Harga Bitcoin Turun di Bawah Rp1,3 Miliar: Dampak The Fed, Regulasi AS, dan Ketegangan Geopolitik Februari 2026

Harga Bitcoin mulai mengalami tekanan signifikan pada awal Februari 2026 dengan nilai perdagangan turun drastis di bawah Rp 1,3 miliar per keping. Pada sesi perdagangan awal bulan, harga Bitcoin sempat menyentuh level terendah sejak tahun lalu, yakni sekitar Rp 1,22 miliar atau 72.884 dollar AS, jauh merosot dari puncak harga pada Oktober 2025 yang mencapai di atas 126.000 dollar AS.

Penurunan harga Bitcoin terjadi hampir 38 persen dalam waktu singkat dan diikuti oleh tekanan serupa di pasar aset kripto global. Terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan tekanan ini, yaitu perubahan kebijakan moneter AS, ketidakpastian regulasi kripto di Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik yang meningkat di kancah internasional.

1. Nominasi Ketua The Fed dan Kebijakan Moneter Ketat

Salah satu penyebab utama anjloknya harga Bitcoin adalah penguatan nilai dollar AS yang didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Presiden AS pada akhir Januari mengajukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) periode berikutnya. Warsh dikenal memiliki sikap hawkish, yang berarti cenderung mempertahankan suku bunga riil lebih tinggi dan menerapkan pengetatan likuiditas.

Menurut Markus Thielen, pendiri 10x Research, pengangkatan Warsh berarti potensi “racun” bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Kebijakan suku bunga tinggi membuat instrumen berdenominasi dollar AS lebih menarik bagi investor. Kondisi ini menyebabkan pergeseran modal dari aset kripto ke instrumen yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah AS dan dollar, sehingga penjualan besar-besaran Bitcoin menekan harga secara signifikan.

2. Regulasi Kripto AS yang Masih Kabur

Faktor kedua adalah ketidakpastian regulasi aset kripto di Amerika Serikat yang belum menemui titik terang. Investor institusional menjadi sangat berhati-hati karena undang-undang pengaturan kripto yang diharapkan, seperti Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act), tidak kunjung disahkan oleh Senat AS meski telah lolos di DPR sejak Juli 2025.

Ketidakjelasan regulasi ini memicu gelombang arus keluar modal dari produk investasi kripto di AS. Data CoinShares mencatat hampir 990 juta dollar AS keluar dari dana kripto global selama satu pekan di akhir Desember 2025, dengan sebagian besar berasal dari pasar Amerika Serikat. Arus keluar serupa kembali terjadi pada pertengahan Januari 2026 sebanyak 378 juta dollar AS dalam satu hari. Kondisi tersebut mengindikasikan frustrasi para investor terhadap ketidakpastian kebijakan regulasi yang membuat pasar menjadi tidak stabil.

3. Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Ketegangan geopolitik yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah turut memperburuk situasi pasar kripto global. Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa kepala militer Iran mengeluarkan peringatan kemungkinan serangan terhadap Israel. Sementara itu Presiden AS juga mengisyaratkan opsi tindakan militer terhadap Iran, yang mengakibatkan pergerakan pasukan dan peralatan militer AS ke kawasan tersebut.

Kondisi geopolitik yang tidak pasti ini memaksa para investor global untuk mengambil sikap defensif. Mereka cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko tinggi seperti Bitcoin dan mengalihkan modalnya ke aset yang lebih aman serta stabil, seperti uang tunai, obligasi pemerintah, dan logam mulia. Pergeseran preferensi investasi ini menambah tekanan jual di pasar kripto dan menyebabkan harga Bitcoin makin tertekan.

Tekanan Pasar Salah Satu Dampak dari Global dan Kebijakan Domestik

Kombinasi dari kebijakan moneter AS yang ketat, ketidakjelasan regulasi di pasar kripto Amerika Serikat, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadikan harga Bitcoin mengalami penurunan signifikan. Selain faktor eksternal, dinamika investor yang semakin berhati-hati turut berperan besar dalam menggerakkan pasar ke tren negatif.

Investor perlu terus memantau perkembangan kebijakan The Fed dan regulasi kripto di AS, serta situasi geopolitik yang tengah bergejolak. Ketidakpastian pada ketiga faktor ini dapat terus mempengaruhi volatilitas pasar aset kripto, khususnya Bitcoin, dalam waktu dekat. Data yang dihimpun dari sumber seperti KompasTekno, Decrypt, dan Fast Company menegaskan bahwa dinamika ini bersifat multidimensional dan saling berinteraksi dalam menentukan arah pasar global saat ini.

Terkait