Peluncuran MMORPG free-to-play berjudul Dreadmyst di Steam menarik perhatian komunitas gamer. Hanya dalam waktu singkat setelah perilisan, jumlah pemain puncak mencapai 5.915 orang secara bersamaan.
Angka ini terbilang impresif untuk game indie yang sebelumnya tidak terlalu banyak disorot. Statistik review di Steam juga menunjukkan 74% ulasan positif, dengan kategori “Mostly Positive” dari ratusan pemain pertama.
Konsep Tanpa Monetisasi dan Desain Mesin Kustom
Dreadmyst hadir sebagai MMORPG isometris dengan mekanik tab-target. Game ini dibangun menggunakan engine khusus berbasis C++ dan OpenGL agar bisa berjalan di hampir semua perangkat, bahkan di PC tanpa kartu grafis khusus.
Empat kelas utama tersedia, yaitu Paladin, Mage, Ranger, dan Cleric. Setiap kelas menawarkan peran klasik trinity: tank, healer, dan DPS, menempatkan kerja sama tim dalam dungeon berbasis 4 pemain sebagai inti gameplay. Arena PvP 1v1 dan 2v2 juga tersedia bagi yang ingin menantang duel antar pemain secara langsung.
Pengembang memilih model “non-profit”, tanpa toko dalam game, tanpa konten berbayar, dan tanpa monetisasi apa pun saat ini. Seluruh konten bisa diakses gratis dan menjadi daya tarik utama bagi pemain yang lelah dengan model mikrotransaksi.
Daftar Kelebihan Dreadmyst menurut ulasan awal:
- Kinerja ringan, bahkan di perangkat lawas.
- Kontrol responsif dan sistem pertarungan yang solid.
- Bebas dari model pay-to-win.
- Komunitas mulai berkembang sejak peluncuran.
Kontroversi Seputar Peluncuran dan Pengembang
Di balik kemeriahan peluncuran, muncul beberapa isu serius yang menimbulkan kekhawatiran. Diskusi di komunitas MMORPG Reddit menyorot ketiadaan Terms of Service (ToS) dan Privacy Policy, baik di situs resmi maupun klien Steam.
Padahal, pendaftaran akun pihak ketiga diwajibkan untuk bermain. Tidak adanya perlindungan data pengguna dan aturan hukum jelas memicu protes, terutama dalam konteks game global yang mengumpulkan data pribadi pemain.
Selain itu, pengembang Dreadmyst, Xjum, diidentifikasi komunitas sebagai Gummy52, sosok di balik server private World of Warcraft “Felmyst” yang pernah mendadak ditutup sepihak di masa lalu. Jejak digital ini membangun rasa skeptis terhadap komitmen jangka panjang game tersebut.
Kontroversi lain mencuat terkait dugaan penggunaan aset curian. Pemain menemukan skill icon dan efek suara diambil langsung dari game MMO Aion rilisan 2008. Tuduhan ini menjadi perbincangan hangat, meski pihak pengembang belum memberikan klarifikasi resmi.
Komunitas Merespons dengan Hati-hati
Diskursus di berbagai forum memunculkan tuduhan botting alias penggunaan akun palsu untuk menjaga sentimen positif di platform diskusi. Langkah ini, jika benar, jelas melanggar etika dan makin merusak kepercayaan pemain.
Meski dibayang-bayangi isu, secara teknis Dreadmyst dinilai stabil dan minim bug setelah hotfix cepat untuk server dan kontrol input di hari pertama peluncuran. Pemain yang mampu melihat terpisah antara game dan rekam jejak pengembang menilai Dreadmyst sebagai alternatif klasik WoW bernuansa 16-bit yang diracik apik oleh satu developer independen.
Tantangan Legalitas dan Pembaruan Konten
Faktor legalitas dan reputasi developer kini jadi penentu kelangsungan masa depan Dreadmyst. Komunitas berharap perubahan besar terjadi lewat update konten yang dijadwalkan pada pertengahan Januari.
Pengawasan terhadap aspek dokumen hukum, keaslian aset, dan transparansi developer menjadi penentu apakah Dreadmyst bisa bertahan di antara persaingan MMORPG lain. Sementara itu, pemain tetap memantau perkembangan game ini sebelum sepenuhnya jatuh hati atau memutuskan meninggalkannya di awal rilis.
