
Dragonkin: The Banished resmi meluncur di Steam sebagai ARPG bertema naga yang langsung menarik perhatian pemain. Game ini sudah mengumpulkan lebih dari 1.000 ulasan positif, sebuah capaian awal yang menandakan minat tinggi di tengah ramainya pasar game bergaya Diablo.
Judul ini datang saat genre action RPG sedang padat oleh nama besar seperti Diablo 4, Path of Exile 2, dan Last Epoch. Di tengah persaingan itu, Dragonkin: The Banished mencoba menawarkan campuran formula klasik hack-and-slash dengan beberapa mekanik yang terasa berbeda.
ARPG baru dengan pendekatan kelas yang tidak biasa
Dragonkin: The Banished dikembangkan oleh Eko Software, studio indie yang kini masuk ke arena ARPG dengan ambisi cukup jelas. Berdasarkan informasi dari artikel referensi Notebookcheck, game ini tidak langsung memaksa pemain terkunci pada satu class sejak awal permainan.
Pada fase tutorial, pemain bisa mencoba semua class yang tersedia lebih dulu. Setelah itu, pemain baru memilih salah satu dari empat class utama, yakni Knight, Barbarian, Oracle, dan Tracker, lalu memulai progres karakter dari awal.
Pendekatan ini dinilai menarik karena memberi ruang eksplorasi lebih awal sebelum pemain berkomitmen pada gaya bermain tertentu. Di genre ARPG, keputusan class sejak menit pertama sering menjadi hambatan bagi pemain baru yang belum memahami ritme, skill, dan kebutuhan build di fase endgame.
Sistem build jadi daya tarik utama
Salah satu fitur yang paling sering dibahas adalah rancangan skill tree-nya. Notebookcheck menyebut sistem ini menghubungkan kemampuan utama dan support, lalu menempatkannya dalam grid berbentuk heksagonal.
Pada awal permainan, sebagian besar slot di grid masih terkunci. Slot tambahan akan terbuka seiring kenaikan level dan pencapaian batas level tertentu, sehingga proses pengembangan build terasa bertahap dan lebih terstruktur.
Mekanik ini memberi identitas tersendiri dibanding banyak ARPG lain yang lebih bergantung pada pohon pasif besar dan sering kali rumit. Bagi pemain yang menyukai eksperimen build, struktur heksagonal itu dapat menjadi alasan utama untuk mencoba game ini.
Pergantian build dibuat lebih praktis
Salah satu keluhan lama di genre ini adalah sulitnya berganti build tanpa mengulang banyak langkah. Dragonkin: The Banished mencoba menjawab masalah itu dengan fitur penyimpanan snapshot build, sehingga beberapa konfigurasi bisa disimpan dan dipanggil kembali dengan lebih mudah.
Fitur seperti ini penting karena build eksperimen adalah inti dari ARPG modern. Saat game lain sering membuat pergantian setup terasa mahal atau merepotkan, sistem snapshot memberi fleksibilitas yang lebih ramah bagi pemain yang ingin berganti gaya bermain untuk farming, bossing, atau endgame.
Respons pemain cukup kuat, tetapi tidak sepenuhnya bulat
Di Steam, game ini sudah melampaui angka 1.000 ulasan positif menurut artikel referensi. Banyak pemain memuji pendekatan gameplay yang disebut lebih segar, serta konten endgame yang dianggap cukup solid untuk ukuran pendatang baru.
Namun, tidak semua respons bernada positif penuh. Sejumlah pemain menilai game ini masih memiliki sisi kasar dan belum sepenuhnya matang, sesuatu yang juga disinggung dalam artikel referensi karena Eko Software masih tergolong pemain baru di ranah ARPG.
Sebagian kritik bahkan menyebut Dragonkin: The Banished terasa seperti klon Diablo 2 yang kurang bernyawa. Penilaian ini menunjukkan bahwa meski game berhasil mencuri perhatian, ia masih harus membuktikan diri di hadapan komunitas ARPG yang terkenal kritis soal inovasi, kedalaman sistem, dan kualitas endgame.
Hal yang menonjol dari Dragonkin: The Banished
Berikut beberapa poin penting yang membuat game ini menonjol di antara ARPG lain:
- Tema naga yang memberi identitas visual berbeda.
- Tutorial yang memungkinkan pemain mencoba semua class.
- Empat class awal: Knight, Barbarian, Oracle, dan Tracker.
- Skill tree dengan grid heksagonal untuk kombinasi ability dan support.
- Fitur snapshot build untuk pergantian setup yang lebih cepat.
- Lebih dari 1.000 ulasan positif di Steam.
Daftar itu menunjukkan bahwa daya tarik game ini tidak hanya bertumpu pada tema fantasi gelap. Ada beberapa keputusan desain yang memang diarahkan untuk menjawab keluhan umum pemain ARPG modern.
Harga dan posisi di pasar
Dragonkin: The Banished dijual di Steam seharga $22.49 menurut artikel referensi. Harga itu disebut 10% lebih rendah dari harga normalnya yang berada di $24, dengan promosi yang pada saat penulisan sumber masih berlaku sedikit lebih dari 24 jam.
Dari sisi positioning, banderol tersebut menempatkannya di segmen yang cukup kompetitif untuk game ARPG non-AAA. Harga yang lebih terjangkau bisa menjadi pintu masuk bagi pemain yang sedang mencari alternatif baru setelah menuntaskan season terbaru Path of Exile atau merasa jeda konten di ARPG favorit mereka mulai terasa.
Di pasar yang dipenuhi nama besar, Dragonkin: The Banished belum tentu langsung menjadi penantang utama. Namun, kombinasi tema naga, sistem build yang fleksibel, dan sambutan awal yang cukup kuat di Steam membuat game ini layak diperhatikan oleh penggemar Diablo-like yang sedang mencari pengalaman baru dengan pendekatan yang sedikit berbeda.
Source: www.notebookcheck.net






