Gelombang hype tentang kecerdasan buatan (AI) di industri teknologi menunjukkan tanda-tanda melambat. Dalam gelaran CES mendatang, Dell mengambil langkah mengejutkan dengan hampir tidak menyinggung AI dalam materi pemasaran untuk produk-produk terbarunya.
Perangkat terbaru Dell seperti XPS 14, XPS 16, dan Alienware 16 Area-51 sebenarnya menggunakan chip dengan kemampuan AI yang tinggi. Produsen lain justru gencar mempromosikan kecanggihan AI pada chip serupa. Namun, strategi Dell berbeda total: hanya satu kalimat yang menyebut AI, itupun di bagian akhir pers rilis.
Langkah Mundur dari Narasi AI
Kevin Terwilliger, Kepala Produk Dell, menegaskan alasan di balik strategi ini. Ia menyatakan perusahaan sangat serius dengan fitur AI, bahkan semua perangkat yang diumumkan telah dibekali NPU. Namun, hasil pengamatan sepanjang tahun menunjukkan mayoritas konsumen tidak membeli perangkat karena faktor AI.
Menurutnya, justru promosi berlebihan tentang AI membuat konsumen semakin bingung mengenai manfaat riil yang didapat. Dell akhirnya memilih pendekatan yang lebih “senyap” pada pemasaran AI lewat produk barunya.
AI Masih Sulit Diakses Konsumen
Banyak aplikasi AI lokal untuk generasi teks, gambar, atau video, masih cukup sulit dimanfaatkan oleh pengguna awam. Fitur-fitur AI yang diinstal langsung di laptop, baik dari produsen maupun Microsoft, juga belum memberikan nilai tambah signifikan dibandingkan aplikasi konvensional.
Kasus LG Gram 17 tahun lalu menjadi contoh, di mana fitur deteksi kehadiran yang sebenarnya sudah ada kini dipromosikan sebagai fitur AI pada model berikutnya. Tren serupa ditemukan pada produsen lain seperti Acer, Asus, hingga Dell sendiri, dengan membalut perangkat lunak biasa menjadi fitur berbasis AI.
Efisiensi Berkat NPU, Namun Nilai Jualnya Lemah
Meskipun fitur-fitur ini kini berjalan di atas NPU yang terintegrasi pada prosesor Intel dan AMD terbaru, sehingga lebih hemat daya, tetap saja penawaran nilainya untuk konsumen masih diragukan. Fungsi yang diberikan umumnya belum terlepas dari kategori eksperimental, sehingga belum mendorong konsumen untuk bergantung pada fitur tersebut saat memutuskan membeli perangkat baru.
Berikut sejumlah alasan utama Dell serta produsen laptop lain mulai mengurangi porsi promosi AI pada perangkat konsumer:
- Fitur AI dinilai membingungkan konsumen
- Aplikasi AI lokal masih sulit diakses dan kurang praktis
- Nilai tambah dibanding fitur konvensional belum terasa signifikan
- Teknologi NPU memang membuat aplikasi AI lebih efisien, namun tidak cukup kuat menjadi daya tarik utama
- Beberapa fitur “AI” sejatinya hanya rebranding dari software lama
Fenomena Copilot dan Keterbatasan Nilai Praktis
Salah satu fitur yang dikedepankan Microsoft saat ini adalah Copilot+. Namun, pada kenyataannya, Copilot belum bisa digunakan offline. Hal serupa terjadi pada Gemini, ChatGPT, maupun Grok. Ketiadaan kemampuan offline dinilai menurunkan nilai praktis AI pada perangkat konsumer, sebab rata-rata pengguna masih berfokus pada fungsi tradisional yang berjalan stabil tanpa tambahan konektivitas.
Produsen kini cenderung lebih berhati-hati memilih pendekatan pemasaran, seiring dengan turunnya minat konsumen terhadap janji-janji AI yang belum benar-benar menyentuh kebutuhan riil sehari-hari. Apalagi, banyak fitur yang digadang-gadang berbasis AI ternyata hanya polesan nama belakang dari fungsi yang sudah dikenal lama oleh konsumen.
Fokus Dell pada manfaat nyata perangkat, bukan sekadar jargon AI, menjadi sinyal pelurusan narasi teknologi yang lebih membumi. Bagi konsumen, perkembangan ini diharapkan mendorong produsen untuk menyajikan inovasi yang benar-benar relevan, sekaligus memperjelas fitur mana yang memang memberi dampak signifikan di kehidupan nyata.
Industri kini bergerak untuk membedakan antara hype teknologi dan kebutuhan fundamental pengguna, terutama dalam adopsi AI pada perangkat komputasi konsumer. Strategi baru ini menjadi langkah adaptasi penting di tengah meredupnya euforia pemasaran AI dalam dunia laptop dan komputer pribadi.
