Dampak Perubahan Kebijakan Industri Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor Terkait

Transformasi kebijakan di sektor industri padat karya mulai menimbulkan dampak nyata terhadap serapan tenaga kerja. Salah satu industri yang merasakan tekanan ini adalah Industri Hasil Tembakau (IHT), di mana regulasi yang ketat berdampak pada produksi dan lapangan kerja.

Kementerian Ketenagakerjaan menegaskan komitmen menjaga stabilitas kerja di tengah dinamika perubahan kebijakan yang berlangsung. Data pada Kuartal I-2025 menunjukan kontraksi sebesar 3,77 persen pada industri pengolahan tembakau secara tahunan.

Dampak Kebijakan Cukai dan Produksi

Produksi rokok turun meskipun penerimaan cukai pemerintah justru meningkat. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan antara pendapatan negara dan kondisi di lapangan. Sektor yang paling terdampak adalah lini yang mengandalkan tenaga kerja manual seperti Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan pengemasan.

Direktur Kelembagaan Kemenaker, C Heru Widianto, menjelaskan bahwa kebijakan seperti Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 menambah tekanan pada industri berorientasi padat karya. Efeknya berantai hingga mengancam keberlangsungan mata pencaharian jutaan pekerja.

Risiko Pemutusan Hubungan Kerja

Wacana penerapan plain packaging atau penyeragaman kemasan rokok berpotensi memperparah kondisi. Forum Pekerja IHT melaporkan estimasi PHK sektor mesin mencapai 20.000 sampai 30.000 pekerja selama Januari-Oktober 2025.

Tidak hanya pabrikan besar, Industri Kecil dan Menengah (IKM), sektor ritel, dan pedagang mikro juga merasakan dampak penurunan tenaga kerja. Contohnya, jumlah pekerja sektor ini menurun dari 323.380 orang (2017) menjadi 246.587 orang (2021).

Upaya Pemerintah Menjaga Tenaga Kerja

Arahan Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya mempertahankan lapangan kerja di sektor padat karya. Pemerintah bersama pemangku kepentingan berupaya menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di masa ketidakpastian global dan nasional.

Kemenaker mendorong koordinasi lintas sektor dan dialog aktif antara pemerintah, pengusaha, serta serikat pekerja. Pendekatan kebijakan yang proporsional diharapkan dapat meminimalkan dampak sosial yang lebih luas dari transformasi industri ini.

Karakteristik Unik Industri Hasil Tembakau

IHT memberi kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja nasional. Total pekerjanya mencapai sekitar 6,1 juta jiwa yang tersebar mulai dari pertanian tembakau, manufaktur, distribusi, hingga ritel.

Peran sektor ini sangat vital bagi perekonomian, terutama di daerah yang bergantung pada industri padat karya. Penyesuaian kebijakan perlu memperhitungkan dampaknya agar tidak merusak ekosistem tenaga kerja yang sudah terbentuk dan mendukung kesejahteraan pekerja.

Kondisi saat ini menuntut pendekatan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada penerimaan negara, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan ekonomi tenaga kerja. Kerja sama dan sinergi antar pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan industri sekaligus melindungi jutaan pekerja yang bergantung pada sektor ini.

Exit mobile version