Artemis II Menyaksikan Gerhana Duduk Diam di Balik Jendela Orion, Bulan dan Bumi Terasa Tak Nyata

Empat astronot misi Artemis II dibuat terpukau saat melihat fenomena langka dari jendela kapsul Orion ketika melintas dekat Bulan. Salah satu momen paling mencuri perhatian terjadi saat mereka menyaksikan gerhana matahari dari sisi jauh Bulan, lengkap dengan korona Matahari dan cahaya Bumi yang memantul di permukaan Bulan.

Pilot misi Victor Glover menggambarkan pengalaman itu sebagai sesuatu yang sulit dijelaskan dengan bahasa manusia. Dalam percakapan dengan pusat kendali, ia bahkan berkelakar bahwa manusia mungkin belum berevolusi untuk benar-benar memahami pemandangan seindah itu, meski ia mengakui bahwa pengamatan tersebut tidak punya nilai ilmiah langsung.

Fenomena yang membuat kru Artemis II takjub

Pemandangan yang dilihat kru Artemis II bukan sekadar lintasan biasa di ruang angkasa, melainkan kombinasi langka dari gerhana, cahaya Bumi, dan kontras gelap-terang di sekitar Bulan. Glover menyebut korona Matahari tampak sangat terang hingga membentuk halo di hampir seluruh bagian Bulan, sementara sisi yang menghadap Bumi memantulkan cahaya yang membuat pemandangan itu terasa semakin surealis.

Salah satu astronot lain juga merespons dengan kekaguman serupa dan menyebut apa yang mereka lihat sebagai sesuatu yang benar-benar spektakuler. Ia mengatakan otaknya seolah kesulitan memproses keindahan di luar jendela Orion, bahkan sampai merasa perlu menciptakan kata baru untuk menggambarkannya.

Gerhana dari sisi jauh Bulan yang jadi sorotan

Momen gerhana di misi Artemis II berlangsung sekitar 35 menit, dan menjadi salah satu pengalaman visual paling penting dalam penerbangan uji ini. Bagi para astronot, keadaan tersebut memberikan sudut pandang yang sangat jarang terjadi, karena mereka melihat Matahari tertutup Bulan dengan latar ruang angkasa yang memperlihatkan bintang dan planet lain di kejauhan.

Glover menggambarkan Bulan seperti orb hitam yang tampak abu-abu dan melayang di dalam kegelapan, sementara Bumi terlihat sangat terang di sekitarnya. Deskripsi itu menunjukkan betapa kontrasnya pemandangan antariksa dari jarak jauh, sekaligus menegaskan mengapa momen tersebut begitu berkesan bagi kru di dalam Orion.

Kerja kru di balik momen visual yang langka

Selama observasi berlangsung, kru Artemis II dibagi menjadi dua kelompok kerja, yakni tim jendela dan tim kabin. Angela Garcia, petugas sains misi Artemis, menjelaskan bahwa tim kabin bertugas mendukung pengamatan dengan mengoperasikan sensor dan kamera yang telah disiapkan NASA.

Kerja sama itu berjalan di tengah gangguan komunikasi singkat berupa hilangnya sinyal forward link selama lima menit. Meski begitu, data dan pengamatan para astronot tetap berhasil dikirim ke tim sains di Bumi, sehingga dokumentasi terhadap fenomena langka itu tidak terputus.

Mars ikut masuk dalam percakapan kru

Di tengah kekaguman terhadap pemandangan Bulan dan gerhana, Glover sempat melihat objek berwarna oranye kemerahan di kejauhan. Pusat kendali misi kemudian mengonfirmasi bahwa objek itu kemungkinan besar adalah planet Mars.

Momen itu langsung dikaitkan oleh tim kendali dengan rencana besar eksplorasi manusia di masa depan. Mereka menilai pengamatan tersebut sebagai kesempatan untuk menatap tujuan berikutnya, yakni Planet Merah, yang telah lama menjadi target ambisi jangka panjang program antariksa berawak.

  1. Artemis II menjadi misi bersejarah karena membawa empat astronot untuk uji terbang berawak di sekitar Bulan.
  2. Selama perjalanan, kru mengamati gerhana matahari dari sisi jauh Bulan selama sekitar 35 menit.
  3. Mereka juga melihat korona Matahari, cahaya Bumi, serta objek yang diduga Mars.
  4. Pengamatan didukung tim kabin dengan sensor dan kamera NASA.
  5. Gangguan sinyal singkat tidak menghentikan dokumentasi ilmiah misi.

Artemis II dan arti penting pengamatan ini

Pengalaman visual kru Artemis II memperlihatkan sisi lain misi antariksa berawak, yaitu perpaduan antara sains, teknologi, dan pengalaman manusia yang sangat emosional. NASA memanfaatkan misi ini bukan hanya untuk pengujian sistem, tetapi juga untuk memahami bagaimana astronot merespons lingkungan ekstrem di luar orbit Bumi.

Fenomena yang mereka lihat menjadi pengingat bahwa penerbangan ke Bulan masih menyimpan momen-momen langka yang sulit ditiru di Bumi. Saat kapsul Orion melanjutkan perjalanan, para astronot tetap mencatat dan merekam setiap detail yang mereka temui, termasuk pemandangan gerhana, cahaya Bumi, dan objek-objek langit yang mengisyaratkan betapa luasnya jalur eksplorasi manusia di ruang angkasa.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button