KPMG, salah satu perusahaan audit terbesar di dunia, baru-baru ini menuntut pengurangan biaya audit dari auditor internalnya, Grant Thornton UK. Permintaan ini muncul dengan alasan bahwa penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah menurunkan biaya dan mempercepat proses audit.
Dalam negosiasi terbaru, KPMG menegaskan bahwa penggunaan AI memungkinkan penghematan signifikan dalam proses audit. Oleh karena itu, mereka menuntut agar biaya audit yang dibebankan oleh Grant Thornton dipotong secara substansial. Selain pengurangan biaya, KPMG juga mengharapkan audit dapat diselesaikan lebih cepat karena auditor sudah mengenal data dan operasi keuangan perusahaan.
Negosiasi ini terjadi terkait dengan audit untuk KPMG International, induk dari seluruh organisasi KPMG di dunia. Kendati Grant Thornton sudah lama menjadi auditor KPMG International, KPMG bahkan mengancam akan mencari auditor lain jika persyaratan penurunan biaya dan kecepatan proses tidak dipenuhi. Perundingan ini dipimpin oleh CFO baru KPMG, Michaela Peisger.
Pengaruh AI dalam Audit:
Penggunaan AI dalam audit memungkinkan otomatisasi berbagai tugas rutin dan analisis data lebih cepat. Gary Jones, kepala digital audit di Grant Thornton UK, mengakui bahwa teknologi ini membuat pekerjaan audit menjadi “lebih cepat” dan “lebih cerdas.” Namun, meskipun teknologi tersebut mendorong efisiensi, peningkatan kualitas audit tetap menjadi fokus utama.
KPMG sendiri sudah melakukan investasi besar dalam teknologi AI. Pada tahun lalu, perusahaan mengucurkan dana 2 miliar dolar ke Microsoft untuk pengembangan AI. Selain itu, pada awal tahun ini, KPMG menandatangani kesepakatan senilai 100 juta dolar dengan Google Cloud guna memperdalam integrasi AI dalam layanan mereka.
Dampak Penurunan Biaya Audit:
Data resmi dari UK Companies House menunjukkan bahwa biaya audit oleh Grant Thornton untuk KPMG International berhasil ditekan hingga 14 persen, dari 416.000 dolar menjadi 357.000 dolar. Penghematan ini membuktikan bahwa penerapan AI dapat langsung berdampak pada biaya jasa profesional di sektor audit.
Namun, tren ini tampaknya belum umum di seluruh pasar audit. Berdasarkan data Ideagen Audit Analytics, sebagian besar biaya audit di Eropa justru meningkat selama setahun terakhir. Banyak perusahaan lain masih harus berinvestasi besar dalam teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi mereka.
Strategi KPMG dalam Memanfaatkan AI:
KPMG tidak hanya menggunakan AI untuk keperluan internal, tetapi juga menawarkan solusi berbasis AI kepada kliennya. Langkah ini memperkuat posisi KPMG sebagai pelopor transformasi digital di bidang audit dan konsultasi. Menurut KPMG, AI cenderung lebih berperan dalam peningkatan kualitas audit daripada sekadar menurunkan biaya.
Penetapan harga audit, menurut perusahaan ini, tetap bergantung pada berbagai faktor seperti kompleksitas, skala, dan kebutuhan spesifik setiap klien. Dengan demikian, AI merupakan alat pendukung untuk meningkatkan keakuratan dan kecepatan proses audit, bukan satu-satunya penentu harga akhir.
Kesimpulan Perkembangan AI di Industri Audit:
Kasus KPMG yang memaksa auditor internalnya mengurangi biaya menunjukkan bagaimana teknologi baru mengubah dinamika bisnis jasa profesional. AI mendorong efisiensi dan meningkatkan kecepatan kerja, sehingga perusahaan besar mulai menuntut revisi biaya dari mitra bisnisnya.
Meski AI membuka peluang penghematan, peningkatan kualitas audit tetap menjadi tujuan utama jangka panjang. Transformasi digital di industri audit berpotensi membuat proses lebih transparan dan akurat, sekaligus menuntut penyesuaian dalam model bisnis tradisional.
Berbagai investasi besar yang dilakukan KPMG dalam teknologi AI menandai arah baru di sektor jasa audit global. Dalam waktu dekat, penggunaan AI diprediksi semakin meluas, memberikan dampak signifikan pada cara audit dilakukan dan menentukan struktur biaya di masa depan.
