Juri Nyatakan Musk Bersalah Tipu Pemegang Saham Twitter, Dua Cuitan Jadi Titik Balik

Juri federal di San Francisco memutus Elon Musk bertanggung jawab dalam gugatan perdata yang diajukan pemegang saham Twitter terkait upayanya menekan harga saham perusahaan saat proses akuisisi senilai $44 billion. Putusan ini menjadi perkembangan penting dalam sengketa panjang yang berawal dari pernyataan Musk soal akun palsu dan spam di platform tersebut.

Perkara ini berfokus pada dugaan bahwa Musk membuat pernyataan menyesatkan di media sosial setelah setuju membeli Twitter. Pemegang saham menilai pernyataan itu ikut mendorong penurunan harga saham, sehingga investor yang menjual saham dalam periode sengketa mengalami kerugian.

Putusan juri dan nilai gugatan

Menurut persidangan di pengadilan federal AS, juri menyatakan Musk bertanggung jawab atas dua pernyataan yang dipersoalkan para penggugat. Nilai ganti rugi belum ditetapkan, tetapi pengacara pemegang saham, Francis Bottini, memperkirakan totalnya bisa mencapai sekitar $2.5 billion.

Bottini menyatakan status Musk sebagai orang terkaya di dunia bukan alasan untuk lolos dari tanggung jawab hukum. Ia menegaskan bahwa pihak yang mampu menggerakkan pasar lewat unggahan media sosial tetap harus bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan kepada investor.

Tim hukum Musk dari Quinn Emanuel Urquhart & Sullivan menilai putusan itu hanya “hambatan di tengah jalan”. Mereka juga menyatakan akan menempuh banding dan berharap memperoleh pembenaran di tingkat selanjutnya.

Pernyataan yang dianggap menyesatkan

Kasus ini menguji tiga pernyataan Musk yang muncul tidak lama setelah ia menyepakati pembelian Twitter. Inti sengketanya adalah klaim Musk tentang besarnya proporsi bot di platform, yang menurut pemegang saham dipakai untuk menekan ulang syarat transaksi atau bahkan membuka jalan keluar dari kesepakatan.

Juri menyatakan Musk bertanggung jawab atas dua pernyataan berikut:

  1. Akuisisi disebut “sementara ditahan” sambil menunggu verifikasi bahwa bot berjumlah kurang dari 5% pengguna.
  2. Musk menyebut angka bot bisa jauh lebih tinggi dari 20% dan transaksi tidak dapat berjalan kecuali chief executive Twitter membuktikan jumlahnya di bawah 5%.

Namun, juri tidak mengabulkan seluruh dalil penggugat. Mereka menilai pemegang saham tidak berhasil membuktikan tuduhan terpisah bahwa Musk menjalankan skema penipuan yang lebih luas.

Argumen kedua pihak di pengadilan

Pihak penggugat berargumen bahwa komentarnya tentang bot bukan sekadar opini, melainkan pernyataan yang memengaruhi pasar. Mereka menyebut unggahan Musk memberi tekanan pada saham Twitter dalam masa ketika pasar menunggu kepastian apakah transaksi akan lanjut, dinegosiasi ulang, atau dibatalkan.

Tim pembela mengatakan kekhawatiran Musk terhadap bot adalah nyata. Pengacara Musk, Michael Lifrak, menyatakan bahwa berbicara soal masalah bot tidak otomatis membuktikan adanya penipuan atau niat menipu investor.

Persidangan perdata ini dimulai pada awal Maret, lalu juri mulai berunding pada pekan yang sama sebelum putusan diumumkan. Perkara tersebut dipantau luas karena menyangkut dampak langsung pernyataan tokoh berpengaruh terhadap harga saham perusahaan publik.

Latar belakang akuisisi Twitter

Musk pada akhirnya tetap menyelesaikan pembelian Twitter pada Oktober dan kemudian mengubah nama platform itu menjadi X. Namun sebelum transaksi rampung, hubungan antara Musk dan Twitter sempat memanas karena perdebatan terbuka mengenai jumlah akun palsu, kewajiban pengungkapan, dan syarat kesepakatan akuisisi.

Gugatan ini mencakup investor yang mengaku menjual saham Twitter pada harga yang telah ditekan secara artifisial dalam periode antara pertengahan Mei hingga awal Oktober. Dengan kata lain, inti tuntutan bukan hanya soal apakah akuisisi sempat terancam, tetapi juga apakah pernyataan publik Musk merugikan pemegang saham biasa di pasar.

Rekam jejak hukum Musk

Musk dikenal kerap melawan gugatan pemegang saham di pengadilan, bukan memilih penyelesaian damai. Pola itu terlihat dalam perkara lain, termasuk kasus terkait pernyataan “funding secured” tentang Tesla dan sengketa kompensasi besar di Delaware, di mana ia sempat memperoleh hasil yang menguntungkan.

Di luar perkara ini, Musk juga masih berhadapan dengan tekanan regulator. Ia dilaporkan sedang berdiskusi untuk menyelesaikan gugatan perdata dari U.S. Securities and Exchange Commission yang menuduhnya terlambat mengungkap pembelian awal saham Twitter, sehingga bisa menambah kepemilikan pada harga lebih rendah sebelum pasar mengetahui langkahnya.

Dampak bagi investor dan pasar

Putusan juri ini kembali menyoroti besarnya pengaruh unggahan media sosial terhadap valuasi perusahaan publik. Dalam konteks pasar modal AS, kasus tersebut dapat menjadi rujukan penting tentang batas antara kebebasan berpendapat seorang pemilik bisnis besar dan tanggung jawab hukum ketika pernyataannya dinilai memicu kerugian investor.

Besaran ganti rugi kini menjadi tahap yang akan diperhatikan berikutnya, bersamaan dengan rencana banding dari pihak Musk. Jika proses berlanjut, perkara ini berpotensi menjadi salah satu sengketa pasar modal paling menonjol yang berkaitan langsung dengan akuisisi Twitter/X dan efek pernyataan publik seorang miliarder terhadap perdagangan saham.

Source: www.indiatoday.in
Exit mobile version