Satelit Nusantara Lima telah resmi menempati orbit geostasioner pada posisi 113° Bujur Timur. Ketinggiannya mencapai 35.786 kilometer di atas Pulau Kalimantan, menandai keberhasilan tahap krusial Electric Orbit Raising.
Diluncurkan dengan roket Falcon 9 dari Florida pada September lalu, satelit bertenaga sistem propulsi listrik ini mengubah orbitnya dari elips menjadi lingkaran sempurna. Tujuannya adalah memberikan layanan data merata dari Sabang hingga Merauke.
Keberhasilan ini menggambarkan capaian besar bagi kedaulatan antariksa Indonesia. Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Adi Rahman Adiwoso, menyatakan keberadaan Satelit N5 sebagai langkah strategis untuk pemerataan akses informasi dan internet.
Satelit Nusantara Lima memiliki kapasitas bandwidth 160 Gbps dan mengusung teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) yang paling mutakhir saat ini. Ia dilengkapi 101 spot beam Ka-band untuk menjangkau seluruh wilayah Nusantara hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.
Keunggulan dalam digital payload membuat pengelolaan lalu lintas data lebih fleksibel dan efisien. Bila digabungkan dengan kapasitas yang sudah ada, Indonesia kini memiliki potensi data satelit lebih dari 400 Gbps. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai pemilik kapasitas satelit terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Meski sudah mencapai orbit, Satelit N5 harus melewati proses In-Orbit Testing selama kurang lebih 90 hari. Tim ahli akan memeriksa kesehatan perangkat dan mengintegrasikan satelit dengan jaringan stasiun bumi sebelum penyerahan operasional.
Project Director SNL, Satrio Adiwicaksono, menekankan pentingnya tahap verifikasi ini untuk memastikan satelit dapat beroperasi stabil hingga lebih dari 15 tahun. Proses detail ini menjadi kunci ketahanan dan kualitas layanan yang akan diberikan.
PSN juga telah menyiapkan tujuh Stasiun Bumi sebagai infrastruktur pendukung. Lokasi stasiun tersebar strategis di Aceh, Bengkulu, Banjarmasin, Cikarang, Gresik, Kupang, dan Tarakan. Stasiun-stasiun ini berfungsi memastikan transmisi data berjalan lancar dan berkesinambungan.
Satelit N5 direncanakan bisa beroperasi penuh mulai April mendatang. Dengan demikian, satelit ini diharapkan menjadi tulang punggung ekosistem digital nasional serta mempercepat transformasi teknologi di kawasan Asia Tenggara.
Gita Wirjawan, tokoh nasional yang mengunjungi Stasiun Bumi PSN di Cikarang, mengapresiasi kehadiran Satelit N5. Ia menilai satelit ini krusial dalam mendorong ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan memiliki Gross Merchandise Value (GMV) hingga USD 360 miliar pada tahun 2030.
Dengan konektivitas yang menjangkau daerah pelosok, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendapatkan kesempatan memperluas pasar global. Kemajuan akses internet ini tidak hanya menyangkut teknologi canggih, tetapi juga perubahan nyata bagi kesejahteraan rakyat.
Secara keseluruhan, Satelit Nusantara Lima menjadi simbol kemajuan teknologi dan kedaulatan digital Indonesia. Dengan kapasitas besar dan jangkauan luas, satelit ini membuka cakrawala baru konektivitas yang lebih adil dan inklusif di seluruh wilayah Nusantara.
