Disney dan Paramount Serang ByteDance Lewat Surat Hukum, Tuduhan Pencurian Besar-besaran Konten AI Video dari Franchise Ikonik

Dalam pekan terakhir, perusahaan teknologi asal China, ByteDance, meluncurkan model generasi video AI terbaru bernama Seedance 2.0. Model ini mampu menghasilkan video dengan kualitas sangat realistis, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa Hollywood bisa menghadapi ancaman serius. Tanggapan cepat datang dari studio besar seperti Disney dan Paramount Skydance yang mengirimkan surat peringatan hukum kepada ByteDance.

Disney memulai tindakan hukum ini dengan mengirimkan surat perintah penghentian kepada ByteDance. Disney menuduh Seedance 2.0 menggunakan perpustakaan ilegal karakter berhak cipta milik Disney dari waralaba populer seperti Star Wars, Marvel, dan franchise Disney lainnya. Dalam surat tersebut, perwakilan Disney, David Singer, menyatakan, "Penggunaan properti intelektual Disney oleh ByteDance dilakukan secara sengaja, meluas, dan sama sekali tidak dapat diterima."

Tuduhan Paramount Skydance terhadap ByteDance

Selain Disney, Paramount Skydance juga mengkritik ByteDance dengan keras. Mereka menuduh perusahaan teknologi ini melakukan pelanggaran hak cipta yang terang-terangan terhadap karya mereka, termasuk judul-judul terkenal seperti "South Park," "Star Trek," "The Godfather," dan "Dora the Explorer." Paramount meminta agar pelanggaran tersebut segera dihentikan demi melindungi nilai dan reputasi karya-karya mereka.

Surat dari Paramount juga menyoroti bahwa video dan gambar yang dihasilkan oleh teknologi AI ini sering kali sulit dibedakan secara visual dan audio dari karya resmi Paramount. Hal ini memperkuat kekhawatiran akan potensi kerugian finansial dan hak cipta yang serius.

Respon ByteDance terhadap Tuduhan

ByteDance memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut melalui pernyataan resmi. Mereka menyatakan bahwa perusahaan menghormati hak kekayaan intelektual dan telah mendengar keluhan terkait Seedance 2.0. ByteDance menegaskan sedang mengambil langkah untuk memperkuat sistem pengamanan agar mencegah penggunaan tidak sah terhadap kekayaan intelektual dan kemiripan dari para pengguna. Namun, mereka belum merinci secara spesifik langkah apa yang akan dilakukan untuk menanggapi tuntutan studio-studio besar.

Dukungan dari Serikat Aktor dan Organisasi Seniman

Tidak hanya Disney dan Paramount, perselisihan ini juga menarik perhatian serikat aktor SAG-AFTRA dan Human Artistry Campaign, sebuah koalisi kelompok hak seniman yang berafiliasi dengan serikat pekerja Hollywood. Kedua grup ini secara terbuka menentang penggunaan model AI Seedance 2.0. Mereka menilai bahwa penggunaan AI untuk menghasilkan karya menyerupai aktor dan karakter tanpa izin dapat merugikan dan melanggar hak para seniman.

Konteks dan Implikasi Perselisihan

Model Seedance 2.0 menarik perhatian luas karena kemampuannya menghasilkan video sinematik hanya berdasarkan input teks. Beberapa video viral yang menampilkan selebritas ternama bahkan tersebar luas di dunia maya, menambah kompleksitas masalah hak cipta dan etika dalam penggunaan teknologi AI.

Namun, bukan pertama kali Hollywood menemui situasi serupa. Pada tahun lalu, Disney pernah bekerja sama dengan OpenAI untuk menghadirkan karakter Disney dalam video yang dihasilkan AI dengan model Sora, yang menunjukkan bahwa kolaborasi antara teknologi AI dan industri hiburan bukan mustahil asal ada batasan dan kesepakatan yang jelas.

Berikut beberapa poin utama terkait perselisihan ini:

  1. ByteDance menggunakan ribuan karakter dan properti intelektual Hollywood tanpa izin dalam Seedance 2.0.
  2. Disney dan Paramount mengeluarkan surat peringatan hukum untuk menghentikan penggunaan ilegal.
  3. ByteDance berjanji memperkuat perlindungan hak cipta, namun belum mengumumkan detailnya.
  4. Serikat aktor dan organisasi hak seniman mendukung langkah hukum dari studio-film.
  5. Seedance 2.0 mendapat sorotan karena menghasilkan video realistis dari input teks yang bisa meniru selebritas.
  6. Hollywood sebelumnya menjajaki kerjasama dengan AI namun dengan kontrol ketat.

Dengan perkembangan ini, perang hukum tentang batas-batas teknologi AI dalam membuat konten hiburan semakin memanas. Industri film dan teknologi harus menemukan cara yang seimbang agar inovasi tidak mengorbankan hak cipta dan perlindungan kreator. Perselisihan ini juga menjadi momen penting dalam menetapkan standar regulasi penggunaan AI di dunia hiburan di masa depan.

Berita Terkait

Back to top button