Pasar saham teknologi global sempat terguncang setelah pengumuman terbaru dari Anthropic mengenai AI mereka, Claude Cowork. Saham perusahaan IT India langsung terpukul, kehilangan nilai hingga hampir Rs 2 lakh crore dalam satu sesi perdagangan. Kekhawatiran investor muncul karena fear of rapid automation yang dianggap bisa menggantikan banyak layanan IT tradisional dalam waktu singkat.
Di tengah kegelisahan pasar, CEO Cognizant, Ravi Kumar S, angkat suara dengan pandangan yang berbeda. Dalam konferensi pers usai pengumuman keuangan perusahaan, ia menegaskan bahwa narasi AI langsung menggantikan pekerjaan perusahaan adalah kesalahpahaman besar. Menurutnya, AI bukanlah “saklar ajaib” yang bisa dipasang begitu saja dan langsung menghasilkan output instan bagi bisnis.
AI Bukan Sekadar Plug-and-Play
Ravi Kumar membantah anggapan bahwa teknologi AI bisa langsung diintegrasikan dalam perusahaan dan langsung memberikan hasil secara langsung. Ia menyoroti kenyataan bahwa selama hampir tiga tahun sejak peluncuran ChatGPT oleh OpenAI, nilai tambah dari AI belum banyak dirasakan oleh operasional perusahaan secara luas. Hal ini menandakan bahwa implementasi AI tidak sesederhana yang dibayangkan.
Kumar mengungkapkan, “Kalau AI benar-benar seperti saklar magic, mengapa nilai ekonominya belum meresap dalam perusahaan-perusahaan sejak tiga tahun terakhir?” Pernyataan ini menggarisbawahi betapa kompleksnya penerapan AI di lingkungan bisnis yang nyata.
Kompleksitas Integrasi AI di Dunia Korporasi
Salah satu alasan utama lambatnya adopsi AI dalam perusahaan adalah kompleksitas sistem operasi yang ada. Kumar menjelaskan bahwa perusahaan tidak beroperasi dalam lingkungan terisolasi yang bersih dan sederhana. Sebaliknya, mereka menggunakan sistem legacy, alur kerja yang saling bergantung, aturan regulasi, dan intervensi manusia dalam pengambilan keputusan.
Menurut Kumar, "Mengintegrasikan alur kerja bisnis dengan teknologi AI yang bersifat aksi dan tetap melibatkan tenaga manusia adalah tugas yang sangat rumit.” AI juga harus bisa menyatu dengan operasi fisik dan lapisan operasional yang sudah ada agar dapat memberikan manfaat nyata. Oleh sebab itu, penggantian besar-besaran tenaga kerja dengan AI dalam waktu dekat dianggap tidak realistis.
Dampak Pasar dan Kinerja Keuangan Cognizant
Reaksi pasar yang ketakutan terhadap perkembangan Anthropic membuat saham perusahaan IT India banyak yang turun signifikan. Investor takut bahwa percepatan otomasi akan mengikis permintaan layanan IT tradisional yang menjadi andalan pendapatan jangka panjang perusahaan. Namun, data keuangan Cognizant menunjukkan gambaran berbeda.
Cognizant berhasil melampaui target pendapatan kuartal keempat dengan pendapatan mencapai $5,3 miliar, naik 4,9 persen dari tahun sebelumnya. Secara tahunan, pendapatan naik 7 persen menjadi $21,1 miliar, sementara margin operasional meningkat 140 basis poin menjadi 16,1 persen. Ini menunjukkan bahwa investasi besar dalam AI mulai menghasilkan pertumbuhan, meski para klien masih berhati-hati dalam pengeluaran mereka.
Adopsi AI yang Bertahap dan Berkelanjutan
Cognizant memandang AI sebagai kekuatan evolusioner, bukan gangguan besar secara tiba-tiba. Implementasi AI memerlukan perubahan besar dalam proses bisnis, pengelolaan sistem deterministik yang ada bersama model AI yang bersifat probabilistik, serta penyisipan teknologi ke operasional nyata.
Kumar menyampaikan, “Nilai dari AI akan mengalir secara bertahap selama bertahun-tahun. Diperlukan ‘jembatan’ untuk mengalirkan nilai tersebut, dan perusahaan seperti Cognizant memainkan peran penting membawa AI ke dalam bisnis.” Ini juga membuka peluang besar bagi layanan integrasi sistem, transformasi digital, dan manajemen layanan yang berkelanjutan.
Dukungan dari Pemimpin Industri AI Lainnya
Cognizant bukan satu-satunya yang mengkritisi ketakutan pasar. Mantan CEO Infosys, Vishal Sikka, menyebut AI generatif menciptakan “perbatasan yang tidak rata,” di mana sebagian area bisnis cepat terotomasi sedangkan area lain sulit digantikan. CEO Nvidia, Jensen Huang, juga menolak asumsi bahwa AI akan menghilangkan perangkat lunak. Justru, AI dipandang akan membantu perangkat lunak dan meningkatkan efisiensi kerja tim, bukan menghapus peran manusia.
Menariknya, Cognizant sendiri baru bermitra dengan Anthropic beberapa bulan lalu. Perusahaan berencana memanfaatkan Claude AI untuk sekitar 350 ribu karyawan, fokus pada penerapan AI secara nyata dalam pengkodean, pengujian, dokumentasi, dan workflow DevOps.
Pemahaman dan sikap Cognizant menunjukkan bahwa meski AI menawarkan perubahan besar, proses adopsinya penuh dinamika dan memerlukan waktu serta pendekatan yang matang. Investor dan pelaku bisnis perlu realistis menyikapi potensi transformasi ini agar tidak terjebak dalam euforia yang berlebihan.







