Ambisi Metaverse Meredup, Meta Fokus Besar di Kecerdasan Buatan untuk Masa Depan

Meta merubah fokus strateginya setelah lebih dari empat tahun mengusung ambisi besar di dunia metaverse. Perusahaan mulai mengerem ekspansi virtual reality (VR) dan mengalihkan perhatian utamanya ke kecerdasan buatan (AI), teknologi yang kini menjadi pusat perhatian industri teknologi global.

Langkah ini terlihat jelas melalui pemangkasan tenaga kerja di Reality Labs, divisi pengembangan VR dan metaverse Meta. Sekitar 10% staf yang mengerjakan headset Quest dan platform Horizon Worlds terdampak, seiring penutupan beberapa studio internal pengembang konten VR.

Kerugian besar di divisi VR

Reality Labs mencatat kerugian kumulatif lebih dari USD 70 miliar sejak akhir 2020. Pada laporan keuangan terakhir, divisi ini kembali membukukan kerugian miliaran dolar dengan pendapatan yang masih kecil. Headset VR belum menjadi produk massal dan penggunaan Horizon Worlds jauh dari target perusahaan.

Situasi ini membuat Meta sadar bahwa pengembangan VR dengan biaya tinggi tidak memberikan hasil yang sepadan. Sebaliknya, kecerdasan buatan menunjukkan peluang pertumbuhan yang jauh lebih menjanjikan dan nyata.

Investasi besar di AI dan perekrutan talenta

Meta telah melakukan perekrutan besar-besaran di bidang AI, termasuk mengontrak Alexandr Wang, pendiri Scale AI, untuk memimpin strategi AI baru perusahaan. Dengan langkah ini, Mark Zuckerberg ingin Meta tidak tertinggal dari para pesaing seperti OpenAI dan Google.

Selain itu, Meta menaikkan belanja modal hingga puluhan miliar dolar untuk memperkuat pengembangan AI dan infrastruktur pendukungnya. Eksekutif penting seperti Vishal Shah beralih dari proyek metaverse ke pengembangan produk berbasis AI, menegaskan pergeseran prioritas perusahaan.

Penataan ulang konten dan studio VR

Meta menutup beberapa studio VR ternama seperti Armature Studio, Twisted Pixel, dan Sanzaru. Aplikasi kebugaran VR Supernatural kini dibiarkan dalam mode pemeliharaan tanpa pengembangan konten baru.

Namun, perusahaan tidak sepenuhnya meninggalkan VR. Meta mengubah strateginya untuk menghadirkan pengalaman Horizon Worlds yang lebih ringan dan ramah mobile. Mereka mulai bekerja sama dengan pengembang game platform seperti Roblox untuk menciptakan versi Horizon Worlds khusus perangkat ponsel.

Pendekatan yang meniru model Roblox dan Minecraft diharapkan bisa menarik pengguna baru yang lebih luas, terutama generasi muda yang suka mobile gaming. Ini memberi peluang lebih besar agar Horizon Worlds bisa menjadi gerbang awal pengguna sebelum merambah ekosistem metaverse lebih luas.

Titik terang dari perangkat wearable AI

Di tengah lesunya VR, perangkat wearable berbasis AI justru menjadi harapan baru Meta. Kolaborasi dengan EssilorLuxottica melahirkan kacamata pintar Ray-Ban Meta yang mendapat respons positif pasar.

Produk ini menggabungkan elemen fesyen dan fitur AI seperti asisten pintar dan kamera bawaan. Permintaan tinggi bahkan memaksa Meta menunda peluncuran global varian terbaru karena stok terbatas.

Meta menargetkan produksi jutaan unit kacamata pintar dalam beberapa tahun ke depan, menjadikan perangkat wearable berbasis AI salah satu pilar masa depan perusahaan.

Pergeseran ambisi teknologi Meta

Meski melakukan pemangkasan tim VR, Meta tidak sepenuhnya meninggalkan metaverse. Namun, posisi metaverse kini hanya menjadi komponen kecil dari ekosistem lebih besar yang dikendalikan AI sebagai mesin utama penggeraknya.

Meta berupaya menyesuaikan ambisi teknologi dengan realitas pasar. AI menawarkan jalur monetisasi lebih jelas, adopsi lebih cepat, dan relevansi yang lebih kuat terhadap kebutuhan pengguna saat ini.

Fokus inilah yang mengarahkan Meta keluar dari era dominasi VR menuju masa depan yang lebih mengandalkan AI. Perusahaan kini menyiapkan diri untuk bersaing dalam revolusi teknologi berbasis kecerdasan buatan yang tengah bergelora di seluruh dunia.

Terkait