Krisis kekurangan pasokan chip memori global kini mulai mengguncang industri elektronik, setelah sebelumnya berdampak serius pada pasar smartphone. Namun tantangan ini tak berhenti di situ, karena efek domino dari kelangkaan memori diprediksi akan menjalar ke kategori elektronik konsumen lain—termasuk televisi, bahkan kemungkinan peralatan rumah tangga lainnya.
Kondisi ini menimbulkan risiko kenaikan harga pada produk TV mulai dari kelas menengah hingga premium. Samsung, sebagai pemain utama sektor perangkat pintar, menyoroti bahwa seluruh perusahaan global menghadapi tekanan suplai chip memori. Pernyataan dari TM Roh, co-CEO Samsung, menegaskan bahwa tidak ada satu pun perusahaan yang kebal terhadap krisis ini, apalagi model smart TV kelas atas Samsung yang membutuhkan kapasitas memori besar.
Kelangkaan Panel LCD Menambah Beban Baru
Selain masalah chip memori, lini produksi panel LCD juga mengalami hambatan serius. Data dari The Elec menyebutkan beberapa produsen panel utama di Tiongkok seperti BOE, HKC, dan CSOT, berencana menghentikan operasi pabrik sementara untuk mengurangi biaya tenaga kerja dan menurunkan stok yang menumpuk.
Rencana pengurangan produksi ini akan memangkas jumlah panel LCD yang dihasilkan pabrik secara signifikan. Menurut laporan, pasokan panel LCD diperkirakan turun sekitar 3,8 persen, lebih dari dua kali lipat dibanding penurunan permintaan global di level 1,8 persen. Ketimpangan ini berpotensi menyebabkan kelangkaan panel pada pasar TV di awal kuartal pertama tahun depan.
Strategi Produsen dalam Menyiasati Krisis
Produsen smartphone dan TV memilih untuk menimbun komponen seperti chip memori dan panel LCD. Langkah antisipasi ini sejenak memang mampu menahan kenaikan harga secara langsung serta menstabilkan produksi dalam waktu terbatas. Namun, setelah cadangan stok tersebut habis, tekanan pasokan dipastikan makin terasa, memaksa industri mengambil langkah menyesuaikan harga ke konsumen.
Dalam perkembangan terbaru, menurut TrendForce, harga panel TV berbagai ukuran diproyeksi mulai naik pada Januari mendatang. Kenaikan sebesar US$1 untuk panel 32 inci, 43 inci, 55 inci, dan 65 inci diprediksi menjadi awal siklus kenaikan harga baru di industri.
Dampak Harga Panel Terhadap Konsumen
Jika melihat dominasi LCD panel yang masih mencakup sekitar 95 persen pengiriman TV global, kenaikan harga sekecil apapun akan terasa dampaknya bagi seluruh segmen pasar dan kawasan. TV yang sebelum ini cenderung mengalami penurunan harga secara rutin setiap tahun, kini berisiko mengalami jeda tren penurunan tersebut.
Beberapa pabrikan juga melakukan efisiensi tertentu untuk meredam lonjakan harga di tingkat konsumen. Namun apabila keterbatasan pasokan tetap terjadi hingga kuartal pengujung tahun depan, kecenderungan penyesuaian harga dinilai makin tidak terelakkan.
Proyeksi Ke Depan dan Langkah Konsumen
Bagi calon pembeli TV, berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:
- Pantau perkembangan harga secara rutin, khususnya untuk model-model dengan spesifikasi tinggi yang paling terpengaruh kenaikan harga komponen.
- Pertimbangkan pembelian sebelum gelombang kenaikan harga diberlakukan menyusul rilis produk-produk baru dari produsen utama setelah ajang teknologi besar seperti CES.
- Bandingkan promo serta diskon di berbagai kanal penjualan, karena potensi stok lama bisa saja memberi harga lebih baik dibanding stok baru.
- Analisis kebutuhan fitur, sebab produksi efisiensi dan penyesuaian spesifikasi kemungkinan jadi strategi pabrikan menghadapi krisis suplai.
Sumber terpercaya memprediksi tekanan harga belum akan langsung terasa pada pembeli dalam waktu dekat. Namun, jika tren kekurangan komponen terus berlanjut usai kuartal pertama, produsen besar seperti Samsung dan LG akan merilis TV terbaru dengan harga yang beradaptasi mengikuti kondisi pasar. Dengan begitu, konsumen diharapkan lebih cermat membaca situasi dan tren sebelum melakukan pembelian perangkat televisi baru.





