
Harga tepung beras naik tajam setelah produsen beralih dari beras pecah impor ke beras pecah lokal yang lebih mahal. Dampaknya langsung terasa di UMKM pangan, terutama pembuat kue rumahan, jajanan tradisional, dan aneka keripik yang mengandalkan tepung beras sebagai bahan utama.
Sejumlah pelaku usaha menghadapi keputusan sulit: menaikkan harga jual, mengecilkan ukuran produk, atau menghentikan produksi sementara. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan harga bahan baku di hulu bisa cepat menjalar ke usaha kecil yang bekerja dengan margin tipis.
Harga bahan baku naik karena pasokan berubah
Selama ini, industri tepung beras banyak memakai beras pecah impor karena biayanya lebih rendah. Namun, penghentian impor beras untuk kebutuhan konsumsi maupun industri membuat produsen tepung beras bergeser ke beras pecah lokal.
Perubahan sumber bahan baku ini memicu lonjakan biaya produksi. Pelaku penggilingan padi menyebut harga beras pecah lokal saat ini berada di kisaran Rp10.000–Rp11.000 per kg, jauh di atas harga beras pecah impor yang menurut data Badan Pusat Statistik berada di kisaran 0,341–0,365 USD atau setara Rp5.737–Rp6.141 per kg.
Selisih harga menekan industri tepung
Riyanto Jokonur, pemilik penggilingan padi UD Sekar Putri di Klaten, Jawa Tengah, menjual broken 1 seharga Rp11.000 per kg. Ia menyebut jenis ini punya kualitas terbaik di kelas beras premium dan menjadi stok untuk pabrik tepung.
Di Lampung Selatan, Midi Iswanto mengatakan harga beras pecah umumnya masih di bawah Rp11.000 per kg, dengan kisaran sekitar Rp10.000 per kg. Ia menjelaskan bahwa beras patahan bukan produk utama, melainkan hasil samping penggilingan padi yang jumlahnya kurang dari 10 persen dari total produksi.
Kondisi tersebut membuat biaya bahan baku industri tepung beras ikut terkerek. Jika pabrik harus sepenuhnya memakai beras pecah lokal, harga tepung beras berpotensi terus naik di pasar.
UMKM kuliner ikut terbebani
Dampak kenaikan harga terasa nyata di level usaha kecil. Jumiati, pemilik Berkah Snack di Tengaran, Kabupaten Semarang, mengatakan harga tepung beras kemasan yang biasa dipakai naik menjadi Rp158.500 per karton isi 20 bungkus ukuran 500 gram, atau Rp15.850 per kg, dari sebelumnya Rp14.000 per kg.
Usahanya menghabiskan sekitar dua kuintal tepung beras per hari untuk memproduksi keripik tempe, keripik pare, dan keripik bayam. Karena biaya membengkak, harga jual ikut dinaikkan Rp2.000 per bal.
- Keripik bayam ukuran 2,5 kg dijual Rp90.000 per bal.
- Keripik tempe dan keripik pare ukuran 1,75 kg dijual Rp75.000 per bal.
- Produk dipasarkan ke Solo, Semarang, Ungaran, dan Boyolali.
Jumiati mengatakan beban biaya ini cukup berat bagi UMKM yang masih bergantung pada penjualan harian.
Pelaku kue tradisional memilih mengecilkan ukuran
Di Kampung Kue Pekantingan, Cirebon, Wenny dan Diki menghadapi situasi yang sama. Wenny menyebut harga tepung beras kini Rp7.900 per bungkus ukuran 500 gram, sementara bahan baku lain seperti gula pasir juga ikut naik.
Alih-alih menaikkan harga, Wenny memilih mengecilkan ukuran kue yang dijual Rp1.600 per potong. Ia juga mengalihkan sebagian produksi ke kue yang tidak memakai tepung beras agar usaha tetap berjalan.
Diki, yang membuat kue lapis, talam, cikak, dodol, dan cilok, menyebut harga tepung beras mencapai Rp154.000 per karton atau Rp15.400 per kg. Ia juga terpaksa memperkecil ukuran produk karena daya beli pelanggan belum pulih.
Dampak bagi UMKM terlihat dalam beberapa bentuk
- Harga jual naik, tetapi risiko penolakan konsumen juga meningkat.
- Ukuran produk diperkecil untuk menjaga margin.
- Produksi dikurangi ketika pesanan menurun.
- Beberapa pelaku usaha menghentikan produksi sementara.
- Tenaga kerja ikut terdampak bila penjualan terus melemah.
Kondisi ini menegaskan bahwa stabilitas harga bahan baku sangat penting bagi UMKM pangan. Tanpa pasokan yang lebih terjangkau, tekanan biaya dapat menggerus omzet, menekan produksi, dan mengancam keberlanjutan usaha kecil yang selama ini menyerap banyak tenaga kerja lokal.
Para pelaku usaha berharap ada kebijakan yang bisa menjaga keseimbangan antara pengelolaan beras nasional dan kebutuhan industri pangan kecil. Selama harga tepung beras belum kembali stabil, UMKM kuliner masih harus mencari cara agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya yang datang dari hulu ke hilir.









