Perangkat berbasis Linux kini tidak lagi identik dengan komputer lawas atau distro untuk penggemar teknis. Menjelang perangkat baru yang hadir di 2026, ekosistem Linux justru makin menarik karena masuk ke ranah gaming, VR, dan ponsel yang lebih menekankan privasi.
Ada empat perangkat Linux yang paling layak dipantau karena membawa pendekatan berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan arah baru komputasi berbasis open source. Dari konsol rumahan hingga headset VR, semua produk ini bisa memperlihatkan seberapa jauh Linux telah berubah menjadi platform yang lebih matang dan ramah pengguna.
1. Steam Machine: PC gaming yang terasa seperti konsol
Valve kembali mencoba konsep all-in-one untuk gaming ruang keluarga lewat Steam Machine. Perangkat ini memakai SteamOS yang berbasis Arch, serta hadir di era ketika dukungan game Linux jauh lebih baik berkat Proton, lapisan kompatibilitas buatan Valve yang memungkinkan banyak game Windows berjalan di Linux dengan penurunan performa yang minim.
Daya tarik utamanya ada pada akses ke perpustakaan besar Steam tanpa kerumitan setup PC rakitan. Jika Valve bisa menjaga harga tetap kompetitif dengan PlayStation 5 dan Xbox Series X, Steam Machine berpeluang menarik gamer yang ingin pengalaman plug-and-play tetapi tetap fleksibel seperti PC.
2. Jolla Phone: ponsel Linux yang menonjolkan privasi
Jolla Phone hadir dengan pendekatan yang jelas: ponsel anti-big-tech yang mengutamakan kendali pengguna. Sistem operasinya, Sailfish OS, diklaim menawarkan “no tracking, no calling home, and no hidden analytics,” lalu perangkat kerasnya juga mendukung privasi fisik lewat sakelar yang bisa mematikan mikrofon, Bluetooth, atau aplikasi Android.
Ponsel ini juga tetap kompatibel dengan aplikasi Android, sehingga transisi ke ekosistem Linux mobile tidak terasa terlalu memutus kebiasaan pengguna. Jolla menyebut perangkat ini tersedia dalam dua varian, masing-masing dengan 8GB RAM dan 128GB penyimpanan, atau 12GB RAM dan 256GB penyimpanan, sementara penyimpanan dapat diperluas hingga 2TB lewat microSD.
3. Steam Frame: headset VR yang lebih fleksibel
Steam Frame menjadi salah satu perangkat paling menarik karena coba menyederhanakan pengalaman VR berbasis PC. Valve membekali headset ini dengan SteamOS, prosesor Snapdragon 8 Gen 3, RAM 16GB LPDDR5x, dan resolusi 2160×2160 per mata, yang menunjukkan bahwa perangkat ini tidak sekadar aksesori, tetapi platform mandiri.
Berbeda dari Valve Index yang dulu memerlukan PC sangat kuat dan dibanderol $1000, Steam Frame dirancang lebih mendekati perangkat mandiri seperti Meta Quest 3. Namun keunggulan utamanya ada pada keterbukaan SteamOS dan akses langsung ke ekosistem Steam, yang bisa menjadi alasan kuat bagi gamer PC untuk masuk ke VR tanpa banyak hambatan teknis.
4. Legion Go 2 Gen 2: handheld Windows yang beralih ke Linux
Lenovo Legion Go 2 sebelumnya sudah mendapat perhatian positif karena layar yang indah, performa yang mulus, dan bentuk yang nyaman digenggam. Meski begitu, pengalaman Linux di handheld sering terasa lebih efisien dibanding Windows, terutama dalam hal daya tahan baterai dan respons sistem.
Itulah alasan Legion Go 2 Gen 2, yang memakai hardware sama seperti Legion Go 2 tetapi debut dengan SteamOS, patut dinanti. Pada perangkat handheld lain yang sudah beralih ke SteamOS, pengguna melaporkan performa yang lebih baik dan baterai yang lebih awet dibanding Windows.
Perangkat Linux yang makin relevan di luar desktop
Empat perangkat ini menunjukkan bahwa Linux tidak lagi hanya tumbuh di meja kerja atau laptop pengembang. SteamOS, Proton, dan pendekatan privasi seperti yang dibawa Jolla membuktikan bahwa Linux kini masuk ke perangkat konsumen yang lebih luas, dari gaming sofa sampai ponsel harian.
Tren ini juga selaras dengan meningkatnya jumlah pengguna Steam yang memakai Linux sebagai sistem utama, serta munculnya lebih banyak laptop dan desktop berbasis Linux-first. Dengan dukungan perangkat keras yang makin matang, 2026 berpotensi menjadi tahun penting bagi Linux untuk semakin dekat ke pasar arus utama.









