
Samsung resmi memperkenalkan Exynos 1680 sebagai otak dari Galaxy A57. Chip ini membawa peningkatan di CPU, GPU, dan NPU, tetapi arah pembaruannya terlihat lebih sebagai penyempurnaan daripada lompatan besar.
Bagi pembaca yang mencari jawaban singkat, Exynos 1680 tampak cukup baik untuk kelas menengah Samsung. Namun, dari data spesifikasi yang diungkap, performanya belum otomatis menjadikannya sebagai chip paling agresif di segmen mid-range.
Peningkatan utama Exynos 1680
Samsung Semiconductor mengungkap bahwa Exynos 1680 masih dibuat dengan proses fabrikasi 4nm. Artinya, fondasi manufakturnya tidak berubah dari Exynos 1580 yang sebelumnya dipakai pada Galaxy A56.
Perubahan paling penting ada di susunan CPU. Jika Exynos 1580 memakai konfigurasi 1+3+4, Exynos 1680 beralih ke 1+4+3 dengan inti Cortex-A720 dan Cortex-A520 yang tetap dipertahankan.
Langkah ini berarti satu inti kecil diganti menjadi inti menengah. Secara teori, pendekatan tersebut bisa memberi dorongan pada performa multi-core, terutama untuk tugas seperti encoding video, multitasking berat, dan emulasi.
Android Authority menilai perubahan ini sebagai upgrade yang bersifat iteratif. Penilaian itu masuk akal karena Samsung tidak mengubah arsitektur inti CPU secara mendasar, tetapi hanya menyusun ulang komposisi klaster agar beban kerja menengah bisa ditangani lebih baik.
GPU lebih cepat, tetapi ekspektasi tetap perlu dijaga
Di sektor grafis, Exynos 1680 memakai GPU Xclipse 550 berbasis AMD RDNA 3. Samsung mengklaim GPU ini 16% lebih cepat dibanding Xclipse 540 pada Exynos 1580.
Klaim itu cukup menarik karena keduanya sama-sama disebut memiliki dua work group processors. Jika peningkatan tersebut konsisten di penggunaan nyata, Galaxy A57 semestinya menawarkan pengalaman gaming yang lebih stabil dan responsif daripada generasi sebelumnya.
Meski begitu, angka di atas kertas belum selalu menjamin lonjakan besar di tangan pengguna. Apalagi Android Authority sempat menyinggung bahwa performa Galaxy A56 belum terlalu mengesankan saat diuji, sehingga Exynos 1680 tetap perlu dibuktikan lewat benchmark independen dan penggunaan harian.
NPU naik, potensi AI lokal ikut membaik
Samsung juga meningkatkan kemampuan NPU pada Exynos 1680. Kinerja komputasi AI-nya kini mencapai 19,6 TOPs, naik dari 14,7 TOPs pada Exynos 1580.
Kenaikan ini memang tidak ekstrem, tetapi tetap penting. Di kelas menengah, peningkatan NPU bisa membantu fitur berbasis AI di perangkat, seperti pemrosesan gambar, pengenalan suara, dan tugas inferensi lokal yang tidak selalu bergantung pada cloud.
Masalahnya, Galaxy A57 sendiri tidak hadir sebagai perangkat yang penuh fitur Galaxy AI. Jadi, kekuatan NPU yang lebih baik belum tentu langsung terasa maksimal, kecuali Samsung membuka lebih banyak fitur AI di lini A-series ke depan.
Dukungan memori dan konektivitas lebih modern
Exynos 1680 juga membawa dukungan untuk LPDDR5X dan UFS 4.1. Ini menjadi kabar baik karena memori dan penyimpanan yang lebih cepat bisa memengaruhi waktu buka aplikasi, kecepatan transfer data, dan respons sistem secara umum.
Di sektor konektivitas, Samsung ikut menghadirkan Bluetooth 6.1, naik dari Bluetooth 5.4 pada generasi sebelumnya. Pembaruan ini memberi sinyal bahwa Galaxy A57 diposisikan agar tetap relevan untuk aksesori nirkabel yang lebih baru.
Untuk kemampuan multimedia, banyak hal tetap sama. Chip ini masih mendukung kamera tunggal hingga 200MP, sistem kamera ganda 32MP+32MP, perekaman 4K 60fps, serta layar FHD+ dengan refresh rate hingga 144Hz.
Seberapa bagus untuk Galaxy A57?
Jika diringkas, nilai jual Exynos 1680 ada pada tiga aspek berikut:
- Susunan CPU baru yang berpotensi meningkatkan performa multi-core.
- GPU Xclipse 550 dengan klaim peningkatan 16%.
- NPU 19,6 TOPs serta dukungan LPDDR5X, UFS 4.1, dan Bluetooth 6.1.
Namun, ada juga batasannya. Exynos 1680 masih menggunakan proses 4nm yang sama dan tidak membawa perubahan radikal pada fondasi arsitektur CPU.
Dalam persaingan pasar, itu berarti Galaxy A57 kemungkinan tampil lebih rapi dan efisien, tetapi belum tentu paling kencang di kelasnya. Android Authority bahkan menilai Tensor G4 pada Pixel 10a berpotensi menjadi tandingan yang sangat kuat bagi chip baru Samsung ini.
Samsung juga dikenal sering menurunkan chip lini A5x ke seri A3x pada generasi berikutnya. Karena itu, Exynos 1680 berpeluang muncul lagi di perangkat Galaxy A-series lain setelah Galaxy A57, sehingga dampaknya tidak hanya terbatas pada satu model saja.
Bila fokusnya adalah peningkatan yang aman dan terukur, Exynos 1680 bisa disebut solid untuk Galaxy A57. Namun bagi pengguna yang menunggu revolusi performa besar dari ponsel menengah Samsung, chip ini lebih tepat dibaca sebagai penyegaran cerdas dengan beberapa peningkatan penting di area yang memang paling sering dipakai sehari-hari.
Source: www.androidauthority.com








