8 Prediksi Kaspersky: Dampak AI pada Ancaman Siber dan Strategi Perlindungan Efektif

Kawasan Asia Pasifik menunjukkan adopsi AI yang sangat pesat, dengan 78 persen profesional di wilayah ini menggunakan AI setidaknya setiap minggu. Fenomena ini didukung oleh konsumen yang sangat terkoneksi, penetrasi perangkat digital yang masif, serta populasi muda yang melek teknologi.

Penerapan AI tidak hanya meningkatkan produktivitas di berbagai bidang, tetapi juga meredefinisi cara ancaman siber berkembang dan menyebar. Perusahaan dan pengguna individu harus memahami risiko dan peluang yang muncul dari penggunaan AI dalam konteks keamanan siber.

1. Deepfake Menjadi Ancaman Utama
Deepfake kini menjadi teknologi arus utama yang semakin tersebar luas. Perusahaan secara aktif melatih karyawan untuk mengenali dan mengurangi risiko dari konten sintetis ini.

Dengan volume deepfake yang meningkat dan formatnya semakin beragam, kesadaran akan ancaman ini juga tumbuh di kalangan pengguna dan organisasi. Hal ini menjadikan deepfake sebagai aspek penting dalam kebijakan keamanan internal.

2. Kualitas Deepfake Meningkat Pesat
Kualitas deepfake visual sudah tergolong tinggi, sementara kemajuan audio realistis diperkirakan akan semakin berkembang. Alat pembuatan deepfake kini mudah diakses bahkan oleh pengguna non-ahli.

Kemudahan ini menurunkan hambatan teknis dan meningkatkan risiko penyalahgunaan oleh pelaku kejahatan siber. Hal ini mengindikasikan ancaman yang semakin kompleks dan tersebar luas.

3. Inisiatif Pelabelan Konten AI Terus Berkembang
Sampai saat ini belum ada standar global yang andal untuk mengidentifikasi konten buatan AI. Label konten yang ada mudah diabaikan atau dihapus, terutama untuk model sumber terbuka.

Upaya regulasi dan teknologi baru diperkirakan akan muncul guna mengatasi kesulitan tersebut, menandai langkah penting dalam melawan penyebaran konten palsu.

4. Deepfake Real-Time untuk Pengguna Tingkat Lanjut
Teknologi pertukaran wajah dan suara real-time makin canggih, namun masih memerlukan keterampilan teknis khusus. Penggunaan secara luas belum umum, namun ancaman dalam serangan terarah akan meningkat.

Manipulasi video melalui kamera virtual membuat serangan ini lebih meyakinkan dan sulit dideteksi. Ini menambah kompleksitas perlindungan siber bagi organisasi dan individu.

5. Model AI Sumber Terbuka Mendekati Model Tertutup
Model AI sumber terbuka berkembang pesat dan kini mampu menjalankan banyak fungsi keamanan siber seperti model tertutup. Namun, tanpa batasan yang ketat, potensi penyalahgunaannya lebih besar.

Perbedaan antara model berpemilik dan sumber terbuka semakin kabur, yang berisiko dalam konteks keamanan dan penegakan hukum.

6. Garis Batas Antara Konten Asli dan Palsu Semakin Kabur
AI sudah dapat menghasilkan email phishing, identitas visual, dan website palsu dengan kualitas sangat tinggi. Perusahaan besar pun mulai menggunakan konten sintetis untuk tujuan iklan.

Kesulitan membedakan konten asli dan palsu berdampak pada efektivitas sistem deteksi otomatis dan kewaspadaan pengguna.

7. AI sebagai Alat Multi-Tahap dalam Serangan Siber
Pelaku ancaman memanfaatkan AI untuk menulis kode, menyusun infrastruktur, dan mengotomatiskan operasi. Fungsi AI akan semakin meluas dalam setiap langkah rantai kejahatan siber.

Selain itu, para penyerang akan mengaburkan jejak keterlibatan AI untuk menghindari deteksi dan analisis keamanan.

8. AI Mengubah Paradigma Kerja Tim Keamanan Siber
Sistem berbasis AI mampu memindai infrastruktur secara terus-menerus, mengidentifikasi kerentanan, serta menyediakan informasi kontekstual bagi investigasi. Hal ini mengurangi kebutuhan pekerjaan manual yang membebani tim.

Spesialis keamanan akan lebih fokus pada pengambilan keputusan yang tepat dengan bantuan data yang sudah dianalisis AI. Antarmuka bahasa alami untuk perintah keamanan juga akan meningkatkan efektivitas respons.

Menurut Vladislav Tushkanov, Manajer Grup Pengembangan Riset Kaspersky, AI memainkan peran ganda dalam dunia siber sebagai alat yang memperkuat serangan sekaligus pertahanan. Pengelolaan AI yang aman sangat menentukan masa depan keamanan siber.

Adrian Hia, Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, menegaskan wilayah ini menjadi pusat inovasi AI tercepat di dunia. Walaupun menawarkan peluang besar, wilayah ini juga menghadapi risiko evolusi ancaman siber yang harus ditangani dengan strategi yang matang dan berpengalaman.

Pemahaman dan penerapan langkah pertahanan yang adaptif terhadap kecanggihan AI sangat penting untuk menjaga keamanan digital. Perusahaan dan individu harus meningkatkan kesadaran, pelatihan, dan penggunaan teknologi keamanan berbasis AI sebagai bagian dari strategi pertahanan siber mereka.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version