
itel S26 Ultra hadir sebagai salah satu smartphone murah yang paling mencuri perhatian karena tampilannya terasa jauh lebih mahal dari banderolnya. Di kelas harga Rp2 jutaan, ponsel ini menawarkan desain 3D Curved, bodi tipis, layar AMOLED besar, dan baterai 6000 mAh yang membuatnya terlihat seperti perangkat di kelas lebih tinggi.
Namun, daya tarik visual itu tidak otomatis membuatnya cocok untuk semua pengguna. Sejumlah spesifikasi penting masih menyisakan kompromi, terutama untuk mereka yang membutuhkan performa tinggi, pengisian cepat, kamera yang lebih serius, atau dukungan jaringan masa depan.
Desain yang terasa premium di kelas entry-level
itel S26 Ultra menjadi salah satu contoh bagaimana desain bisa mengangkat persepsi sebuah ponsel. Layar melengkung 3D Curved memberi kesan flagship, sementara bodinya yang hanya sekitar 6,8 mm membuat perangkat ini tampak elegan saat digenggam.
Bagian belakang juga dirancang dengan rapi lewat modul kamera yang tertata modern dan finishing halus. Sertifikasi IP65 menambah nilai karena perangkat ini tahan terhadap debu dan percikan air, sesuatu yang belum umum di segmen Rp2 jutaan.
Layar besar, terang, dan responsif
Sektor layar menjadi salah satu nilai jual terkuat itel S26 Ultra. Ponsel ini memakai panel AMOLED 6,78 inci dengan resolusi FHD+ dan refresh rate hingga 144Hz, sehingga animasi terasa mulus untuk aktivitas harian.
Tingkat kecerahan yang diklaim mencapai 4500 nits juga menarik perhatian karena membuat tampilan tetap jelas di bawah cahaya matahari. Kombinasi ini membuat ponsel cocok untuk konsumsi konten, media sosial, dan penggunaan luar ruangan.
Spesifikasi cukup, tetapi tetap ada batasnya
Untuk performa, itel S26 Ultra mengandalkan chipset Unisoc T7300 berbasis fabrikasi 6nm. Chip ini dinilai cukup untuk kebutuhan harian, seperti chatting, browsing, streaming, dan gaming ringan hingga menengah.
Perangkat ini juga dibekali RAM 8GB dengan ekspansi virtual dan penyimpanan hingga 256GB. Bagi pengguna kasual, konfigurasi tersebut sudah memadai, tetapi untuk kebutuhan berat, ruang geraknya tetap terbatas.
Kamera dan baterai: unggul di atas kertas, namun tidak semuanya sempurna
itel menyematkan kamera utama 50MP dan kamera depan 32MP pada S26 Ultra. Angka tersebut terlihat kompetitif untuk kelas harganya dan cukup menjanjikan untuk foto harian serta selfie media sosial.
Tetapi, kualitas akhirnya tetap berada di level menengah, sehingga pengguna yang mengutamakan fotografi serius kemungkinan belum akan puas. Di sisi lain, kehadiran baterai 6000 mAh menjadi modal besar untuk penggunaan panjang sepanjang hari.
| Fitur | itel S26 Ultra |
|---|---|
| Layar | AMOLED 6,78 inci, FHD+, 144Hz |
| Chipset | Unisoc T7300 6nm |
| RAM | 8GB + ekspansi virtual |
| Penyimpanan | Hingga 256GB |
| Kamera belakang | 50MP |
| Kamera depan | 32MP |
| Baterai | 6000 mAh |
| Pengisian daya | 18W |
| Fitur tambahan | NFC, sidik jari di layar, IP65 |
Mengapa tidak cocok untuk semua pengguna
Masalah utama itel S26 Ultra bukan pada tampilannya, melainkan pada kompromi fitur yang bisa terasa mengganggu bagi sebagian pengguna. Pengisian daya 18W tergolong lambat untuk baterai 6000 mAh, sehingga waktu isi ulang bisa lebih dari dua jam.
Bagi pengguna yang terbiasa dengan fast charging, hal ini bisa menjadi kendala nyata. Selain itu, ponsel ini belum mendukung jaringan 5G, padahal kebutuhan konektivitas jangka panjang semakin bergeser ke sana.
Siapa yang paling cocok memakai perangkat ini
- Pengguna kasual yang mengutamakan desain mewah di harga terjangkau.
- Pengguna yang lebih sering memakai ponsel untuk media sosial, streaming, dan komunikasi harian.
- Pengguna yang membutuhkan baterai besar untuk pemakaian lama.
- Konsumen yang mencari fitur tambahan seperti NFC dan sensor sidik jari di layar.
Sebaliknya, ponsel ini kurang ideal untuk gamer kompetitif karena chipset-nya belum cukup kuat menjaga performa stabil pada game berat. Tidak adanya slot microSD juga bisa jadi hambatan bagi pengguna yang suka menyimpan banyak file besar.
Layar melengkung yang menjadi daya tarik utama juga perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Bagi pengguna yang sering ceroboh atau aktif membawa ponsel dalam kondisi mobilitas tinggi, risiko kerusakan layar dan biaya perbaikan yang lebih mahal bisa menjadi pertimbangan serius.









