Microsoft resmi menghentikan aplikasi Remote Desktop dan menggantinya dengan aplikasi baru bernama Windows App. Perubahan ini penting bagi pengguna yang biasa mengakses PC atau lingkungan kerja Windows dari perangkat lain.
Nama penggantinya justru memicu sorotan karena terdengar sangat umum dan berpotensi membingungkan. Meski begitu, fungsi yang dibawa Windows App dinilai lebih luas karena tidak hanya tersedia di Windows, tetapi juga di macOS, iOS, Android, dan browser web.
Remote Desktop diganti, tetapi tidak semuanya hilang
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Microsoft melalui Windows IT Pro Blog, Windows App kini menjadi pengganti klien Remote Desktop. Aplikasi Remote Desktop untuk Windows sendiri telah dihentikan pada 27 Maret.
Namun, perubahan ini tidak berarti seluruh fitur akses jarak jauh Microsoft lenyap dari Windows. Microsoft masih mempertahankan Remote Desktop Connection, yaitu alat bawaan yang sudah terintegrasi di sistem operasi Windows.
Poin ini penting karena banyak pengguna sempat mengira semua layanan Remote Desktop akan dihapus. Faktanya, yang diganti adalah aplikasi klien modernnya, bukan tool bawaan klasik yang selama ini masih dipakai luas di lingkungan bisnis dan administrasi TI.
Apa itu Windows App
Microsoft memperkenalkan Windows App sebagai gerbang untuk mengakses pengalaman Windows dari berbagai perangkat. Pendekatan ini membuat nama “Windows App” kemungkinan dipilih untuk menekankan bahwa aplikasi tersebut menjadi pintu masuk ke Windows, bukan sekadar aplikasi remote desktop biasa.
Di sisi lain, nama itu dianggap terlalu generik. Dalam praktiknya, nama yang sangat umum bisa menyulitkan pencarian informasi, dukungan teknis, atau penelusuran error karena sulit dibedakan dari istilah umum “aplikasi Windows”.
Windows App sendiri bukan aplikasi khusus untuk satu platform. Microsoft merancangnya agar bisa dipakai di beberapa ekosistem sekaligus, sehingga posisinya lebih dekat ke hub akses kerja jarak jauh dibanding aplikasi remote desktop konvensional.
Fitur utama yang dibawa Windows App
Dari penjelasan Microsoft, Windows App membawa sejumlah peningkatan yang menonjol untuk pengguna lintas perangkat. Fokus utamanya terlihat pada kemudahan navigasi dan pengalaman kerja jarak jauh yang lebih fleksibel.
Berikut beberapa kemampuan penting yang disorot:
- Tersedia di macOS, iOS, Android, dan web.
- Mendukung akses Windows dari browser.
- Menawarkan split-screen virtual monitors di browser.
- Menyesuaikan pengalaman navigasi di macOS agar lebih selaras dengan pola penggunaan Apple.
Salah satu fitur yang paling menonjol ada pada versi web. Microsoft menyatakan, “Windows App on the web now supports split-screen layouts.”
Perusahaan itu juga menambahkan bahwa pengguna dapat bekerja pada dua monitor virtual dalam satu jendela browser. Fitur ini ditujukan untuk mendukung skenario kerja berdampingan tanpa memerlukan monitor fisik tambahan.
Kemampuan tersebut relevan untuk pekerja hybrid dan pengguna enterprise yang sering mengakses desktop virtual dari laptop berlayar tunggal. Dengan satu jendela browser, dua area kerja virtual bisa ditampilkan sekaligus untuk membantu multitasking.
Perubahan pada pengalaman macOS
Microsoft juga menyoroti peningkatan pengalaman di macOS. Salah satu pembaruannya adalah penyesuaian pada Option+Tab switcher agar lebih selaras dengan pola navigasi yang familier bagi pengguna perangkat Apple.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Microsoft tidak hanya memindahkan fungsi lama ke nama baru. Perusahaan juga berusaha membuat Windows App terasa lebih natural di platform non-Windows, terutama bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan kebiasaan navigasi native.
Bagi perusahaan, langkah ini bisa mempermudah adopsi di lingkungan kerja yang memakai perangkat campuran. Banyak organisasi kini menggabungkan Windows cloud, Mac, tablet, dan ponsel dalam satu sistem kerja yang sama.
Mengapa namanya diperdebatkan
Secara produk, Windows App menawarkan fungsi yang masuk akal untuk era kerja lintas perangkat. Tetapi secara branding, nama itu berisiko menimbulkan kebingungan karena terlalu luas dan kurang spesifik.
Nama aplikasi biasanya membantu pengguna memahami fungsi sejak awal. Dalam kasus ini, istilah “Windows App” justru terdengar seperti kategori umum, bukan nama produk yang mudah dikenali.
Untuk pengguna biasa, kebingungan mungkin hanya terjadi saat mencari aplikasi di toko aplikasi atau mesin pencari. Bagi admin TI dan pengguna enterprise, nama generik juga bisa menyulitkan saat menelusuri dokumentasi, panduan deployment, atau kode error tertentu.
Apa yang perlu dipahami pengguna
Pengguna yang sebelumnya mengandalkan aplikasi Remote Desktop perlu membedakan dua hal. Remote Desktop sebagai aplikasi klien modern sudah dihentikan, sedangkan Remote Desktop Connection bawaan Windows tetap tersedia.
Ringkasnya, posisi keduanya bisa dilihat seperti ini:
| Komponen | Status |
|---|---|
| Remote Desktop app | Dihentikan |
| Windows App | Pengganti resmi |
| Remote Desktop Connection | Tetap ada di Windows |
Bagi pengguna yang membutuhkan akses lintas platform, Windows App kini menjadi opsi utama dari Microsoft. Sementara itu, pengguna yang masih mengandalkan tool klasik bawaan Windows masih dapat memakainya tanpa harus beralih sepenuhnya ke aplikasi baru.
Perubahan ini menegaskan arah strategi Microsoft yang semakin fokus pada akses Windows dari mana saja. Meski nama Windows App menuai kritik karena terlalu generik, aplikasi ini tetap membawa fungsi yang lebih modern untuk macOS, iPhone, Android, dan browser, termasuk dukungan dua monitor virtual dalam satu jendela web.
Source: www.xda-developers.com