadap Gambar
Mosseri menuturkan, selama ini manusia secara alami menganggap foto dan video sebagai bukti akurat. Namun, hal ini sedang berubah drastis dengan berkembangnya konten generasi AI yang bisa meniru realitas secara sempurna. Ia memperingatkan bahwa akan butuh waktu bertahun-tahun bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan kondisi baru ini.
Menurut Mosseri, kita harus mulai mengajukan pertanyaan kritis: siapa yang membagikan konten tersebut dan mengapa mereka melakukannya. Ini menjadi penting karena gambar yang selama ini diyakini sebagai fakta kini bisa saja hasil manipulasi AI yang sangat canggih.
Peran Platform Sosial dalam Menghadapi AI
Instagram dan platform lain perlu beradaptasi dengan cepat. Mosseri mengatakan bahwa platform harus menghadirkan alat kreatif yang lebih canggih dan juga memberi label jelas pada konten yang dibuat oleh AI. Langkah verifikasi terhadap foto dan video asli juga menjadi kunci agar pengguna lebih bisa mempercayai konten yang mereka lihat.
Selain itu, platform juga harus menampilkan sinyal yang membantu pengguna menilai siapa yang mengunggah konten tersebut dan apakah sumber itu dapat dipercaya. Mosseri juga menyebut bahwa sistem ranking harus mengutamakan karya orisinal agar kualitas konten tetap terjaga.
Tantangan Menilai Keaslian Gambar di Era AI
Meskipun banyak keluhan mengenai kualitas konten AI yang terkadang kurang sempurna atau mengandung kesalahan, Mosseri mengakui bahwa beberapa hasil kreasi AI memiliki kualitas menakjubkan. Saat ini, foto dengan detail kasar dan ketidaksempurnaan bisa menjadi indikator keaslian.
Namun, Mosseri memperingatkan bahwa kepercayaan itu tidak akan bertahan lama. Ketika AI dapat meniru kesalahan dan ketidaksempurnaan tersebut, maka fokus kepercayaan harus beralih kepada siapa yang menyampaikan informasi, bukan hanya pada gambar atau video itu sendiri.
Tantangan Baru Bagi Fotografi dan Jurnalisme
Percakapan mengenai definisi sebuah foto sebagai bukti nyata bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun, fotografer, jurnalis, dan pembuat konten mempertanyakan keotentikan gambar digital. Kini, dengan kecanggihan AI yang terus meningkat, batas antara gambar asli dan hasil kreasi mulai kabur, menimbulkan tantangan yang lebih besar dalam menentukan apa yang benar-benar nyata.
Teknologi AI memaksa kita untuk mengubah cara pandang terhadap media visual. Kita harus lebih berhati-hati dan kritis dalam menerima sebuah gambar atau video sebagai fakta, serta mengutamakan kredibilitas sumber yang menyajikan konten tersebut.
Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan oleh Pengguna dan Platform
- Meningkatkan kesadaran tentang kemungkinan manipulasi di konten visual.
- Memperhatikan identitas dan rekam jejak pembuat konten sebelum mempercayainya.
- Menggunakan alat verifikasi konten yang disediakan platform media sosial.
- Mengapresiasi karya orisinal dan membedakan dengan konten yang dibuat AI.
- Mendorong pengembangan regulasi dan teknologi pelabelan konten AI secara jelas.
Kesimpulannya, pernyataan Adam Mosseri merefleksikan perubahan fundamental di dunia digital. Dalam era di mana gambar bisa dipalsukan dengan sangat meyakinkan, kita harus mengubah cara berinteraksi dengan media visual. Skeptisisme dan perhatian pada sumber informasi kini menjadi kunci untuk memahami dan mengamankan kebenaran di tengah perkembangan AI yang pesat.
