
Keterbatasan spektrum frekuensi untuk layanan 5G di Indonesia memaksa operator seluler melakukan berbagai strategi inovatif. Penundaan pelepasan spektrum millimeter band oleh Kementerian Komunikasi Digital (Komdigi) hingga awal tahun depan menjadi tantangan utama industri.
Sampai saat ini, pemerintah masih mempertimbangkan tarif yang diberlakukan pada spektrum frekuensi tinggi. Hal ini menimbulkan ketidakpastian sekaligus beban biaya besar bagi operator. Sebagai contoh, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) membayar hingga Rp600 miliar untuk 10 MHz di frekuensi 2100 MHz, ditambah upfront fee dua kali harga jual tahun pertama.
Pendekatan Telkomsel dengan Layanan Hyper 5G
Telkomsel mengklaim telah melayani 5G di 56 kota dengan dukungan 3.000 BTS berbasis teknologi Dynamic Spectrum Sharing (DSS). Teknologi DSS memungkinkan pemanfaatan spektrum 4G LTE secara bersama untuk layanan 5G, walaupun kecepatan rata-rata biasanya hanya sekitar 50 Mbps.
Perusahaan menargetkan penambahan infrastruktur menjadi 5.000 BTS awal tahun depan. Dari 159,5 juta pelanggan, lebih dari 20 juta sudah menggunakan layanan 5G. Layanan Hyper 5G dipasarkan dengan kecepatan unduh hingga 500 Mbps dan unggah 100 Mbps, fokus terutama pada pusat kota, bandara, dan kota satelit untuk pelanggan premium.
Strategi Ekspansi IOH dalam Memperluas 5G
Indosat Ooredoo Hutchison memanfaatkan spektrum tunggal 1800 MHz untuk mendukung 6.872 BTS 5G di beberapa kota besar seperti Jakarta, Solo, Bandung, dan Makassar. Meski terbatas spektrum, IOH tetap melakukan ekspansi jangkauan 5G.
Jumlah pelanggan aktif IOH saat ini mencapai 91,9 juta, setelah melakukan pembersihan kartu SIM tidak aktif. Hal ini mendukung efisiensi dan fokus pelayanan pada segmen pelanggan yang lebih produktif dan memenuhi kebutuhan internet cepat.
Inovasi XL Smart dengan Spektrum dan Infrastruktur Terpadu
Berbeda dari Telkomsel dan IOH, XL Smart tidak memakai teknologi DSS. Mereka menggunakan spektrum 40 MHz di rentang 2300 MHz dengan teknologi Time Division Duplexing (TDD). Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan spektrum secara efisien dengan pembagian waktu pengiriman dan penerimaan data.
Strategi XL Smart sudah diterapkan di 33 kota dan akan dikembangkan ke total 88 kota. Melalui merger antara XL Axiata dan Smart Telecom, total BTS mereka diperkirakan melebihi 225.000 unit. Selain itu, mereka berkomitmen membangun 8.000 BTS baru di wilayah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) untuk memperluas akses digital nasional.
Tantangan Biaya dan Kewajiban Infrastruktur
Salah satu kendala utama adalah biaya tinggi spektrum frekuensi. Selain itu, operator juga menghadapi kewajiban pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil. Pemerintah masih mengkaji besaran tarif spektrum 700 MHz selebar 90 MHz dan 2600 MHz selebar 160 MHz untuk layanan 5G. Ketidakpastian ini berdampak pada perencanaan investasi operator.
Secara umum, teknologi DSS membantu mitigasi keterbatasan spektrum dengan menggunakan jaringan 4G LTE yang sudah ada. Namun, teknologi ini memiliki keterbatasan dalam kecepatan dan kapasitas saat dibandingkan penggunaan spektrum khusus 5G.
Pemanfaatan Infrastruktur dan Kebijakan Pemerintah
Rencana strategis terkait pelepasan spektrum dan pengembangan infrastruktur operator mengacu pada laporan kinerja terkini dan kebijakan kementerian. Pengembangan 5G di Indonesia masih bergantung pada regulasi dan kebijakan harga spektrum yang dapat diputuskan pemerintah dalam beberapa bulan ke depan.
Upaya operator seluler seperti Telkomsel, IOH, dan XL Smart menjadi bukti strategi adaptasi menghadapi kendala regulasi dan teknis. Inovasi dan kolaborasi lintas teknologi dipilih sebagai solusi agar Indonesia tidak semakin tertinggal dalam era transformasi digital.
Dengan semakin banyaknya wilayah yang mendapat cakupan 5G, pengguna akan merasakan peningkatan kualitas layanan dan kecepatan internet. Hal ini juga mendorong percepatan adopsi aplikasi digital yang lebih maju dan transformasi ekonomi nasional secara menyeluruh.





