Teknologi 3D printing kini semakin banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tren terbaru dan unik yang sedang ramai diperbincangkan adalah penggunaan printer 3D untuk memasak sarapan seperti telur, bacon, hingga pancake.
Pengguna media sosial mulai ramai membagikan video tentang eksperimen memasak di atas bed atau permukaan panas dari printer 3D. Inovasi ini memantik rasa penasaran publik, tetapi juga menimbulkan pro dan kontra terkait keamanan dan dampaknya, baik terhadap alat maupun kesehatan konsumennya.
Bagaimana Proses 3D Printer Digunakan untuk Memasak?
Proses memasak dengan printer 3D dimulai dengan memanfaatkan komponen build plate atau heat bed. Komponen ini memang dirancang untuk memanaskan permukaan agar filamen menempel sempurna saat proses pencetakan objek 3D berlangsung.
Beberapa model printer 3D populer seperti Creality K2 Pro dan Bambu Lab X1 Carbon mampu memanaskan build plate hingga 120 derajat Celsius, bahkan bisa lebih tinggi pada mesin tertentu. Melalui pengaturan manual pada layar sentuh, pengguna dapat menaikkan suhu bed hingga maksimum tanpa perlu menjalankan proses printing.
Salah satu kreator bernama Mike’s Quest Log membagikan video eksperimen memasak telur dan bacon di atas build plate tersebut. Ia juga memasang spatula kayu pada kepala printer dan menggerakkannya secara otomatis agar telur tercampur rata.
Risiko dan Respons Pengguna Media Sosial
Inovasi ini menimbulkan perdebatan di kalangan komunitas 3D printing maupun masyarakat umum. Beberapa komentar menyoroti potensi kontaminasi makanan akibat residu plastik atau sisa filamen di permukaan build plate.
Pada video lain, kreator yang sama menggunakan printer Bambu Lab X1 Carbon untuk memanggang pancake dan menyiramkan sirup langsung di atas build plate. Hal tersebut memunculkan risiko printer kotor bahkan rusak karena lengketnya sirup serta tingginya suhu mesin.
Mike, sebagai kreator, menanggapi kekhawatiran tentang pemborosan makanan dengan menyatakan bahwa semua makanan yang dihasilkan tetap dimakan. Ia juga bercanda mengenai kemungkinan masuknya mikroplastik pada makanan akibat bekas penggunaan filamen PLA warna oranye yang meninggalkan noda pada pancake.
Dampak terhadap Mesin dan Kesehatan
Penggunaan printer 3D untuk memasak jelas tidak direkomendasikan oleh pabrikan dan ahli di bidang ini. Permukaan build plate memang bisa panas namun belum tentu aman dari kontaminasi material kimia sisa filamen.
Selain itu, makanan yang bercampur dengan sisa plastik berpotensi mengandung mikroplastik atau residu zat kimia yang bisa membahayakan kesehatan jika terus-menerus dikonsumsi.
Berikut beberapa risiko penggunaan printer 3D sebagai alat memasak:
- Kontaminasi makanan oleh zat kimia dari sisa filamen.
- Kerusakan mesin akibat cairan dan lemak dari makanan meresap ke komponen elektronik.
- Permukaan build plate menjadi lengket dan sulit dibersihkan.
- Resiko kesehatan akibat mengonsumsi makanan dengan kandungan mikroplastik.
Panduan Keamanan Jika Tetap Ingin Bereksperimen
Meski tidak dianjurkan, sejumlah pengguna tetap bereksperimen dengan printer 3D mereka di rumah. Jika ingin mencobanya, ada beberapa langkah keamanan yang sebaiknya diperhatikan, seperti:
- Pastikan build plate sudah dibersihkan dari sisa filamen atau zat kimia lain.
- Gunakan alat pelindung seperti lapisan silikon atau baking sheet khusus agar makanan tidak langsung bersentuhan dengan permukaan printer.
- Hindari penggunaan printer untuk memasak secara rutin.
- Selalu cek kondisi printer setelah digunakan untuk memastikan tidak ada kerusakan akibat cairan makanan.
Inovasi dan Kreativitas di Era 3D Printing
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengguna printer 3D semakin kreatif dalam mengeksplorasi fungsi alat mereka. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua inovasi cocok diaplikasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan keamanan konsumsi makanan dan kelayakan perangkat.
Perkembangan teknologi 3D printing yang pesat memang membuka banyak kemungkinan baru. Meski eksperimen memasak dengan printer 3D menjanjikan tontonan menarik di media sosial, penggunaan alat ini tetap harus memprioritaskan keamanan dan kesehatan pengguna.





