Harga Bitcoin Anjlok ke Rp 1,08 Miliar Dipicu Kebijakan Tarif Global Trump yang Guncang Pasar Kripto dan Investor Panik

Harga Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya mengalami penurunan tajam, menembus level terendah dalam delapan bulan terakhir. Pada perdagangan Selasa, Bitcoin turun ke kisaran 64.200 dollar AS, setara dengan Rp 1,08 miliar, atau anjlok sekitar 4,8 persen dalam 24 jam terakhir. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan tarif global yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kebijakan tarif global tersebut berupa penetapan tarif impor sebesar 15 persen yang mulai berlaku pada bulan Februari setelah pembatalan tarif sebelumnya oleh Mahkamah Agung AS. Tarif ini berlaku selama 150 hari dan menimbulkan ketidakpastian pasar yang membuat investor beralih dari aset berisiko tinggi seperti kripto ke instrumen lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah.

Penurunan Harga Bitcoin dan Altcoin

Harga Bitcoin yang jatuh di bawah 65.000 dollar AS menandai titik terendah sejak Oktober tahun lalu. Jika dibandingkan dengan puncaknya yang mencapai 126.000 dollar AS (sekitar Rp 2,11 miliar) pada Oktober lalu, nilai Bitcoin sudah merosot hampir separuhnya. Aset kripto lain seperti Ethereum, XRP, dan Binance Coin juga menunjukkan tren penurunan signifikan.

Ethereum turun sekitar 5 persen ke level 1.868 dollar AS (Rp 31,4 juta), XRP melemah 5,42 persen ke 1,34 dollar AS (Rp 22.500), dan Binance Coin merosot 5,7 persen ke 588,14 dollar AS (Rp 9,8 juta). Altcoin lainnya, termasuk Solana dan Avalanche, mencatat koreksi lebih dalam hingga 9 persen. Dampaknya, nilai pasar kripto global terpangkas hingga 2 triliun dollar AS, setara lebih dari Rp 33.600 triliun, sejak Oktober.

Dampak Kebijakan Tarif Trump pada Pasar Kripto

Penetapan tarif global oleh Trump ini secara langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar kripto. Analis Delta Exchange, Riya Sehgal, menjelaskan bahwa pengumuman tarif sebesar 15 persen menjadi “guncangan” bagi aset berisiko di seluruh dunia. Modal investor bergerak ke aset safe haven, seperti emas yang sempat naik lebih dari 2 persen.

Kebijakan tarif ini mengancam kestabilan perdagangan global sekaligus memunculkan ketidakpastian yang luas di pasar keuangan. Ketidakpastian seperti ini biasanya menjadi faktor utama yang memicu investor untuk mengurangi paparan risiko, terutama di aset volatil seperti mata uang kripto.

Faktor Pendukung Penurunan Harga Bitcoin

Selain kebijakan tarif, sejumlah faktor turut menekan harga Bitcoin. Penguatan dolar AS yang signifikan membuat aset berdenominasi mata uang asing ini kurang diminati. Selain itu, ketidakjelasan regulasi kripto di Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga meningkatkan tekanan pasar.

Caroline Mauron, co-founder Orbit Markets, menyatakan bahwa pasar kripto saat ini masih sangat rapuh. Dia menunjuk bahwa prospek kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve menjadi faktor tambahan yang memperburuk sentimen pasar. Kondisi ini membuat Bitcoin dan aset kripto lain berada dalam fase bearish, dengan kecenderungan harga terus turun.

Prediksi dan Skenario Pasar Kripto ke Depan

Beberapa analis memprediksi harga Bitcoin bisa turun ke level sekitar 50.000 dollar AS (Rp 838,5 juta) dalam waktu dekat jika tekanan jual berlanjut. Namun, ada pula yang melihat level antara 55.000 sampai 60.000 dollar AS sebagai zona pembelian bertahap, terutama bagi investor jangka panjang.

Analis Eric Crown menjelaskan bahwa pelemahan yang terjadi masih dalam pola siklus besar Bitcoin yang mencakup fase euforia dan koreksi pasca-halving. Sehingga, koreksi kali ini dinilai sebagai bagian dari dinamika normal pasar kripto dalam jangka panjang.

Daftar Penurunan Harga Kripto Utama dalam 24 Jam Terakhir:

  1. Bitcoin: turun 4,8% ke 64.200 dollar AS (Rp 1,08 miliar)
  2. Ethereum: turun 5% ke 1.868 dollar AS (Rp 31,4 juta)
  3. XRP: turun 5,42% ke 1,34 dollar AS (Rp 22.500)
  4. Binance Coin: turun 5,7% ke 588,14 dollar AS (Rp 9,8 juta)
  5. Solana dan Avalanche: turun antara 6-9%

Harga Bitcoin dan kripto utama lain yang melemah menunjukan reaksi pasar terhadap kebijakan perdagangan baru Amerika. Ketidakpastian dan risiko global memicu investor untuk menarik modal dari aset kripto dan mencari instrumen yang dianggap lebih stabil. Sementara itu, perkembangan kebijakan dan geopolitik selanjutnya akan menentukan arah pergerakan pasar kripto dalam waktu dekat.

Informasi ini berdasarkan data terbaru dari CoinMarketCap serta analisis para ahli pasar dari Delta Exchange dan Orbit Markets yang dirilis pada Selasa, 24 Februari 2026.

Berita Terkait

Back to top button