Acer kembali mencoba mengubah Swift 16 AI menjadi laptop yang lebih khas, tetapi langkah itu juga menunjukkan risiko saat sebuah perangkat dipaksa membawa terlalu banyak fitur sekaligus. Pada generasi terbaru ini, Acer menonjolkan trackpad haptic raksasa yang juga bisa dipakai sebagai permukaan menggambar dengan stylus, sementara panel OLED 16 inci tetap menjadi daya tarik utama bagi pengguna yang mengejar kualitas visual tinggi.
Di atas kertas, pendekatan itu terlihat cerdas karena menyasar kalangan kreatif tanpa mengorbankan desain tipis dan ringan. Namun dalam praktiknya, pembaruan ini juga memunculkan pertanyaan penting: apakah Acer benar-benar menyelesaikan masalah pengguna, atau justru menambahkan kompleksitas pada laptop mid-range yang sebelumnya sudah cukup seimbang?
Trackpad raksasa jadi pembeda utama
Acer Swift 16 AI versi terbaru hadir sebagai salah satu laptop awal yang memakai prosesor Intel Core Ultra X7 atau X9 berbasis Panther Lake. Unit uji yang dibahas dalam referensi memakai Intel Core Ultra X7 Series 358H, RAM 32GB LPDDR5X, dan SSD PCIe Gen 5 berkapasitas 1TB.
Fitur yang paling langsung mencuri perhatian adalah trackpad haptic seluas sekitar 7 inci x 4,5 inci. Acer menyebutnya sebagai trackpad haptic terbesar di dunia, dan ukurannya memang dominan hingga hampir tidak terlihat seperti trackpad biasa.
Trackpad ini tidak hanya berfungsi untuk navigasi. Dengan dukungan stylus MPP 2.5, area tersebut juga bisa dipakai untuk menggambar, membuat sketsa, atau memberi input kreatif lain secara langsung di laptop.
Menarik untuk kreator, tetapi tidak selalu nyaman
Bagi ilustrator dan desainer, ide ini punya nilai praktis yang jelas. Permukaan besar yang responsif dapat membantu pekerjaan cepat tanpa harus selalu membawa tablet terpisah.
Tetapi untuk penggunaan harian, desain ini menimbulkan kompromi. Saat mengetik, tangan pengguna mudah mengenai area sentuh tersebut, dan meski ada teknologi palm rejection, false touch tetap terjadi.
Masalah lain muncul karena trackpad menyentuh hingga tepi bodi. Jempol atau pergelangan tangan bisa tanpa sengaja memicu input, sehingga penggunaan terasa kurang natural bagi sebagian orang.
Layar OLED tetap jadi kemewahan paling aman
Selain trackpad, layar OLED 16 inci menjadi nilai jual yang paling konsisten. Resolusi WQXGA+ 2880×1800 dengan refresh rate 120Hz membuat tampilan terlihat tajam, cerah, dan hidup, terutama saat kondisi pencahayaan mendukung.
Namun panel ini juga punya kelemahan khas layar glossy. Refleksi bisa mengganggu ketika laptop dipakai di bawah lampu atas yang keras, sehingga pengalaman visual yang premium tidak selalu optimal di semua tempat.
Poin penting dari Acer Swift 16 AI terbaru
- Prosesor Intel Core Ultra X7 atau X9 berbasis Panther Lake
- RAM hingga 32GB LPDDR5X dan SSD PCIe Gen 5 1TB
- Layar OLED 16 inci, 2880×1800, refresh rate 120Hz
- Trackpad haptic besar yang juga berfungsi sebagai permukaan menggambar
- Bobot sekitar 3,2 pound, ringan untuk kelas 16 inci
Performa bagus, tetapi ada harga yang harus dibayar
Dari sisi performa, Swift 16 AI masih tergolong kompetitif. Hasil pengujian menunjukkan posisinya berada di sekitar laptop Panther Lake lain yang sudah rilis, bahkan hanya sedikit di bawah Dell XPS 14 dengan prosesor serupa.
Daya tahan baterainya juga kuat. Dalam penggunaan kerja kantor biasa pada kecerahan setengah dan Wi-Fi aktif, laptop ini mencatat lebih dari sembilan jam pemakaian, yang berarti cukup aman untuk melewati satu hari kerja penuh.
Tetapi kualitas webcam menjadi salah satu titik lemah yang nyata. Kamera 1080p FHD disebut menghasilkan gambar gelap, grainy, dan cenderung dingin, sehingga kurang cocok untuk kebutuhan rapat video yang mengandalkan tampilan wajah yang bersih.
Bloatware dan perangkat lunak tambahan ikut membebani pengalaman
Selain hardware, pengalaman pakai juga dipengaruhi oleh software bawaan yang cukup ramai. Windows masih membawa iklan, notifikasi antivirus, layanan sistem, dan pop-up game mobile, lalu Acer menambahkannya lagi dengan fitur seperti PurifiedView, presence sensing, dan aplikasi ringkasan berbasis AI.
Bagi sebagian pengguna, fitur-fitur itu terdengar modern dan berguna. Namun bagi pengguna lain, tumpukan software justru membuat laptop terasa lebih rumit dari yang dibutuhkan.
Dengan harga mulai $1,599 untuk versi 16GB dan $1,899 untuk model 32GB, Acer Swift 16 AI berada di area yang cukup sensitif. Laptop ini memang menawarkan layar indah, performa solid, dan daya tahan baterai kuat, tetapi penambahan trackpad raksasa menunjukkan bahwa dalam upaya membuat perangkat lebih unik, Acer juga berisiko membuatnya terlalu spesifik untuk kebutuhan yang sebenarnya lebih luas.







