Hakim Sita Smartglasses Saksi, Skema Sontekan di Ruang Sidang Terbongkar

Pengadilan menyita sepasang smartglasses setelah seorang saksi diduga menerima arahan jawaban secara diam-diam saat memberikan keterangan. Peristiwa ini menambah sorotan negatif terhadap perangkat wearable yang kini makin populer, tetapi juga makin sering dikaitkan dengan isu privasi dan penyalahgunaan.

Menurut laporan perkara yang dikutip media teknologi Android Police, insiden itu terjadi dalam sebuah sidang pada Januari. Hakim kemudian menilai kesaksian pihak yang bersangkutan tidak dapat dipercaya setelah perangkat dan ponselnya diperiksa.

Saksi diduga dibimbing saat memberi keterangan

Dalam uraian perkara, saksi bernama Laimonas Jakstys dipanggil untuk memberikan bukti di pengadilan dengan bantuan penerjemah. Penerjemah itu duduk di sampingnya di kursi saksi selama proses pemeriksaan berlangsung.

Tak lama setelah sidang dimulai, penerjemah dan seorang solicitor disebut mendengar suara “interference” atau gangguan audio. Mereka lalu menyadari Jakstys mengenakan smartglasses saat menjawab pertanyaan.

Hakim kemudian meminta agar smartglasses itu dilepas supaya pemeriksaan silang bisa dilanjutkan tanpa gangguan. Di tengah penerjemahan sebuah pertanyaan, suara seseorang terdengar melalui ponsel Jakstys dan memunculkan dugaan bahwa orang tersebut sebelumnya berbicara kepadanya lewat smartglasses.

Jakstys membantah bahwa perangkat itu dipakai untuk membisikkan jawaban. Ia juga mengatakan suara yang terdengar dari ponselnya adalah ChatGPT.

Namun, setelah ponsel dan smartglasses disita, pemeriksaan menemukan adanya serangkaian panggilan masuk dan keluar dari satu nomor tertentu. Jakstys disebut menjelaskan bahwa nomor itu milik seorang sopir taksi.

Temuan hakim dan dampaknya pada kesaksian

Hakim mencatat perubahan perilaku saksi setelah smartglasses dilepas. Dalam catatan perkara, hakim menulis, “Once Mr Jakstys no longer had his smartglasses, he hesitated quite a bit before providing answers to questions.”

Hakim juga menyampaikan penilaian yang tegas terhadap keterangannya. Dalam kutipan putusan yang sama, hakim menyatakan, “I reject Mr Jakstys evidence in its entirety. He was untruthful in relation to his use about the smartglasses and in being coached through the smartglasses.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa masalah dalam kasus ini bukan hanya kepemilikan perangkat pintar. Inti persoalannya adalah dugaan upaya memengaruhi jalannya persidangan dengan bantuan teknologi komunikasi yang sulit terdeteksi secara kasatmata.

Mengapa smartglasses memicu kekhawatiran baru

Model smartglasses yang dipakai dalam sidang itu tidak diungkap dalam detail perkara. Meski begitu, Android Police menilai perangkat tersebut bisa saja memiliki fitur seperti kacamata pintar modern yang dilengkapi speaker internal serta kemampuan menelepon saat terhubung ke ponsel.

Kemampuan itu menjadikan smartglasses berbeda dari kacamata biasa. Dari luar, perangkat ini sering tampak normal, tetapi dapat berfungsi sebagai alat audio, kamera, dan antarmuka asisten digital.

Dalam konteks ruang sidang, kombinasi fitur tersebut menimbulkan risiko serius. Pihak pengadilan perlu memastikan bahwa saksi memberi jawaban secara mandiri, bukan atas instruksi real-time dari pihak lain.

Teknologi yang tumbuh cepat, tetapi reputasinya tertekan

Kasus ini muncul saat industri smartglasses sedang mencoba berkembang lebih luas. Menurut laporan referensi, para analis pada akhir 2025 sempat menyebut 2026 sebagai tahun potensial bagi ledakan pasar smartglasses.

Penjualan dilaporkan mencapai level rekor, sehingga Meta dan EssilorLuxottica disebut menggandakan produksi pada akhir 2025 untuk mengejar permintaan. Di saat yang sama, Samsung dan Google juga disebut bersiap meluncurkan produk smartglasses mereka pada tahun ini.

Namun, momentum bisnis itu dibayangi serangkaian kontroversi. Sebelumnya, smartglasses telah dikritik karena dipakai untuk merekam perempuan di jalan tanpa persetujuan, dan Meta juga menghadapi sorotan terkait akses kontraktor pihak ketiga terhadap gambar-gambar sensitif dari kamera perangkat.

Daftar kekhawatiran terhadap smartglasses saat ini dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Potensi perekaman tanpa izin di ruang publik.
  2. Risiko kebocoran atau akses tak semestinya terhadap data visual.
  3. Kemudahan menerima instruksi audio secara tersembunyi.
  4. Sulitnya orang lain membedakan perangkat aktif dan nonaktif.
  5. Tantangan baru bagi aturan di ruang sidang, sekolah, dan area privat.

Sorotan baru bagi regulator dan institusi

Kasus di pengadilan ini menunjukkan bahwa persoalan smartglasses tidak lagi sebatas privasi di ruang publik. Kini, perangkat tersebut juga memunculkan pertanyaan tentang integritas proses hukum, terutama ketika teknologi dapat dipakai untuk memberi arahan secara langsung kepada saksi tanpa mudah diketahui.

Sejumlah perangkat mobile memang sama-sama bisa disalahgunakan. Namun, smartglasses menghadirkan tantangan yang lebih kompleks karena bentuknya menyatu dengan aksesori sehari-hari, sementara fungsi komunikasi dan audio tetap aktif di hadapan hakim, pengacara, dan pihak lain dalam ruang sidang.

Source: www.androidpolice.com

Berita Terkait

Back to top button