Ubisoft Makin Terobsesi Microtransactions, Assassin’s Creed Berubah Jadi Mesin Uang dan Bunuh Jiwa Game Aslinya

Ubisoft semakin terlihat mengandalkan microtransactions dan model live-service dalam pengembangan seri Assassin’s Creed ke depan. Langkah ini makin nyata setelah kemunculan lowongan pekerjaan terbaru yang mencari Game Designer untuk mengoptimalkan sistem progresi dan monetisasi dalam ekosistem Assassin’s Creed.

Informasi tersebut mengindikasikan adanya upaya Ubisoft untuk memperbesar pendapatan lewat pembelian dalam game, khususnya setelah biaya produksi game seperti Assassin’s Creed Shadows dan Valhalla mencapai setidaknya $75-100 juta. Situasi keuangan perusahaan yang belum stabil akibat sejumlah pembatalan proyek serta pemutusan hubungan kerja mendorong strategi baru yang lebih menekankan pendapatan tambahan dari para pemain.

Peran Baru Game Designer Fokus Monetisasi

Lowongan yang tersebar di Quebec City membahas jelas tentang peran Game Designer yang akan bertanggung jawab pada peningkatan sistem HUB, yakni launcher Animus Hub yang menghubungkan banyak judul dalam seri Assassin’s Creed. Dalam deskripsinya, disebutkan akan ada perbaikan berkelanjutan untuk sistem ini di lingkungan live-service.

Bagian kualifikasi menekankan pengalaman pada lingkungan game live atau online sebagai salah satu syarat utamanya. Terdapat pula penekanan pada kata “monetization” sebagai salah satu tujuan untuk menarik pemain agar rutin kembali dan berinteraksi dengan game.

Rencana Ubisoft Mengintegrasikan Microtransactions Lebih Jauh

Pengalaman dalam Assassin’s Creed Shadows telah membuktikan adanya microtransactions untuk beragam item kosmetik maupun boost pengalaman. Namun, dengan adanya fokus baru, microtransactions dipastikan akan semakin dominan di game Assassin’s Creed mendatang setelah Shadows.

Data dari laporan investor Ubisoft sempat mengklaim microtransactions justru membuat pengalaman bermain menjadi “lebih menyenangkan”. Namun, statement ini tetap menuai reaksi negatif dari banyak kalangan gamer, mengingat fakta bahwa pembelian dalam aplikasi seringkali dianggap mengurangi kualitas pengalaman single player dan cenderung memaksa pemain untuk membayar lebih.

Tekanan Industri dan Tren Game-Layanan (Live-Service Games)

Ubisoft bukan satu-satunya publisher yang mencoba strategi live-service. Sony PlayStation pun mulai banyak berinvestasi pada game multiplayer online semacam Horizon Hunters Gathering dan menggeser fokus dari game solo seperti Horizon 3.

Tren industri menunjukkan model games-as-a-service terus mendapat tempat, meski dikritik oleh komunitas gamer tradisional. Banyak gamer menyatakan bahwa model ini tidak cocok untuk game dengan pengalaman single player yang naratif seperti Assassin’s Creed.

Daftar Dampak dan Implikasi Model Live-Service di Assassin’s Creed

  1. Konten tambahan, update, dan event seasonal bisa jadi norma baru dalam setiap judul Assassin’s Creed.
  2. Peluang munculnya sistem battle pass, langganan, atau pembelian kosmetik eksklusif lebih besar.
  3. Konektivitas online akan menjadi bagian penting meski mode offline tetap tersedia.
  4. Peran komunitas pemain dalam pembentukan konten dan feedback pada live environment akan meningkat.

Animus Hub dan Masa Depan Franchise

Pengenalan Animus Hub di Assassin’s Creed menjadi pondasi untuk sistem konektivitas antar-judul. Hal ini tidak hanya memudahkan pemain berpindah serta mengikuti progresi satu akun lintas berbagai game Assassin’s Creed.

Lowongan pekerjaan tersebut juga memberi sinyal kemungkinan rilis game-game masa depan semacam Assassin’s Creed Hexe dan Invictus yang akan mengusung model service-based dengan fitur seperti PvP atau pengalaman multiplayer ala Fall Guys.

Data dari beberapa pengamat industri menyebut tren ini akan terus berkembang karena publishers kini mencari jalan keluar untuk meningkatkan pendapatan di tengah biaya produksi yang makin mahal dan risiko penjualan game satuan yang tak selalu memenuhi target.

Ubisoft sendiri sudah menerapkan skema microtransactions bersifat opsional, namun kecenderungan terbaru menunjukkan bahwa porsi pendapatan dari sistem pembelian digital bakal semakin diutamakan. Kontroversi seputar penerapan microtransactions dan model live-service diprediksi tetap berlangsung, apalagi bila menjalar ke seluruh portofolio flagship seperti Assassin’s Creed yang selama ini dikenal dengan eksplorasi open-world dan cerita mendalam.

Penggemar yang menyukai pengalaman single player tanpa gangguan sistem monetisasi tampaknya perlu bersiap menghadapi transformasi industri game AAA, di mana konten berbayar dan layanan online akan menjadi fitur utama. Perubahan strategi Ubisoft ini menjadi cerminan pergeseran model bisnis di jagat game global menuju ekosistem berbayar yang lebih berkelanjutan dari sisi publisher.

Source: www.notebookcheck.net

Terkait