Bulan Ramadan biasanya meningkatkan konsumsi air dalam aktivitas sehari-hari, khususnya di rumah tangga. Hal ini terjadi karena frekuensi kegiatan seperti wudu cenderung meningkat, beriringan dengan intensitas ibadah yang lebih tinggi.
PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) mencatat bahwa penggunaan air untuk wudu per orang rata-rata mencapai 2,9 hingga 5 liter. Padahal, secara sunnah, wudu hanya memerlukan air sekitar 0,5 hingga 0,7 liter, atau setara dengan satu botol minuman kemasan kecil. Data ini menunjukkan adanya ketidakefisienan yang signifikan dalam penggunaan air saat berwudu bagi sebagian besar umat Muslim.
Penghematan Air Sesuai Sunah Wudu
Dalam ajaran Islam, diperintahkan agar wudu dilakukan tanpa berlebihan. Ukuran air yang dianjurkan adalah satu mud, yakni sekitar 600 ml sampai 687 ml. Pendekatan ini menekankan pentingnya menghindari israf, atau pemborosan air, meski ketersediaan air di Indonesia terlihat melimpah. Namun, perilaku yang boros air banyak dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan sehari-hari, bukan hanya faktor sumber daya alam.
Direktur LAZNAS Al-Azhar, Iwan Rahman, mencontohkan fenomena menarik yaitu jemaah umrah yang mampu berhemat air saat melaksanakan ibadah di tanah suci. Sebaliknya, saat kembali ke tanah air, penggunaan air kembali boros seperti semula. Ia menilai bahwa hal ini berkaitan erat dengan kurangnya kesadaran akan nilai air dan desain keran masjid yang mengeluarkan debit air terlalu besar.
Kontribusi PPLI dan LAZNAS Al-Azhar dalam Gerakan Hemat Air
PPLI secara aktif mendorong efisiensi penggunaan air, baik di industri maupun lingkungan umum. Sejak tahun 2025, PPLI telah mengelola lebih dari 225 ribu meter kubik limbah dari berbagai pelanggan. Proses pengolahan limbah dilakukan dengan tiga metode utama:
- Physical chemical treatment (perlakuan kimiawi-fisika)
- Evaporator untuk pemekatan air dan pengurangan total dissolved solids (TDS)
- Proses biologis menggunakan bakteri aktif untuk menurunkan kadar pencemar
Air hasil pengolahan tersebut tidak langsung dibuang. Tidak kurang dari 99 ribu meter kubik air limbah sudah berhasil dimanfaatkan kembali dalam berbagai proses industri PPLI, seperti pencucian kendaraan pengangkut dan peralatan kemasan. Langkah ini menunjukkan praktik reduce dan reuse yang efektif.
Di sisi lain, LAZNAS Al-Azhar mengusung program pemberdayaan berbasis “Reduce, Reuse, Recycle” (3R) yang diterapkan di beberapa lokasi, salah satunya di Muara Enim, Sumatera Selatan. Di sana, energi listrik dari turbin digunakan untuk menerangi masjid dan sekitar 200 rumah. Setelah penggunaan listrik, air limbah tidak dibuang melainkan dimanfaatkan untuk irigasi perkebunan dan sawah. Model ini semakin memperkuat bagaimana sinergi pengelolaan air dan energi dapat dilakukan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.
Masjid dan Lingkungan sebagai Lokasi Strategis Penghematan Air
Masjid berperan strategis dalam kampanye penghematan air karena berbagai kegiatan ibadah melibatkan keran air. Desain ulang keran agar debit air dapat dikontrol menjadi langkah yang disarankan. Hal ini dapat mengarah pada pengurangan penggunaan air berlebih sekaligus meningkatkan kesadaran jamaah.
Selain itu, penerapan teknologi pengolahan limbah air secara berkelanjutan di lingkungan sekitar masjid maupun perumahan membantu menumbuhkan kebiasaan baik dalam pemanfaatan air. Kampanye edukasi hemat air yang melibatkan masyarakat juga harus diperkuat agar perubahan perilaku dapat terjadi secara kolektif.
Kesadaran bahwa wudu sesuai sunah tidak mengharuskan penggunaan air berlebihan perlu terus disebarluaskan. Menghemat air bukan hanya soal menurunkan biaya atau membatasi kebutuhan, tetapi juga menjadi bagian dari menjaga kelestarian sumber daya alam yang mendukung keberlangsungan hidup umat manusia.
Kegiatan yang sudah dilakukan PPLI dan LAZNAS Al-Azhar dapat menjadi contoh nyata yang dapat diikuti oleh berbagai pihak di seluruh Indonesia. Kolaborasi antara organisasi, pemerintah, dan masyarakat diyakini mampu mewujudkan penggunaan air yang lebih bijak khususnya selama bulan Ramadan dan seterusnya. Dengan begitu, air dapat tetap tersedia untuk generasi berikutnya tanpa mengorbankan kebutuhan ibadah dan aktivitas sehari-hari masyarakat.
