Asus dan Acer baru-baru ini menghadapi larangan penjualan langsung laptop dan PC tertentu di Jerman. Larangan ini muncul setelah keputusan pengadilan wilayah Munich I yang menanggapi sengketa paten dengan Nokia terkait codec video H.265 atau HEVC.
Pengadilan menyatakan bahwa kedua perusahaan tersebut tidak bertindak sebagai pemegang lisensi yang patuh pada kerangka FRAND. FRAND merupakan singkatan dari fair, reasonable, and non-discriminatory, sebuah kerangka lisensi yang mengharuskan pemegang lisensi untuk menawarkan syarat yang adil, wajar, dan tidak diskriminatif. Putusan ini mengakibatkan pemberian penangguhan penjualan produk terkait di pasar Jerman.
Dampak Larangan Penjualan
Acer membenarkan bahwa penjualan langsung produk yang terdampak di Jerman dihentikan sementara. Mereka tengah meninjau opsi hukum untuk merespons situasi ini dan berusaha mencari solusi yang dapat diterima. Produk yang tidak termasuk dalam sengketa paten masih bisa dibeli melalui toko resmi Acer di negara tersebut.
Sementara itu, Asus belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait situasi ini. Namun, toko online resmi Asus di Jerman diketahui sedang tidak aktif dan diinformasikan untuk melakukan "peningkatan layanan". Hal ini memunculkan spekulasi bahwa larangan serupa juga berlaku pada toko resmi Asus.
Larangan Berlaku pada Produsen, Bukan Pengecer
Larangan pengadilan ini hanya diberlakukan untuk Asus dan Acer sebagai produsen, bukan untuk pengecer pihak ketiga. Dengan demikian, stok laptop dan PC yang sudah ada di toko-toko masih diperbolehkan dijual. Namun, pasokan produk ke pengecer bisa terganggu jika pengiriman langsung oleh produsen tetap dihentikan. Contohnya, seri Asus ROG Strix G18 G814FP masih dapat dijumpai di platform seperti Amazon.de dengan harga sekitar €2,399.
Sengketa paten ini bukan kali pertama terjadi antara Nokia dan perusahaan teknologi lain. Misalnya, Amazon sempat kalah dalam kasus hukum serupa sehingga harus memodifikasi Fire TV Stick di pasar Jerman. OnePlus juga pernah menghadapi larangan penjualan di Jerman setelah kalah dalam perselisihan paten dengan Nokia pada tahun sebelumnya.
Respons Nokia dan Upaya Penyelesaian
Nokia menegaskan bahwa mereka berupaya mendapatkan kompensasi yang layak atas penggunaan teknologinya. Perusahaan ini juga menunjukkan kesiapan untuk melanjutkan negosiasi dengan Asus dan Acer agar dapat mencapai kesepakatan terkait lisensi paten HEVC. Selain dua merek tersebut, Nokia juga menyebutkan bahwa Hisense telah berhasil mendapatkan lisensi dalam prosedur hukum terkait.
Ringkasan Dampak Sengketa Paten HEVC
- Asus dan Acer menghentikan penjualan langsung laptop dan PC terdampak di Jerman.
- Larangan berlaku hanya untuk produsen, stok di pengecer masih dijual.
- Acer sedang mengevaluasi opsi hukum dan solusi negosiasi.
- Asus belum mengeluarkan pernyataan resmi, toko onlinenya sementara dimatikan.
- Nokia menuntut kompensasi dan siap melanjutkan negosiasi lisensi.
- Sengketa paten serupa juga pernah menimpa Amazon dan OnePlus.
Kasus ini menunjukkan bagaimana perlindungan paten dan peraturan lisensi dapat berdampak signifikan pada distribusi produk teknologi konsumen. Sengketa seperti ini berpotensi mengganggu pasar dan memperlambat ketersediaan produk di wilayah yang menjadi sengketa. Para perusahaan yang terlibat kemungkinan akan terus mencari titik temu agar penjualan produk dapat kembali normal.
