Setelah mengulas lebih dari 25 kamera terbaru di tahun 2025, sebuah kamera kompak dari Panasonic, Lumix ZS99, menjadi yang paling mengecewakan di antara semuanya. Meski bukan kamera yang sangat buruk secara teknis, banyak aspek penting yang membuat ZS99 ini tampak seperti mundur dibanding pendahulunya, bukannya mengalami kemajuan signifikan.
Lumix ZS99 sebenarnya bukan produk baru melainkan pembaruan kecil dari model berusia enam tahun lalu, dengan satu pembaruan besar yaitu fitur pengisian daya USB-C. Sayangnya, Panasonic malah menghilangkan electronic viewfinder yang sebelumnya ada pada model lama, langkah yang dianggap sebagai kemunduran dari segi fungsi. Dari sisi spesifikasi, kamera ini memiliki zoom optik 30x dan layar flip-up yang cukup menarik untuk kamera point-and-shoot.
Keterbatasan Teknis dan Pengembangan yang Minim
Lumix ZS99 masih menggunakan banyak teknologi lama yang diperkenalkan pada versi ZS80/TZ95 yang dirilis pada 2019. Berbeda dengan tren perkembangan kamera yang biasanya menghadirkan fitur baru atau peningkatan performa, Lumix ZS99 lebih terasa sebagai pengulangan produk lama dengan sedikit pembaruan fungsional. Hilangnya electronic viewfinder juga menimbulkan kritik karena mengurangi kemudahan penggunaan terutama di luar ruangan.
Sementara brand lain seperti Canon malah berani menghadirkan inovasi pada produk point-and-shoot mereka, seperti PowerShot V1 yang dikenal unggul untuk keperluan vlogging dengan sensor baru dan sistem autofokus terbaik di kelas kamera kompak Canon. Hal ini menunjukkan Panasonic seolah mengabaikan potensi pasar point-and-shoot yang tengah mengalami perubahan kebutuhan, khususnya untuk para pengguna yang mencari kamera ringkas namun berkualitas.
Mengapa Panasonic Terlihat Mengabaikan Segmen Point-and-Shoot
Sejak pengembangan Lumix ZS80/TZ95, Panasonic lebih banyak mengalihkan fokus ke kamera hybrid full-frame dan Micro Four Thirds, seperti Lumix S1 II dan GH7 yang memang unggul di bidang video dan fotografi profesional. Investasi besar pada segmen ini membuat teknologi terbaru jarang diterapkan pada kamera kompak yang ramah di kantong.
Padahal, kamera travel zoom atau point-and-shoot seperti Lumix ZS99 memiliki potensi besar karena memberikan alternatif praktis dibanding smartphone bagi pengguna yang menginginkan zoom optik jauh dan kualitas foto yang bisa diandalkan. Namun, strategi Panasonic mengedepankan kamera kelas profesional menyebabkan kamera kompak mereka minim perkembangan.
Perbandingan dengan Kompetitor dan Peluang Pasar
Dari segi harga, Lumix ZS99 memang termasuk murah dengan kisaran yang tidak tersaingi oleh banyak produk lain dari merek-merek besar. Namun, kualitas foto dan fitur yang dibawa kerap tertinggal dari kamera smartphone kelas atas sekalipun. Kamera ini memang tetap masuk dalam panduan “best point-and-shoot cameras” karena menawarkan opsi zoom besar yang langka di kelas harga tersebut.
Sebaliknya, Canon menunjukkan pergerakan yang lebih dinamis di segmen ini. PowerShot V1 menawarkan peningkatan sensor baru, autofokus yang lebih cepat, dan kemampuan unik untuk para vlogger. Hal ini menandakan masih adanya ruang untuk inovasi di pasar point-and-shoot yang sebenarnya cukup menjanjikan bila dikelola dengan fokus.
Daftar Faktor Penyebab Lumix ZS99 Terasa Mengecewakan
- Pembaruan minimal hanya penambahan USB-C charging.
- Penghilangan electronic viewfinder dari model sebelumnya.
- Tidak ada peningkatan sensor atau sistem autofokus.
- Teknologi kamera masih mengandalkan basis model 6 tahun lalu.
- Kompetitor menawarkan fitur lebih modern dan relevan untuk kebutuhan saat ini.
- Kurangnya inovasi dari Panasonic untuk segmen compact/point-and-shoot.
Pada akhirnya, meski Lumix ZS99 diposisikan sebagai kamera travel zoom yang terjangkau, pembaruan yang minim dan langkah mundur pada beberapa fitur mengurangi daya tariknya. Hal ini menjadi refleksi bahwa segmentasi kamera point-and-shoot sulit mendapat perhatian serius dari pemain utama industri, yang lebih condong mengembangkan kamera kelas menengah atas dan profesional. Jika Panasonic ingin kembali mempertahankan posisi di pasar ini, diperlukan inovasi dan pengembangan produk yang signifikan, bukan sekadar revisi ringan dari produk lama.
