Banyak pemain mengira polling rate mouse yang lebih tinggi otomatis terasa jauh lebih cepat. Namun, sebuah spreadsheet sederhana dari kreator teknologi dan gaming BaldSquid justru menunjukkan bahwa jawabannya bergantung pada frame rate, refresh rate, dan seberapa besar latensi visual yang benar-benar muncul di layar.
Temuan ini menarik karena mengubah perdebatan yang sering terasa subjektif menjadi lebih terukur. Di PC Gamer, pengujian berbasis rasa permainan disebut sulit dijadikan pegangan, sementara spreadsheet versi 0.6 memberi cara cepat untuk menghitung apakah lonjakan dari 1 kHz ke 2 kHz, 4 kHz, atau 8 kHz benar-benar memberi keuntungan nyata.
Spreadsheet yang Menghitung Latensi, Bukan Sekadar Sensasi
Alat ini tidak memakai pendekatan rumit yang harus dihitung manual dari nol. Pengguna cukup menyalin spreadsheet ke Google Drive, lalu memasukkan polling rate mouse dan data frame rate dari benchmark permainan.
Langkah awalnya cukup jelas. Pengguna diminta menjalankan benchmark manual, misalnya dengan Nvidia FrameView, sambil tetap menggerakkan mouse di dalam game agar hasilnya relevan dengan situasi nyata.
Setelah itu, pengujian diulang dengan polling rate lain untuk dibandingkan. Spreadsheet kemudian mengolah angka rata-rata frame rate dan 1% low, lalu menampilkan apakah peningkatan polling rate memberi pengurangan input latency yang lebih besar daripada penalti visual akibat penurunan frame rate.
Cara Kerja Angka di Balik Hasil
BaldSquid membagi hasilnya ke beberapa sel penting dalam spreadsheet. Sel A18 dan A20 menunjukkan pengurangan input latency ketika polling rate digandakan, sedangkan B18 dan B20 menunjukkan “visual penalty” jika frame rate ikut turun.
Hasil akhir ada di bagian kanan, terutama sel D18 dan D20. Nilai hijau berarti ada pengurangan latensi, sedangkan nilai merah menandakan latensi justru meningkat, sehingga peningkatan polling rate bisa saja tidak layak dipakai.
Berikut ringkasan sederhana dari logikanya:
- Masukkan polling rate mouse yang ingin dibandingkan.
- Jalankan benchmark frame rate saat mouse bergerak di dalam game.
- Ulangi pengujian dengan polling rate lain.
- Masukkan data average dan 1% low ke spreadsheet.
- Baca hasil akhir untuk melihat apakah latensi turun atau naik.
Keuntungan Ada, tetapi Kecil
Salah satu poin paling penting dari alat ini adalah besarnya manfaat yang dihitung. Hasilnya umumnya hanya berada di area sub-milidetik, sehingga perbedaannya sering sangat kecil dan tidak selalu terasa dalam penggunaan harian.
Itu sebabnya PC Gamer mengaku tetap skeptis terhadap polling rate 8 kHz jika dilihat dari pengalaman bermain biasa. Pada mouse yang bagus dan koneksi yang stabil, perbedaan yang dirasakan antara 1 kHz, 2 kHz, 4 kHz, dan 8 kHz bisa tampak minimal, meski angka latensinya memang berubah.
Ada Batasan yang Perlu Diperhatikan
Alat ini juga tidak memasukkan refresh rate monitor ke dalam perhitungan. Kalau monitor masih 60 Hz sementara game berjalan di 240 fps, pengguna tidak akan merasakan seluruh manfaat dari pengurangan input latency yang dihitung spreadsheet.
Spreadsheet juga tidak memperhitungkan daya tahan baterai. Secara umum, menggandakan polling rate berarti konsumsi daya ikut naik, dan lonjakan dari 1 kHz ke 8 kHz disebut bisa memangkas baterai hingga delapan kali lipat.
Berikut gambaran praktis yang bisa dipakai saat menilai hasilnya:
| Faktor | Dampak utama |
|---|---|
| Polling rate naik | Input latency turun |
| Frame rate turun | Visual penalty naik |
| Refresh rate rendah | Manfaat terasa lebih kecil |
| Polling rate lebih tinggi | Baterai lebih boros |
Alat Sederhana untuk Pertanyaan yang Sering Diperdebatkan
Spreadsheet ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti pengujian laboratorium menyeluruh, tetapi justru di situlah nilainya. Untuk gamer yang ingin tahu apakah mouse 8 kHz benar-benar layak dipilih dibanding 1 kHz atau 4 kHz, alat ini memberi jawaban cepat berbasis angka, bukan sekadar impresi sesaat.
Dengan kata lain, spreadsheet sederhana itu membantu menjawab pertanyaan yang selama ini sulit dipastikan hanya lewat feeling: apakah polling rate tinggi benar-benar menambah respons, atau justru hanya menambah beban pada frame rate dan baterai. Dalam banyak kasus, nilai tambahnya memang ada, tetapi ukurannya kecil dan hasil akhirnya sangat bergantung pada kombinasi mouse, monitor, dan performa game yang dipakai.









