Samsung Galaxy S26 Ultra Dihujani Bloatware, Flagship Mahal Tapi Memori Tergerus Sebelum Dipakai

Samsung Galaxy S26 Ultra kembali menjadi sorotan utama di pasar smartphone premium. Produk flagship ini dijual dengan harga tinggi, mulai dari $1,300, namun permasalahan bloatware menjadi isu yang ramai diperbincangkan banyak pengguna. Keberadaan aplikasi bawaan pihak ketiga membuat konsumen bertanya-tanya tentang nilai yang sebenarnya mereka dapatkan dari perangkat kelas atas ini.

Banyak pengguna berharap, harga mahal yang dibayarkan dapat memberikan pengalaman software yang bersih tanpa gangguan aplikasi tidak penting. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Samsung tetap menyertakan sejumlah besar aplikasi pihak ketiga tanpa opsi untuk memilih, bahkan sebelum pengguna mulai memindahkan data pribadi ke perangkat.

Daftar Bloatware di Galaxy S26 Ultra

Berdasarkan data dari unit retail Galaxy S26 Ultra, ditemukan banyak aplikasi non-Samsung yang langsung terpasang otomatis. Daftar aplikasi yang terdeteksi pada varian 512GB Galaxy S26 Ultra meliputi:

  1. Microsoft: M365 Copilot, OneDrive, LinkedIn, Outlook, Link to Windows.
  2. Meta: Facebook dan aplikasi turunannya (tanpa spesifikasi detil pada perangkat yang diuji).
  3. Spotify.
  4. Google Apps (wajib untuk Play Store dan Google Play Services sesuai persyaratan MADA).

Perlu dicatat, aplikasi-aplikasi ini tidak dapat dipilih atau dihindari selama proses setup awal. Pengguna hanya diberikan perangkat dalam kondisi penuh aplikasi, tanpa peringatan atau opsi customisasi.

Dampak Bloatware pada Penyimpanan Internal

Dampak langsung dari banyaknya aplikasi bawaan terlihat pada penggunaan memori internal. Dari laporan pengujian, setelah dilakukan factory reset dan sebelum data pribadi pengguna diimpor, perangkat sudah memakai lebih dari 40GB dari total 512GB penyimpanan. Ini berlangsung sebelum pengguna menginstal aplikasi sendiri maupun melakukan migrasi file foto dan video.

Jika dibandingkan, angka 8% pemakaian pada model dengan storage besar jelas terasa boros, terutama mengingat banyak storage yang digunakan hanyalah untuk sistem operasi dan aplikasi bawaan.

Redundansi Aplikasi dan Duplikasi Fitur

Jumlah aplikasi yang terpasang bukan hanya soal kuantitas, namun juga kualitas pengalaman pengguna. Banyak aplikasi memiliki fungsi ganda yang membuat pengelolaan perangkat terasa kurang efisien:

  • Dua toko aplikasi (Play Store dan Galaxy Store).
  • Dua browser (Samsung Internet dan Chrome).
  • Dua aplikasi email (Gmail dan Outlook).
  • Dua layanan penyimpanan cloud (Google Drive dan Microsoft OneDrive).
  • Dua asisten digital (Bixby dan Gemini).

Hal ini menimbulkan tumpang tindih fungsi, sehingga pengguna harus memilih sendiri mana aplikasi yang ingin dipakai, lalu menghapus atau menonaktifkan aplikasi lainnya yang tidak diperlukan.

Pendapat Pengguna dan Respons Samsung

Survei yang dilakukan kepada para pemilik flagship menunjukkan respons beragam. Sekitar 57% responden menganggap kehadiran bloatware di perangkat seharga di atas $1,000 merupakan hal yang tidak dapat diterima. Sebanyak 38% menyatakan keberadaan aplikasi bawaan tidak masalah selama dapat dihapus dengan mudah, sementara 5% justru mengapresiasi kehadiran aplikasi-aplikasi tersebut karena dianggap membantu.

Samsung berdalih, aplikasi pihak ketiga dapat dihapus kapan saja jika pengguna merasa tidak memerlukannya. Sebagian pengguna setuju dengan argumen ini, menyebut aplikasi seperti Microsoft Outlook atau OneDrive termasuk yang memang banyak digunakan di perangkat Android secara umum. Namun, tidak semua aplikasi bermanfaat bagi setiap pengguna, terlebih untuk fitur seperti M365 Copilot atau LinkedIn yang tidak selalu relevan untuk kebutuhan sehari-hari.

Alasan Bisnis di Balik Bloatware pada Flagship

Keberadaan bloatware di Galaxy S26 Ultra didorong oleh kesepakatan komersial antara produsen dan perusahaan aplikasi. Praktik ini lazim ditemukan pada smartphone kelas menengah hingga bawah sebagai langkah menekan harga produksi. Namun, pada perangkat dengan harga premium seperti Galaxy S26 Ultra, pendekatan ini menimbulkan pertanyaan. Banyak pengguna menilai, dengan naiknya harga produk, fitur dan pengalaman software juga seharusnya meningkat.

Pihak Samsung belum memberikan opsi setup untuk memilih aplikasi pihak ketiga apa saja yang ingin disertakan. Jika kondisi ini bertahan, harapan konsumen akan flagship yang bebas bloatware masih harus bersaing dengan strategi monetisasi produsen yang mengandalkan kemitraan aplikasi.

Langkah-Langkah Mengurangi Bloatware pada Galaxy S26 Ultra

Pengguna yang ingin mengurangi gangguan aplikasi bawaan bisa melakukan langkah berikut:

  1. Masuk ke Pengaturan > Aplikasi.
  2. Pilih aplikasi pihak ketiga yang tidak digunakan.
  3. Klik “Uninstall” atau “Nonaktifkan” jika aplikasi tidak bisa dihapus.
  4. Gunakan fitur aplikasi pihak ketiga untuk membersihkan aplikasi sistem yang tidak penting, namun tetap hati-hati agar tidak menghapus aplikasi sistem penting.

Dengan semakin kompetitifnya pasar smartphone dan makin tingginya ekspektasi pengguna, isu bloatware pada perangkat premium seperti Galaxy S26 Ultra akan terus menjadi perhatian, terutama jika tidak diimbangi dengan transparansi dan pilihan kustomisasi yang lebih luas untuk konsumen.

Source: www.androidauthority.com

Terkait