
Meta kembali melakukan pemangkasan tenaga kerja dan kali ini beberapa ratus karyawan terdampak di sejumlah divisi utama, termasuk Facebook, Reality Labs, operasi global, rekrutmen, dan penjualan. Langkah ini muncul ketika perusahaan induk Facebook itu berupaya menahan biaya di tengah proyeksi total pengeluaran 2026 yang berada di kisaran $162 miliar hingga $169 miliar, dengan dorongan besar dari investasi kecerdasan buatan.
Pemotongan terbaru ini menambah sinyal bahwa restrukturisasi di dalam Meta belum selesai. Meski skalanya lebih kecil dibanding laporan sebelumnya yang sempat menyebut potensi pemangkasan jauh lebih besar, perusahaan tetap mengarahkan sumber daya ke AI sambil menekan area bisnis yang dinilai belum memberi hasil sepadan.
Divisi yang paling terdampak
Pemangkasan ini menyasar beberapa unit sekaligus, bukan hanya satu lini bisnis. Karyawan di Facebook, Reality Labs, global operations, recruiting, dan sales ikut terkena dampak, baik di pasar domestik maupun luar negeri.
Menurut pernyataan juru bicara Meta, perusahaan secara berkala menata ulang tim agar lebih siap mencapai target bisnisnya. Dalam pernyataannya, Meta juga menegaskan bahwa perusahaan berusaha mencarikan peluang lain bagi karyawan yang posisi kerjanya terdampak, meski sebagian dari mereka mungkin perlu pindah lokasi.
Rangkaian efisiensi di tengah belanja AI yang besar
Pemutusan kerja ini bukan langkah pertama Meta pada tahun ini. Pada awal tahun, perusahaan disebut memangkas sekitar 1.500 posisi di divisi Reality Labs, setelah sebelumnya juga memangkas sekitar 5% karyawan dengan kinerja lebih rendah pada tahap awal restrukturisasi.
Data dalam laporan tahunan Meta menunjukkan jumlah karyawan globalnya hampir 79.000 orang per akhir Desember. Artinya, pemangkasan terbaru memang hanya sebagian kecil dari total tenaga kerja, namun tetap penting karena menunjukkan penyesuaian struktur yang terus berlangsung di salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.
Di mana tekanan biaya paling besar datang
Meta sedang menambah investasi besar-besaran di infrastruktur AI, termasuk data center dan server. Perusahaan memperkirakan belanja modal 2026 berada di rentang $115 miliar hingga $135 miliar, angka yang menggambarkan besarnya komitmen terhadap infrastruktur komputasi untuk mendukung ekspansi AI.
Berikut rangkuman tekanan biaya yang membentuk keputusan perusahaan:
- Total pengeluaran 2026 diproyeksikan mencapai $162 miliar hingga $169 miliar.
- Belanja modal untuk AI dan infrastruktur diperkirakan $115 miliar hingga $135 miliar.
- Biaya kompensasi karyawan ikut naik karena Meta agresif memburu talenta AI papan atas.
- Unit yang belum memberi hasil memadai, terutama Reality Labs, menjadi sasaran efisiensi.
Reality Labs tetap jadi titik paling sensitif
Reality Labs kembali menjadi unit dengan tekanan paling berat dalam restrukturisasi Meta. Divisi ini mengelola perangkat virtual reality, pengembangan augmented reality awal, dan inisiatif metaverse yang selama ini menyerap biaya sangat besar.
Namun, hasil bisnis dari arah tersebut belum sebanding dengan investasi yang dikeluarkan. Karena itu, Meta kini menggeser fokus ke perangkat wearable terintegrasi AI dan kacamata augmented reality sebagai garis depan produk konsumen berikutnya.
Perubahan ini menandai pergeseran strategi yang cukup tajam. Beberapa tahun lalu, metaverse menjadi identitas utama perusahaan, tetapi kini arah itu perlahan digantikan oleh ambisi membangun generasi baru produk berbasis AI.
Apakah pemangkasan yang lebih besar masih mungkin terjadi
Sebelum pemotongan terbaru diumumkan, laporan lain sempat menyebut Meta mempertimbangkan pemangkasan yang bisa mencapai 20% atau lebih dari sekitar 79.000 tenaga kerjanya. Jika skenario itu terjadi, jumlahnya bisa menyentuh sekitar 15.800 posisi.
Meta membantah angka tersebut dengan menyebut laporan itu spekulatif. Meski begitu, perusahaan belum menutup kemungkinan restrukturisasi lanjutan, sehingga pasar masih memantau apakah gelombang efisiensi berikutnya akan muncul jika tekanan biaya tetap tinggi.
AI menjadi pusat strategi bisnis dan organisasi
CEO Mark Zuckerberg telah menempatkan AI sebagai prioritas utama perusahaan. Ia menyebut AI akan mengubah cara kerja di seluruh lini bisnis, dari produk sampai operasional internal.
Untuk memperkuat arah itu, Meta juga membentuk Meta Superintelligence Labs dan menyiapkan program saham baru bagi sejumlah eksekutif senior, termasuk Susan Li, Andrew Bosworth, Christopher Cox, dan Javier Olivan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan ingin mengunci kepemimpinan jangka panjang untuk fase pembangunan AI yang kemungkinan berlangsung lama.
Di tengah pengurangan karyawan di beberapa unit, Meta justru mempercepat perekrutan talenta AI dan membangun ulang struktur organisasi agar dana dan tenaga kerja lebih terkonsentrasi pada bidang yang dianggap paling strategis.
Source: sundayguardianlive.com








