Rumor tentang kemunculan Nvidia RTX 5080 dengan kapasitas VRAM 32GB kembali menguat, memicu pertanyaan besar di kalangan penggemar teknologi. Banyak pihak menyebut bahwa varian kartu grafis ini awalnya direncanakan untuk layanan cloud, khususnya platform seperti GeForce Now, namun realisasinya menghadapi banyak hambatan akibat krisis RAM yang sedang berlangsung secara global.
Beberapa sumber menyampaikan bahwa BIOS dari RTX 5080 32GB bocor ke pasar konsumen setelah sebelumnya dipersiapkan hanya untuk penggunaan cloud. Namun, hingga kini model tersebut belum siap diproduksi massal karena BIOS-nya belum disahkan secara resmi, sehingga GPU ini tidak bisa berjalan normal pada perangkat PC biasa.
Rumor Spesifikasi dan Potensi Nvidia RTX 5080 32GB
Sumber terdekat dari pabrikasi hardware di Tiongkok mengklaim bahwa sudah terdapat model Blackwell GPU 32GB yang beredar secara terbatas, tetapi produk tersebut masih belum tersedia secara komersial. RTX 5080 32GB sendiri digadang-gadang hanya akan digunakan di ranah cloud, sementara untuk konsumen umum sangat kecil kemungkinan dirilis dalam waktu dekat.
Kondisi ini diperparah oleh adanya krisis pasokan RAM global, baik DRAM maupun VRAM, yang menyebabkan harga memori melonjak tajam. Nvidia dan produsen GPU lain seperti AMD disebut-sebut mulai mengurangi produksi lini kartu grafis entry level untuk menekan biaya produksi yang semakin tinggi.
Faktor Penghambat Peluncuran GPU dengan Kapasitas VRAM Besar
- Kenaikan permintaan industri AI dan cloud menyebabkan pasokan RAM tersedot ke sektor korporasi.
- Harga VRAM melonjak sehingga biaya produksi GPU berkapasitas tinggi ikut terdongkrak.
- BIOS GPU yang bocor ke pasar konsumen membuat Nvidia berhati-hati dalam mengambil keputusan strategis.
- Fokus utama Nvidia saat ini bergeser ke bidang kecerdasan buatan (AI) dan away dari sektor PC gaming.
Fakta di pasar Tiongkok mengungkapkan sudah banyak model-modifikasi RTX 4080 dengan VRAM 32GB, sehingga secara teknis produksi RTX seri 5000 dengan VRAM besar bukan hal mustahil. Namun dalam kondisi pasar yang tidak stabil, Nvidia dinilai akan sangat selektif melepas GPU high-end untuk konsumen umum.
Dampak Krisis RAM terhadap Industri GPU
Permintaan akan RAM untuk kebutuhan cloud dan AI menyebabkan harga memory chip naik signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Laporan dari TechRadar menyebutkan kartu grafis premium seperti Nvidia RTX 5090 mengalami lonjakan harga di berbagai retailer dan bahkan muncul rumor harga bisa menembus angka $5.000 per unit.
Situasi ini memperlihatkan tren kurang bersahabat bagi para gamer PC. Nvidia sendiri kian fokus mengembangkan solusi AI, sehingga prioritas pada GPU untuk gaming diprediksi menurun. Hal ini turut diperparah dengan prediksi berkurangnya lini kartu grafis harga terjangkau, baik dari Nvidia maupun AMD, sebagai kompensasi atas tingginya harga komponen.
Pandangan Industri: Pembaruan Seri RTX 5000 Sulit Terwujud
Meski muncul spekulasi akan rencana refresh GPU seri RTX 5000 dengan kapasitas VRAM yang lebih besar, sejumlah analis industri meyakini langkah tersebut hampir mustahil diwujudkan dalam waktu singkat. Krisis RAM, potensi pembocoran BIOS ke pasar konsumen, serta kenaikan biaya produksi menjadi penghambat utama.
Kehadiran event besar seperti CES disebut belum cukup menjadi alasan Nvidia untuk merilis produk baru di kelas konsumen, terutama di tengah ketidakpastian suplai VRAM global. Dengan tren harga yang terus meroket dan prioritas perusahaan yang bergeser ke solusi AI, masa depan GPU gaming high-end dengan VRAM jumbo dinilai tidak cerah dalam waktu dekat.
Pengamat pasar merekomendasikan konsumen untuk lebih kritis dan waspada terhadap rumor peluncuran GPU berkapasitas besar. Situasi pasokan memori global yang belum stabil tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan rilis hardware terbaru, khususnya dari pemain besar seperti Nvidia.
