Eks Bos Elder Scrolls Online Ungkap Alasan Mundur Gara-Gara PHK Massal Microsoft 2026

Pergolakan besar yang terjadi di industri game global kembali menjadi perbincangan setelah pengunduran diri Matt Firor dari ZeniMax Online Studios. Firor adalah sosok kunci dan mantan kepala Elder Scrolls Online, yang secara terbuka mengungkapkan alasan kepergiannya setelah hampir dua dekade membangun studio tersebut. Keputusan ini muncul tidak lama setelah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang dilakukan Microsoft, dan berdampak signifikan pada berbagai proyek dan tim di bawah naungan Xbox.

Microsoft melakukan PHK terhadap sekitar 9.000 karyawan pada awal Juli, menyasar banyak posisi di divisi Xbox sebagai bagian dari restrukturisasi besar perusahaan. Kebijakan tersebut memicu penutupan beberapa studio serta pembatalan sejumlah proyek ambisius, termasuk reboot dari Perfect Dark, pembatalan proyek Everwild dari Rare, dan penghentian MMO rahasia di ZeniMax yang dikenal dengan nama sandi Blackbird.

Proyek Blackbird, Ambisi yang Gagal Terwujud

Project Blackbird disebut Firor sebagai game impian yang ia harapkan sepanjang kariernya. Dalam pernyataan yang dibagikan melalui LinkedIn, Firor menulis, “Project Blackbird adalah game yang saya tunggu sepanjang karier dan pembatalannya membuat saya memilih resign.” Pernyataan ini menegaskan betapa besar harapan, visi, dan dedikasi Firor terhadap pengembangan game tersebut.

Tidak hanya kehilangan proyek besar, Firor juga menyatakan keprihatinannya terhadap rekan-rekan satu tim yang terdampak, banyak di antaranya merupakan kolega yang telah berkarya bersama selama dua dekade. Ia mengaku bahwa para pengembang di timnya adalah “kelompok paling berdedikasi dan bertalenta di industri ini.” Firor menegaskan dirinya tidak terlibat langsung dalam upaya lanjutan tim-tim eks-ZeniMax, seperti Sackbird Studios—studio baru yang didirikan oleh alumni Elder Scrolls Online dan Blackbird. Namun, ia terlibat sebagai penasihat informal dan mendorong optimisme atas masa depan mereka.

Dampak PHK Massal Microsoft pada Dunia Game

Perombakan besar-besaran oleh Microsoft bukan hanya memutus ribuan karier, namun juga menghapus sejumlah harapan para gamer atas proyek-proyek yang dijanjikan. Pemutusan hubungan kerja ini terjadi di tengah pernyataan bombastis kepala Xbox, Phil Spencer, yang menyebut bisnis game perusahaan “tidak pernah terlihat sekuat ini”. Ironisnya, bersamaan dengan pernyataan itu, banyak proyek kreatif dan talenta harus berakhir, menimbulkan sentimen negatif secara luas.

Adapun beberapa efek nyata dari PHK tersebut mencakup:

  1. Penutupan studio pengembang reboot Perfect Dark.
  2. Proyek Everwild dari Rare dibatalkan.
  3. Pembatalan MMO Blackbird milik ZeniMax Online Studios.
  4. Pemangkasan besar-besaran di berbagai tim pengembang game Xbox.

Atmosfer kerja di ZeniMax setelah PHK pun menurun drastis. Jo Burba, yang kini memimpin ZeniMax, memastikan Elder Scrolls Online akan terus berlanjut. Namun, komentar dari senior QA, Autumn Mitchell, menyebut situasi studio pasca-PHK bak “tinggal bangkai pekerja”, serta mengkritik hilangnya semangat kolaborasi dan budaya kerja yang dulu sangat positif.

Masa Depan Matt Firor dan Ekosistem ZeniMax

Sampai saat ini, Firor mengaku belum menetapkan rencana besar berikutnya dalam dunia pengembangan game. Ia lebih fokus menjadi penasihat dan investor bagi startup serta tim-tim kecil. Firor belum mempertimbangkan dengan serius untuk mendirikan studio pengembangan baru, tetapi terus memberikan dukungan informal untuk para mantan koleganya.

Kondisi di ZeniMax kini menjadi refleksi tantangan industri, di mana keputusan korporasi berdampak luas baik pada talenta, budaya tim, maupun harapan komunitas gamer. Peristiwa ini mencerminkan betapa rentannya pengembangan game AAA terhadap keputusan bisnis dari perusahaan induk besar seperti Microsoft, terutama ketika orientasi bisnis tidak selalu sejalan dengan aspirasi kreatif para pengembang yang telah membaktikan karier mereka dalam industri game global.

Exit mobile version