
Pelangi di Mars tampil sebagai penanda baru bagi film fiksi ilmiah Indonesia karena membawa cerita keluarga, petualangan, dan teknologi produksi modern dalam satu paket. Film ini juga menarik perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif karena dinilai memberi dorongan penting bagi subsektor film nasional yang selama ini masih jarang mengeksplorasi genre sains dan ruang angkasa.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf, Agustini Rahayu, menyebut film ini sebagai lompatan besar karena berani menggarap fiksi ilmiah dengan pendekatan produksi yang lebih maju. Dalam acara intimate screening di Plaza Senayan XXI, Jakarta, ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi Extended Reality berbasis Unreal Engine menunjukkan kemampuan industri film Indonesia untuk mengadopsi inovasi kelas dunia.
Dorongan Baru untuk Fiksi Ilmiah Lokal
Genre fiksi ilmiah memang masih relatif terbatas dalam perfilman nasional, sehingga kehadiran Pelangi di Mars menjadi penting dari sisi keragaman konten. Agustini menilai perkembangan ini menunjukkan bahwa film Indonesia mulai membuka ruang lebih luas bagi cerita yang menggabungkan imajinasi, sains, dan teknologi.
Ia juga menekankan bahwa Kementerian Ekraf terus mendorong penguatan ekosistem film melalui kolaborasi antarpelaku industri kreatif. Menurut Agustini, film seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak sineas untuk bereksperimen dengan teknologi baru tanpa meninggalkan cerita yang dekat dengan kebutuhan penonton.
Film Keluarga dengan Napas Sains
Di tengah pasar yang masih didominasi drama, horor, dan komedi, Pelangi di Mars hadir sebagai film keluarga yang menyasar penonton lintas generasi. Agustini menilai momentum Ramadan hingga Lebaran menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk mencari tontonan berkualitas yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi pesan tentang ilmu pengetahuan dan masa depan Bumi.
Sutradara Upie Guava menjelaskan bahwa ide film ini lahir dari refleksi pribadi bersama produser Dendy Reynando sebagai orang tua. Mereka ingin menghadirkan cerita yang bisa menumbuhkan rasa ingin tahu anak Indonesia terhadap sains, petualangan, dan cita-cita besar.
Fakta Penting tentang Pelangi di Mars
- Tokoh utama film ini adalah Pelangi, gadis berusia 12 tahun yang lahir dan tumbuh di Mars.
- Cerita dimulai setelah Bumi mengalami krisis air yang parah.
- Pelangi ditemani robot bernama Batik, peninggalan sang ibu.
- Misinya adalah mencari mineral langka bernama Zeolith Omega.
- Film ini mengangkat tema persahabatan, harapan, dan tanggung jawab menjaga masa depan Bumi.
Dendy Reynando menyebut film keluarga lokal masih sangat terbatas, sehingga proyek ini dirancang untuk memberi pilihan tontonan bersama orang tua dan anak. Ia juga menjelaskan bahwa produksi film ini melibatkan teknologi virtual production, animasi berbasis game engine, dan motion capture yang dikembangkan bersama tim lokal.
Teknologi Produksi Jadi Sorotan
Keterlibatan teknologi menjadi salah satu pembeda utama Pelangi di Mars di antara film keluarga Indonesia lainnya. Dendy menilai penggunaan extended reality dan virtual production menunjukkan bahwa kreator lokal sudah memiliki kapasitas untuk bekerja dengan standar produksi yang semakin maju.
Riefian Fajarsyah atau Ifan Seventeen juga memberi apresiasi terhadap film ini karena dianggap membawa pesan positif bagi anak-anak. Ia menyebut PFN ikut terlibat karena melihat potensi cerita yang kuat sekaligus teknologi produksinya yang dinilai termasuk yang pertama di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara.
Mengapa Film Ini Menarik Perhatian
| Aspek | Nilai Penting |
|---|---|
| Genre | Fiksi ilmiah keluarga |
| Teknologi | Extended Reality, Unreal Engine, virtual production |
| Tema | Sains, keberanian bermimpi, kepedulian pada Bumi |
| Target penonton | Keluarga dan anak-anak |
| Jadwal tayang | 18 Maret 2026 |
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Maret 2026 dan diposisikan sebagai salah satu tontonan keluarga pada momentum Ramadan menuju Lebaran. Dengan kombinasi cerita anak, pesan edukatif, dan teknologi produksi mutakhir, Pelangi di Mars berpotensi membuka jalan baru bagi film fiksi ilmiah Indonesia agar lebih sering hadir di layar lebar.









