Petir Jupiter Melampaui Bumi, Rahasia Cuaca Ekstrem Di Planet Raksasa

Penelitian terbaru mengungkap bahwa petir di Jupiter bisa jauh lebih ekstrem daripada petir di Bumi. Dalam kondisi tertentu, kekuatannya diperkirakan dapat mencapai satu juta kali lipat petir yang biasa kita lihat di planet kita.

Temuan itu muncul dari analisis data wahana antariksa Juno milik NASA, yang tidak hanya memotret awan Jupiter tetapi juga merekam emisi radio dan gelombang mikro dari badai di planet raksasa tersebut. Cara ini membantu ilmuwan menembus penghalang awan tebal yang selama puluhan tahun menyulitkan pengamatan langsung.

Mengapa petir Jupiter begitu sulit dipahami

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan sudah melihat kilatan cahaya di sisi gelap Jupiter dari berbagai misi ruang angkasa. Namun, mereka belum mudah mengukur seberapa kuat petir itu karena awan Jupiter sangat rapat dan terus berubah.

Michael Wong, ilmuwan planet dari University of California, Berkeley, menjelaskan bahwa timnya memakai pendekatan berbeda untuk memecahkan teka-teki itu. Mereka meneliti sinyal radio dari petir, bukan hanya mengandalkan gambar visual yang sering tertutup awan.

Pendekatan ini penting karena petir di Jupiter tidak berdiri sendiri. Planet itu kerap mengalami banyak badai sekaligus, sehingga sumber kilatan cahaya dan denyut radio sering bercampur dan sulit dipisahkan.

Momen langka saat badai mereda

Penelitian ini terbantu oleh kondisi langka pada 2021 dan 2022 saat aktivitas badai di sabuk khatulistiwa utara Jupiter menurun. Situasi ini memberi kesempatan bagi ilmuwan untuk fokus pada satu sistem badai besar yang disebut “stealth superstorms”.

Badai tersebut tidak selalu tampak sebagai struktur raksasa yang menjulang sangat tinggi. Meski begitu, badai ini bertahan berbulan-bulan dan menghasilkan petir dengan intensitas tinggi secara berulang.

Wong mengatakan analisis statistik data Juno memberi keyakinan bahwa timnya menangkap sebagian besar denyut petir pada panjang gelombang radio. Ia juga menepis kekhawatiran bahwa pengukuran itu hanya mencatat kilatan terkuat dan mengabaikan yang lebih lemah.

Seberapa kuat petirnya

Dari 613 denyut yang diukur, para peneliti menemukan bahwa kekuatan rata-rata petir di Jupiter berkisar dari setara petir di Bumi hingga 100 kali lebih kuat. Dalam perhitungan tertentu berdasarkan perbedaan panjang gelombang radio, kekuatannya bahkan diperkirakan dapat mencapai satu juta kali lipat.

Perbedaan itu tidak lepas dari komposisi atmosfer. Atmosfer Bumi didominasi nitrogen, sementara Jupiter didominasi hidrogen yang jauh lebih ringan dan memiliki dinamika cuaca berbeda.

Kondisi tersebut membuat udara lembap di Jupiter lebih sulit naik ke atas. Akibatnya, badai butuh akumulasi energi panas yang jauh lebih besar untuk membentuk petir dengan energi ekstrem.

Fakta penting dari penelitian

  1. Data utama berasal dari wahana antariksa Juno milik NASA.
  2. Analisis dilakukan lewat emisi radio dan gelombang mikro, bukan hanya citra visual.
  3. Peneliti mencatat 613 denyut petir dalam pengamatan.
  4. Kekuatan petir rata-rata berada pada kisaran setara Bumi hingga 100 kali lebih kuat.
  5. Perkiraan tertinggi menunjukkan petir Jupiter bisa mencapai kekuatan satu juta kali petir Bumi.
  6. Studi ini diterbitkan dalam jurnal AGU Advances.

Apa arti temuan ini bagi ilmu planet

Temuan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana konveksi dan perpindahan panas bekerja di planet gas raksasa. Dalam konteks Jupiter, proses pembentukan badai tampaknya sangat dipengaruhi oleh atmosfer hidrogen, ukuran badai, dan ketinggian awan yang berbeda jauh dari Bumi.

Sebagai pembanding, badai di Jupiter bisa mencapai ketinggian sekitar 100 kilometer. Di Bumi, badai umumnya hanya menjulang sekitar 10 kilometer, sehingga skala energinya memang berbeda jauh.

Wawasan ini juga memperkuat gambaran bahwa Jupiter adalah salah satu tempat dengan cuaca paling ekstrem di tata surya. Dari badai besar hingga petir superkuat, planet ini terus memberi petunjuk penting tentang perilaku atmosfer di luar Bumi.

Temuan dari Juno belum menutup semua pertanyaan, tetapi data radio yang dikumpulkan kini memberi dasar yang jauh lebih kuat untuk mempelajari bagaimana petir terbentuk di planet gas raksasa. Penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk menjelaskan mengapa kondisi atmosfer Jupiter mampu menghasilkan kilatan listrik dengan tenaga sedemikian besar dan mengapa beberapa badai di sana bisa bertahan begitu lama.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button