Setiap tahun, penggunaan baterai lithium-ion terus meningkat pesat dan mencapai miliaran unit di seluruh dunia. Sayangnya, pengelolaan limbah baterai bekas ini belum menjadi perhatian utama di banyak negara berkembang, sehingga menimbulkan risiko lingkungan dan kesehatan yang serius. Untuk menjawab tantangan global ini, para peneliti dari Chinese Academy of Sciences dan Beijing Institute of Technology mengembangkan metode inovatif yang dapat mendaur ulang baterai lithium-ion bekas secara efisien pada suhu ruang.
Metode ini menggunakan proses mekanokimia dengan teknik ball milling berenergi tinggi yang mengubah struktur atom di dalam baterai. Proses ini menyebabkan lithium berpindah ke permukaan bahan, sementara logam transisi seperti nikel dan kobalt terkonsentrasi di bagian inti. Pemisahan ini memfasilitasi ekstraksi lithium yang lebih selektif dan reaktif tanpa memerlukan suhu tinggi atau bahan kimia keras seperti pada metode konvensional.
Prinsip Mekanokimia dan Pemulihan Lithium
Proses mekanokimia bekerja melalui pengenalan gaya mekanik yang kuat pada material baterai. Gaya ini memicu disorientasi kation dalam struktur kristal baterai, sehingga atom lithium terdorong ke permukaan partikel. Setelah itu, campuran air dan gas karbon dioksida (CO₂) bertekanan diterapkan pada material. CO₂ berperan sebagai zat pengurai (leaching agent) yang bereaksi dengan permukaan kaya lithium membentuk lithium bicarbonate dengan kemurnian tinggi.
Metode ini mampu mengembalikan lebih dari 95% lithium dari baterai bekas tersebut. Selain efisien, proses ini juga berkontribusi dalam mitigasi emisi gas rumah kaca dengan mengisolasi CO₂ selama reaksi, sehingga tidak dilepaskan ke atmosfer. Dengan demikian, proses ini tidak hanya mendaur ulang bahan baterai, tetapi juga membantu pengendalian polusi karbon.
Keunggulan Proses pada Suhu dan Tekanan Ruang
Salah satu kelebihan utama metode ini adalah kemampuannya beroperasi pada suhu dan tekanan ruangan. Berbeda dengan proses tradisional seperti pirometalurgi dan hidrometalurgi yang membutuhkan suhu sangat tinggi dan menghasilkan limbah berbahaya, teknologi mekanokimia ini bersifat ramah lingkungan. Tidak ada penggunaan asam kuat atau energi intensif yang biasanya meningkatkan jejak karbon daur ulang baterai.
Selain aspek lingkungan, proses ini juga menyederhanakan operasional industri dan mengurangi biaya energi. Para peneliti yakin bahwa metode ini sangat sesuai untuk aplikasi skala besar, terutama bagi baterai dengan katoda tinggi nikel yang banyak digunakan pada kendaraan listrik.
Pemanfaatan Limbah Sekunder untuk Energi Terbarukan
Selain mengembalikan lithium, proses ini juga mengolah sisa logam yang terkonsentrasi di inti menjadi katalis berperforma tinggi untuk reaksi Oxygen Evolution Reaction (OER). Katalis ini ternyata sangat efektif pada produksi hidrogen hijau yang penting untuk pengembangan energi bersih. Dalam pengujian, katalis OER menunjukkan overpotential rendah sebesar 322 mV dan bertahan stabil selama lebih dari 200 jam operasi.
Dengan demikian, proses daur ulang ini tidak hanya mengurangi limbah baterai, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa material fungsional untuk teknologi energi terbarukan. Pendekatan closed-loop ini menjadi solusi menyeluruh yang menggabungkan pengelolaan limbah dengan transisi energi hijau.
Dampak dan Potensi Industri
Inovasi mekanokimia ini menawarkan alternatif baru yang lebih berkelanjutan dan aman dalam menangani limbah lithium-ion yang terus bertambah. Dengan efisiensi tinggi dan minim dampak lingkungan, teknologi ini menjanjikan peningkatan signifikan dalam mengurangi polusi dan ketergantungan pada sumber daya mineral primer.
Teknologi ini juga membuka peluang kolaborasi antara sektor daur ulang baterai dan energi terbarukan, memperkuat siklus ekonomi hijau. Seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan perangkat elektronik, solusi pengelolaan seperti ini akan menjadi kunci keberlangsungan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.
Secara keseluruhan, proses mekanokimia yang menggunakan CO₂ bertekanan pada suhu ruang ini merupakan terobosan penting. Dengan menghindari penggunaan bahan kimia berbahaya dan suhu tinggi, metode ini membawa cara baru yang efisien, ramah lingkungan, dan ekonomis untuk mendaur ulang baterai lithium-ion sekaligus mendukung transisi energi global.





