Elon Musk menyatakan xAI sedang dibangun ulang dari fondasi setelah serangkaian hengkangnya pendiri dan insinyur senior. Dalam pernyataannya di X, Musk juga meminta maaf kepada kandidat yang dulu ditolak dan mengatakan riwayat wawancara lama kini sedang ditinjau ulang.
Pernyataan itu muncul saat stabilitas internal xAI menjadi sorotan. Sejumlah keluarnya tokoh penting memicu pertanyaan tentang arah perusahaan, struktur organisasi, dan kemampuan startup AI itu untuk bersaing di tengah perlombaan teknologi yang makin ketat.
xAI dirombak dari dasar
Musk menulis bahwa xAI “tidak dibangun dengan benar pada percobaan pertama” sehingga kini perlu “dibangun ulang dari fondasi.” Ia membandingkan proses itu dengan fase awal Tesla, yang menurutnya juga pernah mengalami perombakan mendasar sebelum berkembang.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa persoalan di xAI bukan sekadar pergantian personel. Ada indikasi bahwa desain organisasi, proses kerja, dan pengambilan keputusan kini sedang dievaluasi ulang untuk menopang tahap pertumbuhan berikutnya.
Musk juga mengakui proses rekrutmen xAI kemungkinan melewatkan talenta kuat. Ia menyebut banyak kandidat berbakat dalam beberapa tahun terakhir tidak mendapat tawaran kerja, bahkan ada yang tidak sempat diwawancarai.
Dalam unggahannya, Musk menyampaikan permintaan maaf kepada para kandidat tersebut. Ia mengatakan sedang menelusuri kembali histori wawancara bersama Baris Akis untuk menghubungi ulang kandidat yang dinilai menjanjikan.
Gelombang keluar dari tim inti
Tekanan terhadap xAI meningkat setelah beberapa nama penting mengonfirmasi kepergian mereka. Dalam beberapa hari terakhir, dua cofounder, Yuhuai “Tony” Wu dan Jimmy Ba, menyatakan mundur dari perusahaan.
Wu menyebut dirinya memasuki “bab berikutnya.” Ba juga menyatakan saatnya “mengalibrasi ulang” pandangan besarnya, menandakan perubahan personal sekaligus profesional dari jajaran pendiri awal.
Daftar nama yang dikaitkan dengan gelombang exit ini tidak berhenti di situ. Sejumlah figur senior seperti Toby Pohlen dan Greg Yang disebut telah pergi, sementara laporan lain menyebut Zihang Dai telah keluar dan Guodong Zhang diperkirakan menyusul.
Situasi ini membuat jumlah pemimpin awal yang masih bertahan di xAI menyusut signifikan. Bagi perusahaan teknologi yang masih dalam fase pembentukan identitas produk, perubahan seperti ini dapat memengaruhi kecepatan eksekusi dan kesinambungan visi.
Sorotan pada arah produk dan isu keselamatan
Laporan The Verge menyebut keluarnya sejumlah karyawan mungkin mencerminkan persoalan yang lebih dalam. Beberapa mantan pegawai dikabarkan merasa tidak nyaman dengan arah pengembangan produk dan prioritas yang diambil perusahaan.
Salah satu keluhan yang mencuat berkaitan dengan Grok, chatbot AI milik xAI. Menurut laporan itu, sebagian pihak di dalam perusahaan menilai asosiasi Grok dengan konten NSFW makin kuat, sementara pengawasan keselamatan dianggap tidak mendapat perhatian yang cukup.
The Verge juga mengutip klaim seorang mantan insider yang menyebut tim yang menangani isu keselamatan telah dihapus. Menurut sumber tersebut, yang tersisa hanya sistem penyaringan dasar untuk membatasi konten bermasalah.
Kutipan yang paling tajam dalam laporan itu berbunyi, “Safety is a dead org at xAI.” Klaim ini belum menjadi pernyataan resmi perusahaan, namun cukup untuk menambah perhatian publik pada tata kelola dan mitigasi risiko dalam pengembangan AI.
Masalah lain yang dilaporkan adalah kekhawatiran bahwa xAI belum benar-benar melampaui pesaingnya. Sejumlah mantan karyawan menilai perusahaan lebih banyak mengejar fitur yang sudah lebih dulu dirilis laboratorium AI lain.
Salah satu sumber yang dikutip The Verge menyatakan, “Trying to do what OpenAI was doing a year ago is not how you beat OpenAI.” Komentar itu menggambarkan keraguan internal soal strategi diferensiasi xAI di pasar.
Jam kerja ekstrem dan burnout
Perubahan internal di xAI juga memicu sorotan pada budaya kerja. Haotian Liu, seorang insinyur yang menyatakan telah meninggalkan xAI setelah dua tahun, menyebut keputusannya sebagai langkah yang sulit.
Dalam unggahannya di X, Liu mengatakan pengalaman di xAI sangat menantang sekaligus berharga. Namun ia juga mengakui ritme kerja yang sangat cepat pada akhirnya membuat dirinya kelelahan.
Ia menulis, “I’m burnt out, and I know my happiness is no longer maximized in my current state.” Pernyataan itu menguatkan laporan tentang tekanan kerja tinggi di perusahaan AI yang berlomba mengejar kemajuan model dan produk.
Beberapa diskusi daring sebelumnya juga menyinggung jam kerja sangat panjang di xAI. Ada insinyur yang mengaku baru menuntaskan hari kerja selama 19 jam, sementara pegawai lain menyebut pernah meninggalkan kantor setelah sekitar 36 jam bekerja terus-menerus.
Pendukung xAI melihat pola itu sebagai cerminan urgensi perlombaan AI global. Namun kritik menilai jadwal ekstrem semacam itu dapat memperbesar risiko burnout, menaikkan turnover, dan mengganggu kualitas pengembangan jangka panjang.
Apa yang sedang dipertaruhkan
Perombakan xAI terjadi saat perusahaan bergerak di bawah payung organisasi yang terhubung dengan bisnis lain milik Musk, termasuk X dan SpaceX. Integrasi ini bisa membuka akses sumber daya lebih besar, tetapi juga menambah kompleksitas koordinasi dan arah strategis.
Di saat yang sama, langkah Musk meninjau ulang kandidat lama menunjukkan bahwa xAI sedang mencari fondasi baru, bukan hanya pengganti cepat untuk posisi yang kosong. Cara perusahaan membangun kembali tim, memperjelas prioritas produk, dan menjawab kekhawatiran soal keselamatan akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah xAI mampu keluar dari fase guncangan internal dan kembali bersaing serius di industri AI.
Source: www.indiatoday.in






