Microsoft mulai mengarahkan pengembangan aplikasi Windows ke jalur yang lebih ringan dan efisien. Perusahaan itu kini mendorong lahirnya aplikasi Windows yang sepenuhnya native, bukan lagi aplikasi berbasis web yang bergantung pada WebView dan cenderung menghabiskan lebih banyak memori.
Dorongan ini datang langsung dari Rudy Huyn, Partner Architect di Microsoft, yang meminta para pengembang membentuk tim baru untuk membuat aplikasi Windows. Saat ditanya soal jenis aplikasinya, Huyn menjawab singkat dan tegas: “100% native”.
Apa arti “100% native” untuk Windows
Istilah itu merujuk pada aplikasi yang dibangun langsung dengan komponen Windows seperti WinUI, tanpa menyisipkan konten WebView di dalamnya. WebView pada dasarnya adalah mini browser yang dipakai aplikasi untuk menampilkan konten web atau layanan berbasis halaman internet.
Pendekatan native ini penting karena banyak aplikasi Windows modern ternyata tidak sepenuhnya ditulis sebagai aplikasi asli. Bahkan sebagian elemen di Windows sendiri, termasuk beberapa bagian aplikasi Settings, diketahui berjalan di atas WebView di latar belakang.
Microsoft memilih jalur itu sebelumnya karena lebih cepat dan lebih praktis untuk menghadirkan layanan dan konten. Namun, pilihan tersebut membawa konsekuensi pada performa, terutama saat aplikasi harus memanggil mesin browser Chromium di belakang layar.
Masalah utama: konsumsi memori yang membengkak
Perubahan dari native ke web memang memudahkan pengembangan, tetapi juga menambah beban sistem. Aplikasi berbasis WebView 2 umumnya memicu sesi browser Chromium, yang membuat penggunaan RAM jauh lebih besar dibanding aplikasi native.
Contoh yang paling sering disorot adalah WhatsApp di Windows. Beberapa pengguna melaporkan layar login pada versi WebView dapat menyedot sekitar 300 MB memori, sementara aplikasi native lamanya hanya memakai kurang dari 20 MB.
Setelah aplikasi berjalan, selisihnya makin jelas. Versi baru WhatsApp dilaporkan bisa menghabiskan beberapa gigabyte memori, sedangkan aplikasi native biasanya tetap berada di bawah 300 MB.
Arah baru Microsoft: kembali ke fondasi Windows
Langkah ini sejalan dengan upaya Microsoft memperbaiki fondasi Windows 11. Perusahaan tersebut tidak hanya fokus pada fitur AI, tetapi juga pada hal-hal yang lebih mendasar seperti mengurangi gangguan dari Windows Update, membuat taskbar lebih fleksibel, dan mengurangi keharusan login online saat memasang Windows 11 baru.
Perubahan prioritas itu menunjukkan Microsoft ingin memperbaiki pengalaman harian pengguna. Bagi banyak orang, kestabilan sistem, beban memori yang ringan, dan konsistensi performa sering terasa lebih penting daripada fitur tambahan yang hanya sesekali dipakai.
Mengapa langkah ini relevan bagi pengguna
Aplikasi native memberi sejumlah keuntungan yang langsung terasa di perangkat. Pengguna biasanya mendapat respons aplikasi yang lebih cepat, konsumsi RAM lebih rendah, dan risiko tabrakan performa yang lebih kecil saat banyak aplikasi dibuka sekaligus.
Berikut beberapa manfaat utama yang ingin dikejar Microsoft dengan pendekatan native:
- Penggunaan memori yang lebih hemat.
- Performa aplikasi yang lebih stabil.
- Waktu buka aplikasi yang lebih cepat.
- Beban latar belakang yang lebih ringan.
- Pengalaman Windows yang lebih konsisten.
Tantangan di sisi pengembang
Meski terdengar ideal, membangun aplikasi 100% native bukan pilihan termudah. Pengembangan native umumnya membutuhkan waktu lebih panjang dibanding memanfaatkan komponen web yang sudah siap pakai.
Karena itu, banyak pengembang selama ini memilih WebView sebagai jalan pintas, terutama untuk menampilkan konten, mempercepat pengiriman layanan, atau menyatukan banyak fitur dalam satu kerangka kerja yang lebih sederhana. Masalahnya, cara cepat itu sering dibayar mahal oleh pengguna melalui konsumsi RAM yang lebih besar.
Menariknya, bekas pimpinan pengembangan Windows, Mikhail Parakhin, pernah menyebut proyek internal yang bertujuan memangkas ukuran instalasi Windows dan konsumsi memori idle hingga 20%. Microsoft belum mengumumkan target itu secara publik, tetapi perusahaan telah menetapkan pengurangan baseline memory footprint sebagai tujuan utama.
Jika lebih banyak aplikasi Windows kembali ke jalur native, dampaknya bisa terasa luas pada ekosistem perangkat masa kini dan laptop kelas menengah. Dalam konteks kebutuhan memori yang makin mahal dan ekspektasi pengguna yang makin tinggi, dorongan Microsoft ini tampak sebagai sinyal bahwa Windows ingin kembali unggul lewat efisiensi, bukan sekadar tambahan fitur.









