Valve dikabarkan sedang menyiapkan headset VR mandiri baru bernama Steam Frame. Salah satu kemampuan yang paling menyita perhatian adalah potensi perangkat ini untuk menjalankan game dari ekosistem Meta Quest melalui mode mandiri berbasis Android dan lapisan kompatibilitas bernama “Lapton”.
Informasi itu muncul dari pembahasan Cas and Chary XR yang menyoroti arah desain Steam Frame sebagai perangkat serbaguna. Jika akurat, langkah ini bisa membuat headset Valve berbeda dari pesaing karena tidak hanya mengandalkan game Steam, tetapi juga membuka akses ke konten Android yang lebih luas.
Potensi menjalankan game Meta Quest
Inti daya tarik Steam Frame ada pada pendekatan ekosistem yang lebih terbuka. Berdasarkan referensi yang beredar, perangkat ini dirancang untuk bekerja dalam tiga skenario utama, yaitu headset VR mandiri, headset PC VR nirkabel, dan komputer spasial berbasis Linux.
Dalam mode mandiri, Steam Frame disebut memakai fondasi Android untuk menjalankan aplikasi secara independen tanpa PC. Dukungan lapisan kompatibilitas “Lapton” inilah yang disebut berpotensi membuat aplikasi dan game dari platform Quest bisa berjalan, meski tingkat kinerja dan kompatibilitas nyatanya masih perlu dibuktikan saat produk resmi dirilis.
Valve juga disebut menyiapkan lapisan lain bernama “Fax” untuk game PC x86. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perusahaan ingin menghadirkan satu perangkat yang mampu menjembatani dunia PC, Android, dan komputasi spasial dalam satu ekosistem.
Bila strategi ini berhasil, pengguna bisa mendapatkan fleksibilitas yang selama ini jarang hadir di pasar VR. Headset tidak hanya berfungsi sebagai perangkat untuk bermain game SteamVR, tetapi juga berpotensi menjadi pintu masuk ke pustaka aplikasi yang selama ini identik dengan perangkat Meta.
Harga dan jadwal rilis yang beredar
Menurut referensi yang sama, Steam Frame diperkirakan meluncur pada akhir 2026. Kisaran harga yang disebut berada di rentang $700 hingga $1,200, menempatkannya di kelas premium namun masih di bawah beberapa perangkat mixed reality kelas atas lain di pasar.
Belum ada konfirmasi resmi dari Valve mengenai nama komersial, spesifikasi akhir, atau jadwal pengumuman. Karena itu, semua detail yang beredar saat ini masih perlu diperlakukan sebagai laporan awal, bukan spesifikasi final.
Fitur utama yang paling menonjol
Sejumlah aspek teknis membuat perangkat ini terlihat ambisius. Berikut fitur yang paling banyak dibahas dalam laporan referensi:
- Dukungan VR mandiri berbasis Android.
- Streaming PC VR nirkabel dengan latensi rendah.
- Sistem operasi SteamOS berbasis Linux.
- Lapisan kompatibilitas “Lapton” untuk aplikasi Android.
- Lapisan “Fax” untuk game PC x86.
- Eye-tracking dengan foveated rendering.
- Dual wireless radios untuk koneksi lebih stabil.
- Lensa pancake kustom dan panel LCD resolusi tinggi.
Kombinasi itu menempatkan Steam Frame sebagai perangkat yang tidak hanya mengejar performa, tetapi juga fleksibilitas penggunaan. Valve tampaknya ingin meniru pendekatan Steam Deck, yaitu memberi ruang besar pada kompatibilitas dan eksperimen komunitas.
Desain modular dan fokus kenyamanan
Steam Frame juga disebut membawa desain perangkat keras modular. Baterai ditempatkan di bagian belakang untuk membantu distribusi bobot agar lebih seimbang saat dipakai lama.
Visor yang dapat dilepas dan expansion port untuk aksesori pihak ketiga menjadi elemen penting lain. Pendekatan ini bisa menarik bagi pengguna yang ingin menyesuaikan perangkat untuk bermain, produktivitas, atau kebutuhan eksperimen pengembang.
Laporan referensi juga menyebut adanya microSD storage bersama untuk memudahkan perpindahan data antara Steam Frame, Steam Deck, dan Steam Machine. Jika benar diterapkan, integrasi ini dapat memperkuat ekosistem Valve di luar sekadar game PC tradisional.
Teknologi performa yang jadi pembeda
Valve disebut menyiapkan eye-tracking untuk foveated rendering. Teknologi ini memusatkan daya pemrosesan pada area yang sedang dilihat mata sehingga visual bisa tetap tajam sambil menekan beban sistem dan kebutuhan bandwidth.
Perangkat ini juga dikabarkan memiliki dua radio nirkabel untuk menjaga koneksi tetap stabil saat streaming PC VR. Bagi pengguna VR, latensi rendah sangat penting karena jeda kecil saja bisa memengaruhi kenyamanan dan respons permainan.
Valve bahkan disebut menyiapkan program “Steam Frame Verified”. Dalam laporan referensi, game VR yang lolos standar ditargetkan mampu berjalan minimal 90 fps, sedangkan game layar datar minimal 30 fps.
Tantangan yang perlu diperhatikan
Meski terdengar menjanjikan, ada beberapa catatan penting. Penggunaan lapisan kompatibilitas untuk menjalankan aplikasi Android dan game PC berpotensi menghadirkan kompromi pada performa, stabilitas, atau dukungan fitur tertentu.
Penggunaan panel LCD resolusi tinggi juga membawa pertukaran kualitas. LCD bisa menawarkan gambar tajam dan blur gerak yang lebih rendah, tetapi belum tentu menyamai kontras dan kedalaman hitam panel OLED.
Daya tahan baterai menjadi faktor lain yang belum terjawab. Fitur seperti eye-tracking, streaming nirkabel, dan komputasi mandiri biasanya membutuhkan daya besar, sehingga efisiensi akan menjadi salah satu penentu apakah Steam Frame benar-benar nyaman dipakai harian.
Secara posisi pasar, perangkat ini bisa menjadi penantang serius bagi headset VR tertutup yang mengunci pengguna di satu toko aplikasi. Jika Valve benar-benar menghadirkan Steam Frame dengan dukungan lintas ekosistem, termasuk peluang menjalankan game Meta Quest, persaingan VR akan bergerak ke arah yang lebih terbuka dan memberi lebih banyak pilihan bagi pengguna maupun pengembang.
Source: www.geeky-gadgets.com