5G Jadi Fondasi Kedaulatan Digital, Taruhan Ekonomi Nasional yang Tak Bisa Ditunda

Indonesia menempatkan 5G sebagai salah satu penopang utama untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Di tengah target menjadi lima besar ekonomi dunia, pembangunan konektivitas digital dinilai tidak lagi sekadar urusan jaringan, tetapi sudah masuk kategori infrastruktur nasional kritis yang menentukan daya saing negara.

Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, menyebut 5G akan menjadi fondasi bagi transformasi digital yang lebih luas, termasuk kecerdasan buatan, komputasi awan, dan integrasi API. Tanpa konektivitas yang kuat, teknologi masa depan itu sulit berjalan optimal dan tidak bisa mendorong produktivitas ekonomi secara maksimal.

5G sebagai fondasi ekonomi digital

Konektivitas yang cepat dan stabil kini menjadi kebutuhan dasar bagi industri, layanan publik, dan masyarakat. Dalam konteks ini, 5G bukan hanya soal kecepatan internet, tetapi juga soal efisiensi, kapasitas, dan kemampuan menopang ekosistem digital yang semakin kompleks.

Ronni menegaskan bahwa Indonesia perlu membangun konektivitas 5G yang kuat sejak sekarang agar aplikasi cerdas dapat tumbuh di atas infrastruktur yang memadai. Langkah itu juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah melalui Indonesia Digital Vision 2045 yang dikeluarkan Komdigi.

Kesenjangan adopsi 5G di kawasan

Data Ericsson Mobility Report menunjukkan Asia Tenggara dan Oseania masih tertinggal dalam penetrasi 5G. Saat ini, langganan 5G di kawasan tersebut baru sekitar 14 persen, jauh di bawah Amerika Utara yang mencapai 79 persen dan Asia Timur Laut yang berada di level 61 persen pada 2025.

Ericsson memperkirakan penetrasi 5G di Asia Tenggara naik menjadi 56 persen pada 2031. Namun, Indonesia disebut perlu bergerak lebih cepat karena negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina sudah lebih dulu memanfaatkan 5G untuk berbagai kasus penggunaan industri dan layanan konsumen.

Efisiensi biaya dan daya saing operator

Bagi operator seluler, 5G juga menawarkan efisiensi investasi yang lebih baik dibanding tetap bertahan di 4G saat trafik data terus melonjak. Teknologi ini memiliki efisiensi spektral lebih tinggi, sehingga dapat mengangkut lebih banyak data dengan spektrum yang sama.

Ronni menjelaskan bahwa dengan ketersediaan spektrum luas seperti di pita 2,6 GHz atau 3,5 GHz, biaya per gigabyte dapat turun signifikan hingga 70 hingga 80 persen. Penurunan biaya produksi data ini penting karena dapat membantu menciptakan layanan yang lebih terjangkau dan menjaga keberlanjutan bisnis telekomunikasi.

  1. Efisiensi spektrum membuat kapasitas jaringan meningkat tanpa harus menambah spektrum secara berlebihan.
  2. Biaya operasional dapat ditekan ketika trafik data tumbuh lebih cepat dari infrastruktur lama.
  3. Layanan digital berpotensi lebih murah jika biaya produksi data turun.
  4. Operator punya ruang lebih besar untuk mengembangkan layanan baru bagi industri dan konsumen.

Kedaulatan digital dan risiko ketergantungan

Di tengah persaingan teknologi global, isu kedaulatan digital menjadi semakin penting. Ronni menekankan bahwa Indonesia perlu menjaga netralitas dan semangat non-blok dalam membangun infrastruktur digital agar tidak bergantung pada satu negara atau satu mitra teknologi saja.

Menurut dia, ketergantungan pada satu ekosistem berisiko bagi infrastruktur kritis yang kini melekat pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Sistem pembayaran, transportasi, layanan publik, hingga aktivitas bisnis modern kini sangat bergantung pada jaringan digital yang aman dan andal.

Diversifikasi vendor jadi strategi penting

Diversifikasi vendor dan keterbukaan pada ekosistem teknologi global dipandang penting untuk memitigasi risiko gangguan. Pendekatan ini memungkinkan Indonesia memperoleh pilihan teknologi yang lebih luas sekaligus menjaga posisi tawar dalam pembangunan jaringan nasional.

Berikut beberapa alasan strategi ini dinilai relevan:

  1. Mengurangi risiko ketergantungan pada satu pemasok teknologi.
  2. Memperkuat ketahanan infrastruktur digital nasional.
  3. Memberi ruang negosiasi yang lebih sehat dalam pengadaan teknologi.
  4. Menjaga fleksibilitas pengembangan jaringan sesuai kebutuhan daerah dan industri.

Dampak 5G bagi UMKM dan industri besar

5G juga dinilai bisa menjadi pengungkit digitalisasi bagi berbagai skala usaha. Dari UMKM sampai industri besar, jaringan generasi baru ini dapat mendukung otomatisasi, pemantauan jarak jauh, analitik real-time, dan efisiensi rantai pasok.

Dengan konektivitas yang lebih mumpuni, pelaku usaha bisa mengadopsi layanan berbasis cloud, kecerdasan buatan, dan integrasi sistem dengan biaya yang lebih terkendali. Hal ini penting karena daya saing ekonomi nasional makin ditentukan oleh kemampuan industri memanfaatkan data dan konektivitas secara cepat.

Mengapa spektrum menjadi kunci

Ketersediaan spektrum yang memadai menjadi faktor penentu keberhasilan adopsi 5G. Tanpa alokasi frekuensi yang tepat dan harga yang terjangkau, operator akan kesulitan mengembangkan jaringan secara luas dan efisien.

Dalam konteks Indonesia, kebijakan spektrum yang sehat perlu berjalan seiring dengan kesiapan teknologi, model bisnis operator, dan kebutuhan industri. Jika ketiga unsur ini selaras, 5G bisa bergerak dari sekadar wacana menjadi infrastruktur yang benar-benar menopang pertumbuhan ekonomi.

Arah kebijakan dan kebutuhan ekosistem

Pemerintah memiliki peran besar dalam memastikan ekosistem 5G tumbuh secara berkelanjutan. Selain penyediaan spektrum, diperlukan regulasi yang mendukung investasi, kepastian pasar, dan dorongan pemanfaatan 5G untuk sektor-sektor produktif.

Di sisi lain, operator dan vendor juga perlu menyiapkan model implementasi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia yang beragam. Pendekatan ini penting agar 5G tidak hanya tumbuh di kota besar, tetapi juga memberi manfaat yang nyata bagi industri, layanan publik, dan masyarakat di berbagai wilayah.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id
Exit mobile version