
Ayaneo terpaksa menghentikan sementara pre-order Next 2 setelah lonjakan biaya RAM dan penyimpanan membuat harga jualnya tak lagi masuk akal. Perangkat genggam Windows 11 ini sebenarnya sudah diposisikan sebagai produk premium, tetapi kondisi pasar memaksa biaya komponennya naik jauh di atas harga awal yang dipatok.
Kisah Next 2 menunjukkan bagaimana krisis memori ikut memukul perangkat niche dengan spesifikasi tinggi. Pada tahap awal, Ayaneo masih berupaya meluncurkan produk meski margin keuntungannya tipis, namun kenaikan harga komponen berlangsung lebih cepat dari perkiraan.
Harga yang melonjak jauh dari rencana awal
Next 2 semula dibuka dari harga $2.000, sementara versi early-bird tersedia mulai $1.800. Model tersebut memakai chip AMD Ryzen AI Max 385, RAM LPDDR5X 32GB, dan penyimpanan 1TB.
Di sisi lain, varian tertinggi dibekali Ryzen AI Max 395+, RAM 128GB, dan SSD 2TB. Harga awalnya berada di $4.300, atau $3.500 untuk pre-order awal, sebelum biaya produksi membengkak tajam.
- Versi dasar: $1.800 early-bird
- Harga awal model utama: $2.000
- Varian flagship: $4.300
- Harga early-bird flagship: $3.500
- Proyeksi biaya terbaru untuk varian atas: mendekati $8.000
Ayaneo menyebut total biaya produk kini bahkan melampaui harga jual yang sudah ditetapkan. Dalam pernyataannya di halaman Indiegogo, perusahaan menegaskan bahwa kenaikan harga storage telah berlangsung selama beberapa bulan sebelum peluncuran, lalu terus bergerak naik dengan lebih cepat.
Mengapa penjualan Next 2 dihentikan sementara
Pihak Ayaneo menyampaikan bahwa kondisi saat ini membuat penjualan Next 2 “tidak lagi berkelanjutan”. Perusahaan mengaku semula siap menerima margin sangat kecil, bahkan kemungkinan rugi tipis, demi membawa produk ke pasar.
Namun, situasi berubah ketika biaya komponen meningkat lebih agresif dari dugaan. Ayaneo mengatakan total ongkos produksi kini hampir dua kali lipat dari harga yang ditetapkan, sehingga melanjutkan penjualan menjadi tidak realistis.
Sebagai respons, pre-order baru dihentikan sementara. Meski begitu, perusahaan menegaskan bahwa pesanan yang sudah masuk tetap akan dipenuhi dan unit akan dikirim sesuai komitmen.
Dampak krisis memori bagi perangkat Windows handheld
Kasus Next 2 memperlihatkan betapa rapuhnya model bisnis perangkat gaming handheld kelas atas. Produk seperti ini mengandalkan komponen cepat dan mahal, sehingga kenaikan harga memori bisa langsung menggerus profit.
Kondisi tersebut makin berat bagi produsen kecil yang tidak punya skala produksi besar. Saat biaya RAM dan storage naik serentak, mereka sulit menyesuaikan harga tanpa keluar dari batas kemampuan pasar.
Berikut faktor yang paling memengaruhi keputusan Ayaneo:
| Faktor | Dampak |
|---|---|
| Harga RAM naik | Biaya produksi melonjak |
| Harga storage naik | Margin keuntungan menipis |
| Spesifikasi flagship | Harga akhir menjadi sangat tinggi |
| Skala produksi kecil | Sulit menyerap kenaikan biaya |
| Pasar niche | Permintaan sensitif terhadap harga |
Spesifikasi tetap menarik, tetapi pasar belum tentu siap
Secara teknis, Next 2 tetap menawarkan spesifikasi yang sangat tinggi untuk kelas handheld Windows. Perangkat ini membawa layar OLED 9,06 inci beresolusi 2K dengan refresh rate 165Hz, baterai 116Wh, dan SSD 1TB.
Namun, spesifikasi premium saja tidak cukup untuk menahan dampak biaya komponen yang naik tajam. Dalam segmen handheld, harga jual yang terlalu tinggi sering menjadi penghalang utama, bahkan ketika perangkat menawarkan performa yang sangat kuat.
Ayaneo masih membuka peluang bahwa Next 2 bisa kembali dijual jika krisis komponen mereda. Tetapi untuk saat ini, pasar harus menerima kenyataan bahwa salah satu handheld Windows paling ambisius itu tertahan bukan karena keterbatasan teknologi, melainkan karena harga memori yang terus menekan seluruh kalkulasi bisnisnya.
Source: www.xda-developers.com






