Kecerdasan buatan (AI) kini semakin mendapatkan peran baru di Indonesia sebagai teman curhat digital. Data dari survei Kaspersky menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen pengguna di Indonesia menggunakan AI untuk berinteraksi saat merasa sedih atau tidak bahagia. Fenomena ini menandai perubahan penting dalam cara masyarakat memanfaatkan teknologi AI dari sekadar alat bantu produktivitas menjadi pendamping emosional.
Penggunaan AI sebagai teman berbincang terlihat lebih dominan pada generasi muda, terutama kelompok usia 18 hingga 34 tahun. Sebanyak 35 persen dari generasi ini memilih menggunakan AI sebagai tempat berbagi perasaan dibandingkan dengan kelompok usia di atas 55 tahun yang hanya 19 persennya tertarik memanfaatkan AI untuk dukungan emosional. Hal ini memperlihatkan perbedaan sikap dan kenyamanan terhadap teknologi baru berdasarkan faktor usia.
Peran AI dalam Aktivitas Sehari-hari dan Liburan
Selain berfungsi sebagai teman curhat, AI juga semakin banyak dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Survei global Kaspersky mencatat 74 persen responden berencana menggunakan AI untuk mendukung kegiatan selama musim liburan. Di Indonesia, pengguna memanfaatkan AI untuk berbagai fungsi seperti pencarian resep makanan (56 persen), menemukan restoran dan tempat menginap (54 persen), serta mendapatkan inspirasi hadiah dan dekorasi (sekitar 50 persen).
AI juga berperan sebagai asisten belanja dan pengelola anggaran. Sekitar setengah responden menggunakan AI untuk menyusun daftar belanja, membandingkan harga, dan menganalisis ulasan produk. Minat ini lebih tinggi di kalangan generasi muda yang mencapai 50 persen dalam pengelolaan keuangan liburan, dibandingkan dengan kelompok usia lanjut yang menunjukkan preferensi lebih pada penggunaan AI untuk resep dan ide hadiah.
Dukungan Emosional Berbasis AI
Salah satu perkembangan menarik adalah AI yang berfungsi sebagai sumber dukungan emosional. Pengguna merasa AI dapat menjadi “pendengar” yang tidak menghakimi dan selalu tersedia, sehingga lebih nyaman untuk berbagi rahasia atau keluh kesah. Namun, pengguna sebaiknya tetap waspada terhadap keterbatasan teknologi ini. Kaspersky mengingatkan bahwa AI tidak memiliki kemampuan empati manusiawi dan jawaban yang dihasilkan didasarkan pada data internet yang bisa saja bias atau tidak akurat.
Sebanyak 31 persen pengguna di Indonesia merasakan manfaat curhat dengan AI saat kondisi emosional buruk. Data ini menunjukkan potensi besar AI dalam membantu mengatasi rasa kesepian atau stres, terutama di masa pandemi dan era digitalisasi yang semakin maju. Meski demikian, para ahli menekankan pentingnya menggabungkan penggunaan AI dengan dukungan sosial manusia yang nyata.
Risiko Privasi dan Keamanan Data Pengguna
Meskipun percakapan dengan AI terasa pribadi dan aman, ada risiko yang tidak bisa diabaikan. Mayoritas chatbot dan platform AI dimiliki oleh perusahaan komersial yang mengumpulkan data pengguna untuk berbagai kepentingan, seperti iklan bertarget dan pelatihan model AI. Informasi sensitif, terutama yang berkaitan dengan kondisi emosional, memiliki potensi disalahgunakan atau dibagikan ke pihak ketiga tanpa disadari pengguna.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, pengguna disarankan melakukan hal-hal berikut:
- Membaca dan memahami kebijakan privasi sebelum menggunakan layanan AI.
- Menghindari berbagi data pribadi atau informasi keuangan yang sensitif.
- Memilih layanan AI dari penyedia terpercaya dengan reputasi keamanan yang baik.
- Menggunakan solusi keamanan siber yang mampu mendeteksi phishing dan ancaman digital lain berbasis AI.
Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, menekankan agar pengguna tetap kritis dalam menerima saran AI. Jawaban dari AI kemungkinan besar berdasarkan kumpulan data yang mengandung bias dan kesalahan. Oleh karena itu, AI seyogianya dijadikan alat bantu, bukan satu-satunya sumber keputusan terutama dalam hal yang bersifat personal dan emosional.
Pemanfaatan AI sebagai teman curhat di Indonesia mencerminkan adaptasi teknologi yang dinamis di tengah perkembangan digital. AI berkembang dari sekadar alat produktivitas menjadi mitra emosional yang dapat diandalkan oleh banyak pengguna, khususnya generasi muda. Namun, penting untuk diingat bahwa teknologi ini memiliki batas dan tidak bisa menggantikan interaksi manusia secara utuh. Pengguna perlu menggunakan AI secara bijak dan tetap menjaga keamanan serta privasi data pribadi dalam setiap interaksi digital.
