Musk Diam Saat Artemis II Sukses, Insinyur Soroti Sunyi SpaceX dan Isu Cemburu?

Peluncuran Artemis II memicu perhatian besar di dunia antariksa. Misi berawak NASA menuju Bulan itu menjadi penerbangan manusia ke sekitar Bulan yang pertama dalam lebih dari setengah abad, tetapi sorotan publik juga tertuju pada hal lain: minimnya respons dari Elon Musk dan lingkungan SpaceX.

Pertanyaan “apakah Elon Musk cemburu?” muncul setelah sejumlah pengguna media sosial menyoroti keheningan tersebut. Spekulasi itu menguat ketika seorang insinyur kedirgantaraan secara terbuka menyebut kubu pendukung SpaceX tampak “diam” setelah keberhasilan peluncuran NASA.

Artemis II jadi momentum besar NASA

NASA meluncurkan Artemis II untuk perjalanan sekitar sepuluh hari ke Bulan. Antusiasme publik sangat tinggi, dengan lebih dari 400.000 orang menghadiri peluncuran di Kennedy Space Center, Cape Canaveral, Florida.

Daya tarik misi ini juga terlihat di platform digital. Tayangan peluncuran di YouTube menembus lebih dari 17 juta penonton, sementara sejumlah tokoh publik seperti CEO Google Sundar Pichai dan aktor Tom Hanks ikut memberi perhatian pada momen tersebut.

Artemis II penting bukan hanya karena aspek teknis. Misi ini juga menjadi simbol kembalinya program eksplorasi manusia Amerika Serikat ke lintasan Bulan setelah puluhan tahun.

Mengapa keheningan Elon Musk jadi sorotan

Elon Musk selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal soal eksplorasi antariksa. Ia berulang kali membahas ambisi kolonisasi Mars dan memosisikan SpaceX sebagai pendorong utama era baru penerbangan antariksa.

SpaceX sendiri telah mengguncang industri dengan Falcon 9 dan Falcon Heavy. Kedua roket itu dikenal karena pendekatan penggunaan ulang yang menekan biaya peluncuran dibanding model roket konvensional.

Di saat yang sama, SpaceX juga masih menguji Starship. Sistem ini diproyeksikan menjadi roket paling kuat yang pernah dibangun manusia jika berhasil beroperasi penuh sesuai target perusahaan.

Karena rekam jejak itu, absennya komentar Musk tentang Artemis II terasa janggal bagi sebagian pengamat. Di akun X miliknya, yang biasanya memuat opini spontan tentang teknologi, politik, dan ruang angkasa, hampir tidak ada tanggapan langsung terhadap keberhasilan peluncuran tersebut.

Insinyur kedirgantaraan ikut menyoroti

Perbincangan memanas setelah insinyur kedirgantaraan Christopher David mengunggah kembali prediksi lamanya tentang Starship di X. Dalam diskusi lanjutan, ia menyinggung tantangan desain Starship yang menurutnya terlalu berat untuk membuat kedua tahap tetap dapat digunakan ulang sambil membawa muatan berarti ke orbit rendah Bumi.

Dalam salah satu balasan, seorang pengguna menulis bahwa “Twitterphere” Tesla dan SpaceX tampak sangat redup terhadap suksesnya peluncuran Artemis NASA. David lalu membalas singkat, “Yes. They’re jealous.”

Pernyataan itu cepat memicu diskusi luas. Namun, komentar tersebut tetap berada pada level opini pribadi di media sosial dan belum didukung pernyataan resmi dari Musk maupun SpaceX.

Fakta yang diketahui sejauh ini

Hingga kini, tidak ada bukti publik yang menunjukkan Musk benar-benar iri terhadap Artemis II. Yang dapat dipastikan hanya satu hal: ia belum memberikan komentar substantif soal misi itu.

Penelusuran pada akun X Musk menunjukkan hanya ada satu referensi tidak langsung mengenai Artemis II. Itu pun muncul saat ia me-repost unggahan pengguna lain yang membandingkan tanggapan ChatGPT dan Grok, lalu ia hanya menulis, “Grok.”

Kondisi itu membuat ruang tafsir tetap terbuka. Sebagian publik melihatnya sebagai bentuk ketidakpedulian, sedangkan yang lain menilai Musk mungkin memilih tidak mengomentari misi yang bukan dipimpin SpaceX.

Kontrak Artemis III dan konteks persaingan

Ada faktor lain yang membuat spekulasi itu semakin ramai. NASA sebelumnya sempat memberikan kontrak senilai US$4.4 billion kepada SpaceX untuk varian lunar Starship dalam misi Artemis III.

Namun, NASA kemudian membuka kembali kontrak tersebut setelah menyebut ada keterlambatan dalam pengembangan SpaceX. Langkah itu dipandang sebagian pengamat sebagai pukulan besar karena Artemis III semula akan sangat bergantung pada teknologi pendaratan lunar dari SpaceX.

Artemis II sendiri menggunakan Space Launch System atau SLS milik NASA. Roket ini sejak lama diposisikan sebagai tulang punggung program Artemis, meski sering dibandingkan dengan pendekatan SpaceX yang lebih agresif dalam menekan biaya dan mempercepat iterasi teknologi.

Pada pertengahan musim panas beberapa waktu lalu, Musk pernah menyatakan bahwa Starship menawarkan jalan menuju kapasitas muatan ke Bulan yang jauh lebih besar daripada yang saat ini diantisipasi dalam program Artemis. Pernyataan itu menunjukkan bahwa ia melihat Starship sebagai solusi yang lebih ambisius untuk eksplorasi Bulan jangka panjang.

Apa yang bisa dibaca dari situasi ini

Setidaknya ada tiga fakta yang relevan untuk membaca polemik ini:

  1. Artemis II sukses menarik perhatian publik global.
  2. Elon Musk belum memberi komentar langsung yang berarti.
  3. SpaceX punya kepentingan besar dalam program lunar NASA, terutama lewat Starship.

Dari fakta itu, dugaan kecemburuan masih bersifat spekulatif. Namun, keheningan seorang tokoh seaktif Musk memang mudah dibaca sebagai sinyal, apalagi ketika NASA sedang menikmati momen penting dengan roket SLS dan program Artemis yang kembali menjadi pusat perhatian dunia antariksa.

NASA selanjutnya masih menargetkan pendaratan astronaut di permukaan Bulan pada Artemis IV. Di sisi lain, masa depan peran SpaceX dalam agenda lunar tetap akan sangat ditentukan oleh kemajuan pengujian Starship, yang hingga kini masih menjadi elemen paling ambisius sekaligus paling diawasi dalam perlombaan menuju Bulan.

Source: www.indiatoday.in
Exit mobile version